Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Vaksin Sputnik V dari Rusia, Ampuhkah Lawan Varian Delta?

Vaksin Sputnik V dari Rusia, Ampuhkah Lawan Varian Delta?

Indonesia akan menambah varian vaksin virus corona, salah satunya vaksin Sputnik V dari Rusia. Seberapa efektif vaksin tersebut? Ketahui di sini.

Jika izin penggunaan darurat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk vaksin Sputnik V diberikan, maka Indonesia akan resmi menambah varian vaksin baru untuk memberantas virus corona.

Vaksin Sputnik V diklaim memiliki nilai efektivitas tinggi dalam membentuk antibodi terhadap coronavirus. Vaksin ini dinilai ampuh melawan mutasi virus, termasuk varian Delta.

Faktor apa yang menjadikan vaksin covid Sputnik V ampuh melawan varian Delta?

 

1 dari 4 halaman

Cara Kerja Vaksin Sputnik V

Saat WHO menyatakan wabah COVID-19 sebagai pandemi, Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya di Moskow, Rusia, melakukan penelitian dalam membuat vaksin yang bisa digunakan untuk melawan virus corona.

Dari penelitian yang dilakukan, muncullah sebuah vaksin yang diberi nama Sputnik V atau Gam-COVID-Vac. Sputnik V adalah vaksin vektor virus yang dirancang untuk menghasilkan kekebalan yang tahan lama terhadap virus corona.

Artikel Lainnya: Benarkah Bisa Tertular COVID-19 Varian Delta dengan Berpapasan?

Vektor virus adalah virus tidak berbahaya yang dapat mengirimkan gen ke sel tubuh manusia, yang diubah menjadi protein. Vaksin ini mirip dengan vaksin Oxford, AstraZeneca, dan Johnson & Johnson.

Melansir dari British Medical Journal, vaksin Sputnik V berbeda dengan vaksin vektor virus lainnya. Vaksin ini menggunakan dua adenovirus yang berbeda sebagai vektor virus.

Adenovirus adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan flu biasa. Dalam membuat vaksin Sputnik V, peneliti menggabungkan adenovirus dengan spike protein SARS-CoV-2. Hal ini mendorong tubuh untuk membuat respons imun terhadapnya.

Peneliti Gamaleya memilih dua vektor adenovirus yang berbeda, yaitu rAd26 dan rAd5. Pemberian dilakukan terpisah dalam dosis pertama dan kedua, dengan jarak 21 hari.

Para ilmuwan telah memodifikasi adenovirus secara kimia untuk vaksin Sputnik V dalam menghentikan replikasi. Ini berarti, vektor virus tidak dapat menyebabkan infeksi adenovirus.

Vaksin Sputnik V juga tidak dapat menyebabkan COVID-19, karena tidak mengandung seluruh virus SARS-CoV-2.

Menukil Medical News Today, setelah seseorang menerima dua dosis Sputnik V, sistem kekebalan tubuhnya akan bereaksi. Reaksi berupa pengembangan antibodi khusus untuk virus SARS-CoV-2 dengan memunculkan respons sel T.

Jika terjadi infeksi di masa depan, orang yang sudah menerima vaksin Sputnik V dapat dengan cepat memproduksi antibodi untuk mengikat virus dan mencegahnya masuk ke sel tubuh. Sel T juga bekerja membunuh sel yang terinfeksi.

Artikel Lainnya: Benarkah Virus Corona Delta Lebih Mudah Menyerang Anak?

2 dari 4 halaman

Efektivitas Vaksin Sputnik V

Hasil uji klinis 1 dan 2 dari vaksin Sputnik V telah diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet pada September 2020.

Dari penelitian terhadap 76 peserta, dilaporkan semua peserta yang diberikan vaksin Sputnik V mengembangkan antibodi SARS-CoV-2.

Selain itu, tidak ditemukan efek samping serius. Sebagian besar efek sampingnya ringan, seperti rasa nyeri di tempat suntikan.

Data sementara uji coba fase 3 juga telah diterbitkan pada awal Februari 2021. Uji coba melibatkan hampir 22.000 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas.

Hasil sementara berdasarkan data dari 14.964 peserta dalam kelompok yang diberikan vaksin dan 4.902 pada kelompok plasebo menunjukkan, vaksin tersebut efektif 91,6 persen dalam mencegah infeksi simtomatik.

Selain itu, tidak ditemukan kasus COVID-19 sedang atau berat pada kelompok yang divaksinasi, setidaknya 21 hari setelah dosis pertama.

Efek samping yang dilaporkan saat ini juga tergolong sangat ringan. Empat kematian yang tercatat selama penelitian tidak berkaitan dengan vaksin.

3 dari 4 halaman

Benarkah Vaksin Sputnik V Ampuh Melawan Varian Delta?

Dijelaskan oleh dr. Sara Elise Wijono, MRes, sampai saat ini semua vaksin yang telah melalui uji fase klinis tahap 3 dinilai ampuh melawan virus corona dengan dosis lengkap. Namun, untuk vaksin mutasi virus corona, saat ini masih dalam penelitian.

Termasuk vaksin Sputnik V, menurut dr. Sara, memang ada beberapa penelitian yang menyebutkan vaksin coronavirus dari Rusia ini ampuh melawan varian Delta. Namun, hal itu masih dalam tahap penelitian.

“Kalau vaksin ampuh, artinya bisa melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenal kuman penyakitnya, dalam hal ini virus COVID-19 varian Delta, sehingga jika terpapar, tubuh kita bisa melawan,” jelas dr. Sara.

Artikel Lainnya: Wajib Tahu, Fakta Mutasi COVID-19 Delta Plus

Melansir The Moscow Times, peneliti menilai vaksin Sputnik V sekitar 90 persen efektif melawan varian Delta yang sangat menular.

Peneliti menggunakan sampel darah orang-orang yang telah menyelesaikan vaksinasi Sputnik V. Hal ini untuk menyelidiki aktivitas penetral virus dari antibodi ketika terkena jenis virus corona baru.

Para ilmuwan menemukan pengurangan signifikan dalam efek penetral virus Sputnik V terhadap tiga varian, termasuk Delta, Beta, dan Gamma.

Pada varian Delta, ada pengurangan 3,1 kali lipat dari aktivitas penetral virus. Penurunan 2,8 kali lipat pada varian Beta, dan 2,5 kali lipat pada Gamma.

Itu dia serba-serbi vaksin Sputnik V. Ikuti terus info perkembangan vaksin virus corona di aplikasi Klikdokter.

Anda juga bisa memanfaatkan layanan LiveChat dokter untuk berkonsultasi langsung dengan tenaga medis umum dan spesialis.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar