Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Penyebab Virus Corona Delta Lebih Menular Dibanding Varian Lain

Penyebab Virus Corona Delta Lebih Menular Dibanding Varian Lain

Setidaknya, ada dua hal yang membuat COVID varian delta jauh lebih menular ketimbang varian lainnya. Apa sajakah itu? Kita simak di sini.

Sugiyono Saputra, Ketua Tim WGS (Whole Genome Sequencing) SARS-CoV-2 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan gelombang kedua lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia didominasi oleh varian delta.

Berdasarkan penelitian LIPI yang dirilis pada 16 Juli 2021, virus corona varian delta mendominasi penularan sebanyak 95 persen. Sementara sisanya merupakan varian alfa dan varian lokal Indonesia.

Penyebaran kasus COVID yang disebabkan varian delta begitu masif. Hal itu membuat Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus kematian tertinggi di dunia.

Pada 28 Juli 2021, menurut data yang dilansir Worldometers, terdapat 2.069 kematian di Indonesia akibat virus corona. Angka ini menjadi yang tertinggi di dunia pada hari yang sama menurut data Worldometers.

Lantas, apa yang menyebabkan COVID Delta lebih menular dibandingkan varian lain?

Artikel lainnya: Sudah Sembuh dari COVID-19, Masih Perlu Konsumsi Vitamin D?

1 dari 3 halaman

Viral Load COVID Varian Delta Lebih Tinggi

Dokter Theresia Rina Yunita mengatakan bahwa varian delta dapat menyebar dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan varian coronavirus lainnya.

Berdasarkan Livescience, COVID-19 delta diduga 60 persen lebih menular daripada strain sebelumnya. Varian ini juga disebut dua kali lebih menular ketimbang strain asli SARS-CoV-2. 

Cepatnya penularan varian delta menurut dr. Theresia karena strain ini memiliki viral load yang lebih tinggi dibandingkan varian lain. Viral load adalah jumlah virus di dalam darah seseorang.

“Rata-rata, pasien yang terinfeksi varian delta memiliki sekitar 1.000 kali lebih banyak salinan virus di saluran pernapasan mereka, daripada mereka yang terinfeksi dengan varian sebelumnya,” kata dr. Theresia.

Pernyataan dr. Theresia tersebut merujuk pada penelitian berskala kecil yang dilakukan Center for Disease Control and Prevention di Guangdong, Tiongkok.

Riset yang dipublikasikan pada jurnal Virological 7 Juli itu menemukan, viral load COVID-19 delta pada orang yang terinfeksi, 1.260 kali lebih banyak dibandingkan varian asli.

Hal ini mengindikasikan lebih cepatnya replikasi virus COVID delta di dalam tubuh seseorang, dibandingkan virus SARS-CoV-2 generasi awal.

Penelitian ini dilakukan dengan menelusuri kontak erat 167 pasien yang terinfeksi coronavirus varian delta di Tiongkok. Berdasarkan penelusuran, peneliti berhasil melacak pasien pertama yang terinfeksi varian delta di negara tersebut.

Seluruh pasien bersama kontak erat kemudian menjalani tes pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) setiap hari. Hasil penelitian juga menemukan bahwa varian delta bisa lebih menular selama tahap awal infeksi. 

Artikel lainnya: Kekurangan Vitamin D, Benarkah Lebih Rentan Kena COVID-19?

“Orang yang terinfeksi kemudian akan menyebarkan lebih banyak partikel virus. Risiko penularan pun jadi lebih tinggi,” jelas tim peneliti.

2 dari 3 halaman

Masa Inkubasi COVID Delta Lebih Singkat

Penelitian tersebut juga menemukan masa inkubasi COVID delta di tubuh seseorang lebih singkat, yakni sekitar 3,71 hari atau rata-rata empat hari. Sementara itu, masa inkubasi virus asli SARS-CoV-2 sekitar 5,61 hari atau rata-rata enam hari.

Masa inkubasi yang singkat menyebabkan orang yang terinfeksi COVID delta dapat lebih dini dideteksi positif terjangkit virus corona.

“Orang tersebut juga lebih cepat mengalami gejala. Selain itu, dia juga kemungkinan akan lebih cepat menularkan lagi penyakitnya,” jelas dr. Theresia.

Menanggapi hasil penelitian soal bahaya COVID varian delta, John Connor mengungkapkan, “Dengan mengetahui lama waktu seseorang menularkan virus, kita dapat merancang strategi intervensi guna memutus mata rantai penularannya.”

“Artinya, penelusuran kontak erat harus dilakukan lebih cepat untuk memutus rantai penularan varian Delta,” tutur peneliti dari Boston University's National Emerging Infectious Diseases Laboratories tersebut, dikutip dari Livescience.

Meski COVID delta lebih menular daripada lainnya, Anda tak perlu cemas berlebihan. Yang terpenting, tetap lakukan protokol kesehatan dan menjaga daya tahan tubuh.

Jika Anda ingin bertanya lebih lanjut seputar virus corona dan pencegahannya, manfaatkan fitur Live Chat dari Klikdokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar