Sukses

Kondisi PTSD Bisa Ubah Kepribadian Penderitanya

Salah satu efek samping PTSD adalah kepribadian berubah. Mengapa hal itu terjadi? Simak penjelasan psikolog berikut.

Post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma merupakan sebuah trauma yang bisa terjadi pada seseorang yang mengalami kejadian berat dalam hidupnya.

Gejala PTSD dapat terjadi dalam waktu satu bulan setelah peristiwa traumatis. Tetapi, terkadang gejala juga mungkin tidak muncul sampai bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut.

Efek PTSD dapat menyebabkan masalah signifikan dalam kehidupan sosial, pekerjaan, dan aspek lainnya pada penderita. Hal ini karena penderita PTSD dapat mengalami perubahan kepribadian. 

1 dari 3 halaman

Mengapa PTSD Mengubah Kepribadian?

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi, Psikolog, salah satu gejala PTSD yang bisa terjadi pada penderita adalah perubahan kepribadian. Hal ini disebabkan karena trauma yang dialami.

Artikel lainnya: Kenali Gejala PTSD, si Pemicu Bunuh Diri

Misalnya, seseorang mengalami kejadian negatif yang signifikan. Akibatnya, timbullah stres intens yang akan berisiko pada munculnya efek-efek negatif secara psikologis. Bukan hal baru bila orang tersebut berubah sifat saat mengalami PTSD.

“Ketika seseorang mengalami PTSD, itu dapat membuatnya memiliki perubahan tentang pemaknaan terhadap diri sendiri, lingkungan, dan dunia. Hal itu dapat mengarahkan pada perubahan perilaku maupun sikap sehari-hari,” jelas Gracia.

Namun, perubahan kepribadian penderita PTSD tidak selalu mengarah ke hal yang buruk. Ada beberapa yang menjadi jauh lebih positif, kemudian lebih berhati-hati. Semua itu tergantung bagaimana individu menyikapi trauma yang dialami.

Dalam penelitian yang diterbitkan National Center for Biotechnology Information, AS, orang dengan PTSD punya sikap paranoid terhadap lingkungan, ketidakpastian, penarikan sosial, disfungsi terkait pekerjaan, lekas marah, dan rentan terhadap konflik interpersonal.

Beberapa perubahan negatif yang bisa terjadi pada orang dengan PTSD dapat meliputi:

  • Punya pandangan negatif terhadap diri sendiri, orang lain, atau dunia.
  • Keputusasaan yang berhubungan dengan apa yang terjadi di masa datang.
  • Problem memori, yang juga meliputi hilangnya ingatan terhadap peristiwa traumatis.
  • Sulit memelihara hubungan dengan pasangan atau teman.
  • Merasa terpisah dari orang terdekat, seperti teman dan
  • Berkurangnya minat pada aktivitas yang digemari.
  • Sulit merasakan emosi positif.
  • Perasaan mati rasa secara emosional.
  • Perubahan reaksi fisik dan emosional.
  • Tindakan yang menjurus ke arah merusak diri, seperti minum alkohol berlebih.

Artikel lainnya: Awas, Pandemi COVID-19 Bisa Picu Gangguan PTSD!

2 dari 3 halaman

Bagaimana Menyikapi Perubahan Kepribadian Akibat PTSD?

Gracia mengungkapkan, peristiwa traumatik umumnya menyebabkan gejala mirip PTSD. Seseorang yang mengalaminya akan kesulitan berhenti memikirkan kejadian yang baru saja dilaluinya.

Misalnya, orang tersebut tidak dapat berhenti memikirkan apa yang terjadi. Kemudian, dapat muncul rasa bersalah, kecemasan, depresi, kemarahan, dan ketakutan.

Pada dasarnya, itu semua adalah reaksi umum terhadap peristiwa negatif. Sebagian besar orang dapat mengatasi perasaan itu.

Tapi, berbeda dengan orang yang mengalami PTSD. Ia tidak dapat mengatasi perasaan tersebut, hingga mengakibatkan trauma.

“Penderita PTSD harus dibantu oleh profesional. Karena, kalau sudah PTSD, itu sudah gangguan (disorder), jadi perlu dibantu tenaga ahli. Untuk mendiagnosis seseorang mengalami PTSD, juga harus dilakukan oleh psikolog atau psikiater yang menangani,” jelas Gracia.

Artikel lainnya: Antara Pria dan Wanita, Siapa Lebih Rentan Terserang PTSD?

Jika penderita PTSD menyadari perubahan kepribadian yang mengganggu pada dirinya, hal yang bisa dilakukan adalah mencari bantuan profesional untuk mendapatkan penanganan tepat. Jadi, trauma terdahulunya dapat disembuhkan bertahap.

“Setelah traumanya mulai terbantu untuk diproses, pemaknaan-pemaknaan yang maladaptif terkait dirinya dan lingkungan dapat dibantu juga. Harapannya, sikap dan perilakunya sehari-hari lebih adaptif, serta bisa bangkit dari keterpurukan akibat traumanya,” terang Gracia.

Dukungan dan pemahaman keluarga akan kondisi penderita PTSD juga diperlukan. Sebaiknya tidak menghakimi atau memberikan respons yang justru membuat trauma penderita kembali.

Dukungan orang terdekat juga dapat membantu mencegah penderita PTSD untuk beralih ke metode coping yang tidak sehat, seperti penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan.

Jika Anda ingin berkonsultasi dengan psikolog, gunakan layanan Live Chat Klikdokter.

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar