Sukses

Obat-Obatan yang Harus Dihindari Pengidap Hepatitis C

Beberapa jenis obat justru dapat memperburuk kondisi hepatitis C. Apa saja obat pantangan hepatitis tersebut? Simak di sini.

Dampak penyakit hepatitis C pada tubuh sangatlah besar. Terlebih, infeksi virus hepatitis C (HCV) menyebabkan peradangan hati, yaitu organ yang berperan penting dalam metabolisme obat.

Penderita hepatitis C harus lebih berhati-hati memilih obat yang aman dikonsumsi. Karena, jenis obat tertentu justru dapat meningkatkan gejala infeksi HCV. 

Dokter Reza Fahlevi mengatakan, “Penderita hepatitis C harus menghindari obat yang dominan pada metabolisme di hati dan obat yang dapat memicu kerusakan hati.” 

Berikut ini beberapa obat pantangan hepatitis C:

1. Parasetamol

Parasetamol merupakan obat jenis antipiretik dan analgesik untuk meringankan sakit kepala, nyeri, serta demam. 

Mengutip Very Well Health, pantangan obat untuk penderita hepatitis C ini dapat berbahaya jika dikonsumsi secara berlebih dan diminum dalam jangka waktu lama.

Parasetamol dapat menyebabkan penderita hepatitis C mengalami kerusakan hati seperti sirosis hati. Kondisi ini kian diperparah jika parasetamol dikonsumsi bersama alkohol.

Oleh karena itu, pasien hepatitis C wajib berkonsultasi dengan dokter soal dosis parasetamol yang bisa dikonsumsi. 

Artikel Lainnya: Hepatitis C dan Depresi Saling Berhubungan, Kok Bisa? 

1 dari 3 halaman

2. Ibuprofen

Ibuprofen merupakan obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) untuk menghilangkan rasa nyeri. 

Meski begitu, ibuprofen juga dapat menyebabkan sejumlah efek samping. Contohnya, meningkatkan nefrotoksisitas (toksisitas pada ginjal) dan pendarahan di saluran pencernaan.

Mengonsumsi ibuprofen dalam dosis kecil diperbolehkan bagi penderita hepatitis C yang tidak mengidap sirosis hati.

Namun, ketika hepatitis C menjadi kronis dan menyebabkan sirosis, obat pantangan hepatitis ini wajib dihindari. Menurut dr. Reza, hal ini akibat efek samping ibuprofen yang dapat merusak fungsi hati.

3. Kortikosteroid

Kortikosteroid bekerja menyerupai hormon kortisol dan dikenal efektif sebagai anti-peradangan serta imunosupresan (penurun sistem kekebalan tubuh). 

Umumnya, kortikosteroid digunakan untuk mengatasi reaksi autoimun, seperti radang sendi, gatal, alergi, asma, dan pembengkakan. 

Kendati demikian, penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit menjadi kronis dan kian sulit ditangani. 

Biasanya, obat ini tidak disarankan untuk penderita hepatitis C. Sebuah penelitian mengungkapkan, kortikosteroid dapat memperburuk penyakit hepatitis C.

Seperti ibuprofen, dr. Reza mengatakan kortikosteroid dapat merusak fungsi hati.

Artikel Lainnya: Antara Hepatitis B dan C, Mana Lebih Berbahaya?

2 dari 3 halaman

4. Obat Tidur atau Penenang

Beberapa obat antivirus yang diresepkan untuk mengatasi hepatitis C, terutama Peginterferon alfa-2a dan Ribavirin, dapat menyebabkan efek samping berupa insomnia dan gangguan tidur.

Kondisi ini bukan tidak mungkin menyebabkan penderita hepatitis C frustrasi dan mengonsumsi obat tidur atau penenang agar dapat beristirahat nyenyak. 

Lalu, beberapa jenis obat tidur seperti suvorexant justru dapat menghambat khasiat obat hepatitis C. 

Oleh karena itu, bekonsultasilah dengan dokter sebelum minum obat tidur guna mengatasi efek samping obat untuk penderita hepatitis.

5. Obat HIV

Orang yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) memiliki risiko tinggi terkena hepatitis C. Laporan Very Well Health menyebutkan, 25 persen ODHA (orang dengan HIV/AIDS) mengidap hepatitis C.

Beberapa obat HIV dapat menimbulkan dampak buruk jika dikonsumsi bersamaan dengan obat hepatitis C. 

Itu dia deretan obat pantangan hepatitis C. Jika ingin tanya lebih lanjut seputar hepatitis, konsultasi ke dokter via Live Chat.

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar