Sukses

Anak Pelit, Benarkah Akibat Pola Asuh dalam Keluarga?

Perilaku anak pelit dianggap berhubungan dengan pola asuh dalam keluarga. Apakah anggapan ini sesuai dengan fakta medis? Cek selengkapnya lewat penjelasan berikut!

Ada pepatah yang mengatakan bahwa anak adalah cerminan orangtua. Oleh sebab itu, Anda harus berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku, karena anak bisa saja mencontoh hal tersebut.

Lantas, bagaimana jika sedari awal orangtua selalu mencontohkan sikap pelit di hadapan anak? Apakah hal tersebut dapat menjadi penyebab anak pelit di masa depan nanti? Yuk, cari tahu faktanya!

Artikel Lainnya: Bunda, Ini Dia Kekurangan dan Kelebihan Pola Asuh Yes Parenting!

1 dari 3 halaman

Anak Pelit Akibat Pola Asuh, Benarkah?

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, pola asuh dapat menjadi salah satu faktor yang membuat anak menjadi pelit. Hal ini karena anak adalah peniru yang ulung.

“Pola asuh bisa saja mengarahkan anak pada sikap pelit. Sebab, anak yang masih kecil umumnya belajar berperilaku dari hal yang mereka lihat,” kata Gracia.

“Anak akan mengamati perilaku pelit dari orangtua atau orang sekitarnya, dan dapat melakukan hal yang sama” sambungnya.

Menurut Gracia, anak pelit bisa juga disebabkan karena kurangnya pemahaman dan kebiasaan berbagi dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan seperti ini bisa membuat anak kurang memahami konsep berbagi.

Selain itu, pola asuh orangtua yang selalu memenuhi keinginan anak juga dapat membuat si kecil memiliki sifat egois dan pelit. Anak akan merasa bahwa dirinya bisa memiliki semua yang diinginkan.

Ucapan orangtua, seperti: “Biarkan anak makan enak terlebih dahulu, nanti orangtuanya belakangan,” juga dapat membuat anak mengembangkan pemahaman bahwa mereka selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Hal ini dapat memicu tumbuhnya sifat pelit dan serakah.

Kemudian, orangtua yang sering berbohong dalam urusan berbagi juga bisa membuat anak meniru hal serupa. Contohnya, saat ada tetangga yang ingin meminjam barang, Anda menjawab tidak ada. Padahal, Anda hanya tidak ingin meminjamkannya.

Intinya, jika anak sering mendengar orangtuanya berbohong mengenai urusan berbagi, hal tersebut dapat tertanam di dalam pikiran mereka. Pada akhirnya, anak mungkin melakukan hal serupa ketika dewasa.

Artikel Lainnya: Awas, Ini Pola Asuh Anak yang Rentan Memicu Depresi

2 dari 3 halaman

Faktor Lain yang dapat Membuat Anak Menjadi Pelit

Selain karena pola asuh, anak pelit juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini:

  1. Karakter Psikologis

Sifat pelit anak dapat disebabkan oleh karakteristik psikologis yang berpusat pada dirinya sendiri. Pelit adalah fenomena alam dalam proses perkembangan anak dan manifestasi naluriah dari kesadaran diri. 

Perilaku anak-anak berkembang seiring pertumbuhan mereka. Pengalaman dan pemahaman yang mereka lihat, baik dari orangtua, orang lain di sekitar, atau pengalaman, dapat membangun karakteristik anak dalam hal apa pun, termasuk konsep berbagi. 

  1. Faktor Usia

Berdasarkan Gracia, faktor lain yang dapat menjadi penyebab anak pelit adalah faktor usia. Anak yang masih kecil mungkin belum mengerti betul konsep berbagi. Oleh karena itu, saat melihat anak tidak mau berbagi mainan dengan temannya, orangtua mungkin akan langsung menilainya pelit. 

“Bisa juga karena faktor usia, masih toddler contohnya. Konsep berbagi baru mulai diajarkan pada usia ini, sehingga anak masih belajar sesuai tahap perkembangannya. Maka, wajar juga kalau masih terlihatnya pelit,” tutur Gracia.

  1. Faktor Ekonomi Keluarga

Selain itu, faktor lain yang dapat menjadi penyebab anak pelit adalah berada di dalam keluarga dengan financial insecurity.

Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan pola pikir bahwa uang harus dipergunakan dengan sangat hemat dapat mengembangkan sifat pelit di kemudian hari.

Artikel Lainnya: Pola Asuh Tepat untuk Anak dengan Kepribadian Koleris

Ajarkan Anak Berbagi Sejak Dini untuk Hindari Sifat Pelit

Dalam mengajarkan konsep berbagi pada anak, orangtua harus memberikan contoh yang baik. Anda bisa mulai mengajarkan anak konsep berbagi dengan memulainya dari keluarga sendiri. Contohnya, mengajarkan kakak untuk berbagi makanan kepada adik.

Kemudian, saat ada tamu di rumah, Anda bisa meminta tolong anak untuk membantu menyiapkan makanan atau minuman. 

Orangtua juga harus memberikan lebih banyak kesempatan kepada anak untuk bermain dengan teman sebayanya. Hal ini membuatnya dapat belajar konsep berbagi dengan saling bertukar mainan dengan teman-temannya. 

Jika ada kesempatan, orangtua juga bisa melibatkan anak dalam kegiatan sosial. Dengan demikian, anak bisa belajar berbagi sesuatu kepada orang yang membutuhkan.

Mengajarkan konsep berbagi sejak dini sangat penting untuk mencegah anak mengembangkan sifat pelit. Jika Anda kesulitan dalam menerapkan pola asuh anak tersebut, tak perlu ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut kepada psikolog melalui LiveChat 24 jam atau aplikasi Klikdokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar