Sukses

Berhubungan Seks Sebelum Menikah Bisa Pengaruhi Mental?

Berhubungan intim sebelum menikah ternyata dapat berdampak pada kesehatan mental. Apa akibat berhubungan intim sebelum menikah pada psikologi Anda?

Berhubungan intim sebelum menikah masih menjadi kontroversi di Indonesia. Pasalnya, tindakan ini dianggap masih bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang dipegang oleh sebagian besar orang Indonesia.

Namun, dengan mengesampingkan kedua nilai tadi, ada akibat berhubungan intim sebelum menikah pada mental seseorang. Seperti apa dampaknya? Simak penjelasan psikolog berikut.

1 dari 3 halaman

Dampak Psikologis Berhubungan Intim Sebelum Menikah

Dijelaskan Ikhsan Bella Persada,M.Psi., Psikolog, sebenarnya berhubungan seksual (making love/ML) pranikah bagi sebagian pasangan dianggap biasa saja. Hal tersebut mungkin tidak akan berdampak spesifik pada mental mereka.

Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa ada sebagian orang yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah dengan terpaksa. Biasanya, hal ini terjadi karena bujukan pasangan, diancam, atau takut untuk ditinggalkan.

“Ada juga orang yang sebenarnya tidak mau melakukannya (hubungan seks pranikah). Kondisi ini disebut dengan sexual compliance. Dari sexual compliance ini bisa berdampak ke psikologis orang yang melakukan hubungan seksual pranikah,” ucap Ikhsan.  

Artikel lainnya: Kiat Ajak Remaja Hindari Seks Pranikah

Menurut Ikhsan, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada psikologis seseorang yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah dengan terpaksa. Berikut kemungkinan dampaknya:

  1. Guilty Feeling

Menurut Psikolog Ikhsan, bagi seseorang yang masih memegang nilai-nilai agama dan nilai budaya lingkungan sekitar, berhubungan intim sebelum menikah dapat menimbulkan guilty feeling

“Saat melakukan hubungan intim pranikah, si individu merasa melanggar nilai yang ada dan selama ini dipegang. Selain itu, bisa menimbulkan perasaan tidak berharga karena merasa hal yang sudah sangat dijaganya (virginity) saat ini sudah tidak ada,” ucap Ikhsan.

  1. Adanya Ketergantungan Emosional

Melansir dari Moral Revolution, secara ilmiah, hubungan seksual dapat melibatkan seseorang secara hormonal, neurologis, dan psikologis. Artinya, akan terbentuk ikatan yang kuat secara mental, emosional, dan fisik, terutama ketika hal itu dilakukan berulang-ulang.

Bagaimana ini bisa terjadi? Sederhananya, segala jenis aktivitas seksual yang terjadi melepaskan bahan kimia di otak. Untuk wanita utamanya hormon oksitosin, sementara pada pria adalah vasopresin. 

Artikel lainnya: Anak Akui Sudah Berhubungan Seks, Apa yang Harus Ortu Lakukan?

Oksitosin memungkinkan seorang wanita untuk terikat dengan orang-orang yang paling penting dalam hidupnya. Hormon ini membantu meredakan stres, menciptakan perasaan tenang dan dekat, yang mengarah pada peningkatan kepercayaan. 

Hal itu menyebabkan wanita memiliki keterikatan dengan pasangan seksualnya. Begitu juga dengan hormon vasopressin. Cara kerja vasopresin sangat mirip dengan oksitosin, bedanya hormon ini dilepaskan di otak pria.

Ada juga hormon yang disebut endorfin yang dilepaskan selama aktivitas seksual, dan hormon itu memengaruhi kedua jenis kelamin.

Endorfin adalah apa yang kita sebut dengan hormon bahagia. Hormon ini sangat adiktif dan menyebabkan seseorang dapat ketergantungan pada hubungan seksual sebelum menikah. 

“Bisa ada ketergantungan secara emosional dengan pasangan, sehingga memiliki kecemasan atau ketakutan akan ditinggalkan oleh pasangan. Pada akhirnya, dia bersedia untuk melakukan apa pun agar tidak ditinggalkan,” ucap Ikhsan.

Artikel lainnya: Bikin Jurnal Seks Bisa Tingkatkan Kebahagiaan Anda dan Pasangan

2 dari 3 halaman

Bagaimana Mengatasi Gangguan Mental yang Terjadi?

Akibat sering ML sebelum menikah dengan paksaan, mungkin Anda akan merasakan harga diri yang rendah. Anda dapat sulit mengembalikan kepercayaan diri atau terus menyalahkan diri sendiri.

Menurut psikolog Ikhsan, jika hal itu Anda alami, sebaiknya cari orang yang dapat dipercaya untuk menceritakan perasaan tidak nyaman tersebut. 

“Atau sebaiknya ke tenaga profesional seperti psikolog agar privasi terjamin aman. Kemudian, bisa juga sampaikan kepada pasangan bahwa Anda merasa tidak nyaman untuk melakukannya lagi. Minta pasangan untuk menghormati hal tersebut,” ucap Ikhsan.

Kemudian tingkatkan komitmen dengan diri sendiri. Jika merasa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan nilai yang selama ini diyakini maka bulatkan tekad untuk berhenti.

Jika pasangan masih memaksa untuk berhubungan intim sebelum menikah, yakinkan diri bahwa ada orang lain yang lebih menghargai dan menghormati Anda.

Jika Anda membutuhkan pertolongan dari psikolog, segera berkonsultasi melalui layanan Live Chat di aplikasi Klikdokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar