Sukses

Cancel Culture, Tindakan yang Tepat atau Salah?

Cancel culture merupakan praktik menarik simpati masyarakat luas untuk memboikot seseorang atas kesalahan mereka. Tepatkah cara ini menurut psikolog?

Belakangan, istilah cancel culture semakin populer di media sosial. Menurut Verywell Mind, cancel culture merupakan praktik menarik simpati masyarakat untuk memboikot seseorang maupun kelompok tertentu yang pernah melakukan kesalahan di masa sekarang atau masa lalu.

Cancel culture umumnya menyasar tokoh publik, perusahaan, maupun orang berpengaruh. Namun, hari ini, cancel culture bisa menyerang siapa pun yang dianggap dan disepakati masyarakat luas sebagai orang yang tidak layak memperoleh dukungan, dengan atau tanpa proses hukum.

Lebih jauh, seseorang atau kelompok yang di-cancel tersebut tidak diberikan kesempatan untuk belajar dari kesalahannya. Terduga pelaku umumnya diminta agar disingkirkan dari lingkungan maupun komunitas tempat dia bekerja dan beraktivitas. 

Lantas, bagaimana psikolog memandang praktik ini? Apakah cancel culture merupakan tindakan yang tepat? Simak pemaparannya di sini.

1 dari 3 halaman

Dampak Cancel Culture

Cancel culture dinilai efektif dalam memerangi seksisme, rasisme, berbagai jenis pelecehan, maupun perbuatan merugikan yang berbahaya orang lain. Hal ini disampaikan Lisa Nakamura, profesor dari University of Michigan, Amerika Serikat.

Artikel lainnya: Awas, Sering Menahan Marah Bikin Perasaan Semakin Sensitif

“Pada dasarnya, ketika seseorang/kelompok pernah mengatakan atau melakukan kesalahan di masa sekarang maupun masa lalu, masyarakat punya kekuatan untuk berhenti mendukung dan menyingkirkan mereka dari lingkungannya secara efektif,” kata dia, mengutip New York Times.

“Hal ini dapat membuat seseorang menjadi lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka melalui cara yang tidak mungkin dilakukan di masa lampau. Cancel culture mencegah orang-orang menyebalkan melakukan dan mengatakan hal-hal yang buruk,” Lisa menambahkan.

Cancel culture dapat mendorong perubahan sosial maupun mengatasi beragam ketidaksetaraan. Contohnya, pada tahun 2016 ketika sejumlah aktor Hollywood ramai memboikot ajang penghargaan film, Oscar karena didominasi nominator kulit putih. 

Tiga tahun berselang, Oscar mencatat nominator kulit hitam terbanyak sepanjang sejarah perhelatan film terbesar itu. Dampak dari cancel culture ini membuat banyak orang tergerak untuk tidak mengamini rasisme dalam industri film.

Namun, meski memiliki dampak positif dengan mendorong perubahan sosial, cancel culture dapat pula berdampak secara psikologis.

Artikel lainnya: Mengenal Istilah Glow Up Secara Mental menurut Psikolog

Disampaikan psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., hal ini berlaku bagi mereka yang menggalakkan cancel culture, mereka yang di-cancel, maupun masyarakat yang menyaksikan.

Berikut ulasannya.

1. Mereka yang Menggalakkan Cancel Culture

Ketika melancarkan cancel culture terhadap seseorang maupun kelompok tertentu, tanpa disadari, hal ini dapat menumbuhkan ego pribadi. 

Bukan tidak mungkin, Anda terpancing emosi sehingga merasa paling benar dan nir-kesalahan. Akibatnya, Anda lebih mudah menghakimi orang lain, tapi kesulitan mengevaluasi diri sendiri.

Terlebih ketika cancel culture jadi ajang caci maki dan penyebaran kebencian kepada orang yang tidak Anda senangi.

“Dampaknya bisa membuat (orang yang menggalakkan cancel culture) semakin berani melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak tepat dilakukan (bullying),” jelas Ikhsan.

2. Mereka yang Di-cancel

Ketika praktik cancel culture berubah menjadi ajang perundungan, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental orang yang “di-cancel”. Mereka yang bisa merasa terisolasi secara sosial, dikucilkan, dan kesepian.

Artikel lainnya: Kapan Waktu yang Tepat Memberitahu Status Anak Angkat?

“Mereka juga dapat merasa dirinya tidak berharga sehingga mengalami depresi,” kata Ikhsan.

Terlebih, mereka tidak diberikan kesempatan maupun ruang dialog guna memahami dan memperbaiki kesalahan mereka.

Kendati demikian, jika Anda salah satu dari orang yang di-cancel, stigma negatif yang disematkan banyak orang dapat dijadikan bahan evaluasi.

Anda harus menyadari kesalahan tersebut, memperbaikinya, dan memastikan agar hal serupa tidak terjadi di kemudian hari.

3. Masyarakat yang Menyaksikan

Cancel culture tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis mereka yang melancarkan praktik tersebut, maupun orang yang di-cancel. Pemboikotan itu juga dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat yang menyaksikan.

Bagi penonton, praktik cancel culture dapat menumbuhkan rasa takut. Pasalnya, pemboikotan yang dilakukan banyak orang dapat menimbulkan kecemasan seakan orang lain akan membongkar tindakan keliru mereka di masa lalu.

Artikel lainnya: Manfaat Nonton Drama Korea untuk Kesehatan Mental

Akibatnya, alih-alih ikut mendukung dan menyuarakan ketidakadilan yang disaksikan, banyak orang memilih diam. Tidak berhenti sampai di situ, usai huru-hara cancel culture tersebut berakhir, beberapa orang dapat dihinggapi rasa bersalah.

Penyebabnya, karena ketika ada kesempatan, mereka merasa tidak membela seseorang yang tertindas.

2 dari 3 halaman

Apakah Cancel Culture Tepat Dilakukan?

Ikhsan mengatakan, tepat atau tidaknya cancel culture dilakukan, dapat dipertimbangkan berdasarkan permasalahannya.

“Karena setiap orang tentu pernah melakukan kesalahan, tapi dengan cara di-cancel atau boikot itu jadi kurang tepat. Terlebih, kita sampai membully, menghakimi, atau mencaci maki individu tersebut,” katanya.

“Jika sampai mengganggu dan menciptakan kebencian, maka harus dipertimbangkan ulang (perilaku cancel culture),” dia menambahkan.

Hari-hari ini, setiap orang dapat dengan mudah meluapkan kemarahan, memboikot, dan mengumbar kesalahan orang di media sosial. Karena itu, Ikhsan menganjurkan, sebelum Anda benar-benar menggalakkan cancel culture, coba pikirkan matang-matang, apakah praktik ini pantas atau tidak.

“Selain itu, sampaikan kritik dengan bahasa dan cara yang baik, tidak membully atau memberikan komentar negatif,” saran Ikhsan.

Jika ingin bertanya lebih lanjut seputar kesehatan mental, konsultasi ke psikolog via LiveChat.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar