Sukses

Kakosmia, Sensasi Bau yang Beda dari Kenyataan

Kakosmia bikin Anda menafsirkan aroma berbeda dari yang sebenarnya. Apa penyebab gangguan indra penciuman ini?

Pernahkah Anda mencium aroma serupa kotoran atau bau terbakar, padahal tidak ada kotoran maupun benda yang terbakar di sekitar?

Jika pernah mengalaminya, Anda patut curiga. Karena, boleh jadi kondisi tersebut merupakan indikasi gangguan indra penciuman bernama kakosmia.

1 dari 3 halaman

Apa Itu Kakosmia?

Mengutip Healthline, kakosmia merupakan gangguan indra penciuman yang menyebabkan Anda menafsirkan aroma berbeda dari yang sebenarnya. Kondisi ini merupakan salah satu jenis parosmia (terdistorsinya indra penciuman). 

Jika Anda mengalami kakosmia, aroma yang menyenangkan dapat ditafsirkan sebagai bau busuk. Hal ini dikarenakan indra penciuman tidak bekerja dengan semestinya.

Pengidap kakosmia umumnya kerap mencium aroma terbakar, bau busuk, kotoran, hingga bahan kimia. 

Aroma tidak menyenangkan tersebut juga bukan sekali dua kali tercium, melainkan terus-menerus hingga dapat mengganggu aktivitas.

Artikel Lainnya: Benarkah Anosmia Jadi Tanda Terlindungi dari COVID-19?

Bukan tidak mungkin, kondisi ini menyebabkan pola makan terganggu. Hal ini dikarenakan kakosmia menyebabkan kesulitan identifikasi aroma sebenarnya dari hidangan yang hendak disantap. 

Makanan favorit pun bisa mendadak terasa tidak enak karena gangguan indra penciuman ini. 

Kakosmia bahkan dapat menyebabkan penderitanya mengeluhkan sakit akibat aroma tidak sedap yang terus-menerus ia cium.

2 dari 3 halaman

Penyebab Kakosmia

Ada beragam penyebab kakosmia menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti.

“Penyebab yang sering adalah kerusakan ujung sensor olfaktori di hidung, bisa karena infeksi atau trauma lainnya,” jelasnya.

Bagian dalam hidung dilapisi oleh neuron sensorik penciuman. Sel reseptor yang ditemukan pada lapisan selaput lendir hidung tersebut berfungsi menerima aroma, menafsirkan, dan menyampaikan sinyal ke otak.

Ketika neuron sensorik penciuman rusak dan mengalami peradangan, sinyal yang dikirim ke otak bisa keliru. Akibatnya, Anda salah menafsirkan aroma tertentu.

Neuron sensorik penciuman juga dapat mengalami kerusakan akibat sejumlah kondisi, antara lain:

  1. Infeksi Saluran Pernapasan Atas

Infeksi saluran pernapasan atas seperti bronkitis, sinusitis, rhinitis, maupun sakit tenggorokan dapat membuat neuron sensorik penciuman mengalami kerusakan. 

Artikel Lainnya: Cara Kembalikan Penciuman Pasca Terinfeksi COVID-19

  1. Cedera Kepala

Beberapa jenis cedera kepala dapat merusak bagian sistem penciuman di otak yang bertanggung jawab mengidentifikasi aroma. Hal ini juga dapat menyebabkan kakosmia.

  1. Merokok

Merokok juga dapat menyebabkan neuron sensorik penciuman alami cedera. Semakin lama dan sering sel penciuman terpapar racun rokok, maka kian buruk pula kerusakan indra penciuman. 

Kerusakan tersebut dapat terjadi dalam jangka pendek maupun panjang. Bukan tidak mungkin juga menyebabkan kakosmia.

  1. Asap Kimia

Asap dari bahan kimia dan zat asam berbahaya juga dapat merusak neuron saraf penciuman dan memperbesar risiko kakosmia.

  1. Pengobatan 

Penggunaan antibiotik dan beberapa jenis obat dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan indra penciuman. 

Jenis pengobatan seperti terapi radiasi pada kanker kepala dan leher juga dapat merusak neuron saraf penciuman.

  1. Penyakit

Sejumlah penyakit dapat memengaruhi kemampuan indra penciuman, seperti kanker sinus dan tumor.

Selain itu, penyakit Alzheimer, Parkinson, schizophrenia, dan epilepsi dapat menyebabkan kakosmia. Menurut dr. Astrid, hal ini disebabkan kerusakan pada bagian otak yang bertanggung jawab mempersepsi bau.

Cara Atasi Kakosmia

Dokter Astrid mengatakan, belum ada obat untuk menyembuhkan kakosmia. Namun, gangguan indra penciuman ini dapat diatasi berdasarkan penyebabnya.

“Misalnya, jika karena infeksi, maka atasi infeksinya. Jika karena polip hidung, maka bisa dioperasi polipnya,” jelas dr. Astrid.

Hal serupa juga berlaku bagi Anda yang merokok. Berhenti merokok dapat memperkecil risiko kakosmia.

Gejala kakosmia dapat membaik seiring waktu. Jika gejala kian memburuk dan mengganggu aktivitas, jangan ragu memeriksakan diri maupun konsultasi ke dokter via LiveChat.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar