Sukses

Laringomalasia, Penyebab Napas Berbunyi pada Bayi

Bayi Anda ngorok atau mengeluarkan suara saat bernapas? Bisa jadi itu pertanda dari laringomalasia. Ketahui gejala dan penyebab laringomalasia pada bayi berikut.

Laringomalasia merupakan kondisi umum yang sering dialami bayi di minggu pertama kelahirannya. Ini adalah kondisi ketika bayi mengeluarkan suara seperti dengkuran saat mereka tertidur. 

Laringomalasia memang tidak membahayakan. Sebagian besar kasus anak yang mengalaminya bisa sembuh sendiri tanpa perlu bantuan obat atau operasi.  

Lantas, apa penyebab laringomalasia pada bayi? Adakah gejala khas yang terjadi akibat kondisi ini?

Artikel Lainnya: Bayi Ngorok Saat Tidur, Apakah Bunda Perlu Khawatir?

1 dari 3 halaman

Penyebab Laringomalasia pada Bayi

Dijelaskan oleh dr. Dyah Novita Anggraini, laringomalasia adalah kelainan yang menyebabkan jaringan di atas pita suara bayi berbentuk lebih lembut atau sangat lunak. Kondisi ini dapat menutup saluran udara bayi untuk bernapas. 

“Laringomalasia adalah kondisi normal pada bayi baru lahir. Kondisi pita suaranya masih lembut, sehingga menutupi udara untuk bernapas,” ucap dr. Dyah Novita.

Jalan napas bayi yang tersumbat dapat menyebabkan semacam dengkuran, terutama ketika si kecil tidur dalam posisi terlentang.

Hingga kini belum diketahui pasti penyebab laringomalasia pada bayi. Yang jelas, laringomalasia adalah kondisi bawaan pada bayi sejak dilahirkan ke dunia. 

Selain itu, laringomalasia juga diduga berhubungan dengan kondisi neurologis yang mempengaruhi saraf pita suara.

Meski belum ada bukti ilmiah yang kuat, ada pula beberapa teori yang mengatakan bahwa laringomalasia merupakan kondisi yang diwariskan dari orangtua. Pasalnya, kondisi tersebut sering dikaitkan dengan kondisi bawaan, seperti disgenesis gonad dan sindrom Costello

Artikel Lainnya: Posisi Tidur yang Tepat untuk Bayi yang Sakit Pneumonia

2 dari 3 halaman

Gejala Laringomalasia pada Bayi

Gejala utama dari laringomalasia adalah suara melengking yang keras saat menarik napas. Suara ini disebut juga dengan stridor, dan biasanya muncul setelah bayi lahir atau dalam beberapa minggu pertama. 

Gejala tersebut bisa memburuk selama beberapa bulan. Namun, sebagian besar bayi dengan laringomalasia tidak mengalami kesulitan bernapas atau menyusu, meski pernapasannya terdengar berisik. 

Pernapasan bayi dengan laringomalasia bisa terdengar lebih bising ketika menangis, menyusu, tidur, berbaring, atau mengalami infeksi saluran pernapasan atas. Sebagian besar bayi dengan kondisi tersebut memiliki gejala ringan. 

Namun, pada beberapa kasus, laringomalasia juga bisa menyebabkan gejala serius, seperti:

  • Kesulitan bernapas 
  • Masalah dengan selera makan
  • Tidak mengalami kenaikan berat badan
  • Mengalami henti pernapasan (apnea)
  • Warna kulit atau bibir biru (sianosis)

Melansir Kidshealth, bayi dengan laringomalasia juga sering mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD). Kondisi ini terjadi ketika makanan dan asam naik kembali ke kerongkongan. 

Jika asam lambung mencapai kotak suara, gejala laringomalasia mungkin dapat bertambah buruk. 

Oleh karena itu, meski bukan kelainan yang berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya, orangtua perlu berkonsultasi dengan dokter jika menemukan gejala-gejala laringomalasia berat. 

“Kalau lebih dari 1 tahun belum juga menunjukan perbaikan kondisi, bisa saja ada gangguan pernapasan. Biasanya nanti dicek lagi apakah diperlukan tindakan operasi supraglottoplasty atau tidak,” ucap dr. Dyah Novita.

Khawatir laringomalasia pada bayi mengganggu kenyamanan sehari-hari? Anda bisa berkonsultasi lebih lanjut kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar