Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Penyebab Hyperventilation Syndrome atau Sindrom Hiperventilasi

Penyebab Hyperventilation Syndrome atau Sindrom Hiperventilasi

Sindrom hiperventilasi membuat tubuh kekurangan karbon dioksida. Kondisi bisa disebabkan gangguan fisik maupun psikis.

Hiperventilasi merupakan kondisi ketika Anda bernapas dengan sangat cepat. Pola pernapasan yang tidak normal dan berlebihan ini melebihi kebutuhan metabolisme tubuh.

Ketika mengalami hiperventilasi, Anda mengembuskan napas lebih banyak daripada yang dihirup. Kondisi ini membuat kadar karbon dioksida yang dikeluarkan dan oksigen yang dihirup tubuh tidak seimbang.

Karena dikeluarkan terlalu cepat, tubuh kemudian kekurangan karbon dioksida. Hal ini menyebabkan pembuluh yang memasok darah ke otak mengalami penyempitan.

Berkurangnya suplai darah ke otak memicu gejala pusing hingga kesemutan. Bahkan, dalam kondisi parah, hiperventilasi menyebabkan hilangnya kesadaran.

Hiperventilasi umumnya disebabkan oleh respons panik tubuh terhadap ketakutan, stres maupun fobia. Meski jarang terjadi, pola pernapasan cepat ini juga dapat berlangsung berulang kali, dan dikenal sebagai sindrom hiperventilasi.

Artikel lainnya: Apa Saja Penyebab Down Syndrome?

1 dari 4 halaman

Penyebab Sindrom Hiperventilasi

Disampaikan oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, terdapat beragam penyebab hiperventilasi syndrome. Secara garis besar, kondisi ini dapat dipicu oleh faktor psikis maupun fisik seseorang. Berikut penjelasannya.

1. Faktor Psikis

Depresi, rasa marah dan kecemasan berulang dapat menyebabkan terjadinya sindrom hiperventilasi. Pasalnya, ketika gangguan psikologis terjadi, tubuh mengeluarkan hormon adrenalin secara terus-menerus.

“Karena, dalam keadaan terdesak, tubuh akan masuk ke mode ‘fight or flight’. Untuk membuat gerakan dan keputusan cepat, terpiculah hormon yang namanya adrenalin yang sebabkan berbagai perubahan di tanda vital tubuh, termasuk frekuensi detak jantung dan frekuensi napas,” jelas dr. Astrid.

Peningkatan frekuensi napas akibat lonjakan hormon adrenalin tersebut dapat memicu hiperventilasi.

2. Faktor Fisik

Sindrom hiperventilasi menurut dr. Astrid juga dapat dipicu oleh kondisi kesehatan fisik.

“Misalnya karena ada serangan asma ringan, seseorang menjadi ‘awas’ dengan pernapasannya sehingga masuk ke ‘mode" hiperventilasi’,” jelasnya.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal Herald, hiperventilasi juga dapat memperparah kondisi asma. Bahkan, dokter kerap mengira sindrom hiperventilasi yang dialami seseorang merupakan asma.

Selain itu, sindrom hiperventilasi juga dapat terjadi karena kelainan sistem saraf. “Kondisi ini menyebabkan gangguan saraf yang mempersarafi otot pernapasan,” kata dr. Astrid.

Artikel lainnya: Sindrom Good Girl, Penyebab Wanita Sulit Bahagia

Selain itu, hiperventilasi juga dapat disebabkan gangguan fisik lainnya, seperti:

Gangguan fisik penyebab hiperventilasi syndrome juga dapat terjadi karena penggunaan stimulan maupun overdosis obat seperti aspirin.

2 dari 4 halaman

Gejala Sindrom Hiperventilasi

Adapun gejala sindrom hiperventilasi dapat berlangsung selama 20-30 menit. Berikut gejalanya:

  • Sesak napas
  • Berkeringat
  • Merasa cemas, gugup, atau tegang
  • Jantung berdetak cepat
  • Sering mendesah atau menguap
  • Pusing dan vertigo
  • Keseimbangan terganggu
  • Mati rasa atau kesemutan di area tangan, kaki, atau di sekitar mulut
  • Dada terasa sesak dan nyeri

Artikel lainnya: Kenali Ciri-Ciri Bayi Down Syndrome

3 dari 4 halaman

Komplikasi Sindrom Hiperventilasi

Sindrom hiperventilasi dapat menyebabkan komplikasi berupa hipokapnia. Kondisi ini mengganggu keseimbangan asam-basa dalam darah. Akibatnya, Anda dapat mengalami pingsan hingga kejang.

Selain itu, sindrom hiperventilasi juga dapat menyebabkan sejumlah komplikasi tergantung faktor penyebabnya.

Sindrom hiperventilasi bisa menjadi masalah serius, terutama jika gejala yang ditimbulkannya memburuk setelah Anda menjalani perawatan di rumah.

Oleh karena itu, segera hubungi dokter jika Anda mengalami perburukan gejala sindrom hiperventilasi, serta mengalami demam tinggi.

Jika Anda ingin bertanya lebih lanjut seputar info kesehatan lainnya, segera konsultasikan kepada dokter via Live Chat dari aplikasi Klikdokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar