Sukses

Dampak Jika Anak Sering Dibandingkan dengan Anak Lain

Anda suka membandingkan anak dengan anak lain? Padahal, kebiasaan itu bisa berdampak buruk pada anak. Apa dampaknya?

Saat anak teman atau tetangga mendapatkan penghargaan atau menjadi juara kelas, terbesit pikiran mengapa si kecil tidak bisa meraihnya juga. Tanpa sadar, Anda mulai membanding-bandingkan anak dengan teman sebayanya.

Bisa jadi ini menjadi motivasi agar si kecil lebih terpacu untuk berprestasi. Tapi, hati-hati. Membandingkan anak bisa jadi berefek sebaliknya!

1 dari 2 halaman

Dampak Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Menurut Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, para orang tua perlu mengetahui tingkat kecerdasan dan kemampuan setiap anak itu berbeda-beda.

Anak yang terlahir dalam satu rahim yang sama, bisa memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda.

Jika Anda tidak menyadari hal itu, akan timbul perasaan untuk membandingkan anak dengan kakaknya ataupun temannya. 

“Memotivasi anak untuk menjadi rajin belajar memang baik. Namun, dengan orang tua membandingkan kecerdasan anak mereka dengan anak-anak lain itu malah akan timbul efek yang negatif pada anak,” ucap Gracia.

Artikel Lainnya: Kesehatan Mental Anak Sejak Dini Harus Diperhatikan, Ini Alasannya!

Berikut dampak dan bahaya membandingkan anak dengan orang lain:

1. Anak Menjadi Merasa Tidak Diterima

Melansir Parenting FirstCry, jika orang tua lebih menghargai anak lain dan terus membicarakan kelebihannya, hal tersebut akan membuat si kecil merasa tidak diterima dan dihargai.

“Saat membandingkan anak dengan orang lain, orang tua mungkin tidak menyadari bahwa anak mereka merasa kurang diterima sebagai diri apa adanya. Padahal seharusnya, orang tua menjadi sumber penerimaan bagi anak,” ucap Gracia.

2. Anak Memiliki Percaya Diri yang Buruk 

Ketika anak merasa tidak dihargai dan terus-menerus dibandingkan dengan orang lain, bakat mereka tidak akan berkembang dengan optimal.

Kemudian anak akan mengembangkan rasa tidak percaya diri karena merasa selalu tidak cukup di mata orang tua mereka.

Anak juga mungkin akan lebih tertutup pada orang tua, dan memiliki perasaan takut untuk mengecewakan Anda.

3. Memiliki Konsep Diri yang Negatif

Ketika anak-anak dibandingkan dengan saudara, teman, atau sepupunya, mereka merasa tidak aman dan berusaha menjaga jarak dari orang tua.

Anak juga secara tidak langsung diarahkan oleh orang tua untuk mengembangkan penilaian diri yang cenderung negatif. Misalnya, selalu memandang kemampuan atau pencapaian yang dimiliki belum cukup baik.

Hal ini juga dapat menyebabkan masalah perilaku atau perkembangan negatif di kemudian hari saat mereka dewasa.

Misalnya, anak yang sering dibandingkan dengan kakaknya bisa menimbulkan perasaan iri atau tidak suka yang dapat mengarah pada perilaku agresif, termasuk melawan, memberontak, atau berkelahi dengan saudara sendiri.

Artikel Lainnya: Mengenal Metode Hypnoparenting dalam Pengasuhan Anak

4. Dapat Mengalami Stres 

Melansir Indian Express, cara anak memandang diri sendiri sering didasarkan pada bagaimana orang tua memandang mereka, atau bagaimana anak “berpikir” orang tua memandang mereka.

Ketika anak melihat Anda tidak sepenuhnya menghargai upaya dan hasil kerjanya, itu akan berdampak pada psikologis mereka. Mereka akan menjadi lebih mudah mengalami depresi atau stres.

“Selalu merasa dibandingkan akan membuat anak merasa tidak cukup, sehingga berpotensi mengarahkan pada berkembangnya kecemasan, depresi, dan masalah psikologis lainnya karena merasa tertekan atas perbandingan tersebut,” ucap Gracia.

5. Sulit Menjalin Relasi dengan Orang Lain 

Anak yang selalu dibandingkan akan mengembangkan jiwa kompetitif yang tidak sehat. Hal ini akan membuat anak sulit untuk dapat menjalin pertemanan yang positif dengan teman sebayanya.

Selain itu, rasa percaya diri yang rendah akibat sering dibandingkan akan menghambat anak dalam menjalin relasi dengan lingkungan sosialnya.

Sekarang, sudah tahu kan apa saja bahaya membandingkan anak dengan orang lain? Jadi, hentikan mulai sekarang, ya.

Saran psikolog Gracia, selalu hargai setiap usaha anak. Berikan dukungan dan motivasi anak dengan cara memberikan contoh yang baik.

Manfaatkan layanan LiveChat dari aplikasi Klikdokter untuk berkonsultasi langsung dengan psikolog anak atau psikiater.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar