Sukses

Alami Anosmia Tanda Dekat dengan Kematian?

Kehilangan kemampuan penciuman atau anosmia diklaim menjadi tanda seseorang dekat dengan kematian. Apa benar? Cek faktanya di sini.

Sebuah penelitian dalam jurnal ilmiah PLOS ONE (2014) mengungkapkan, anosmia atau kondisi hilangnya penciuman dapat menjadi tanda seseorang kian dekat dengan kematian dalam kurun lima tahun ke depan.   

Benarkah demikian? Simak penjelasan dokter berikut.

1 dari 3 halaman

Anosmia Tanda Dekat dengan Kematian?

Mengutip The Guardian, penelitian itu melibatkan 3.000 peserta berusia 57-85 tahun. Para peneliti meminta peserta mengidentifikasi lima aroma, antara lain material kulit sepatu dan tas, mawar, ikan, jeruk, serta peppermint.

Kesehatan indra penciuman peserta kemudian dinilai berdasarkan kesalahan mereka dalam menebak aroma.

Lima tahun berselang, para peneliti melacak sebanyak mungkin keberadaan peserta penelitian. Mereka diminta melakukan tes identifikasi aroma kedua kalinya. 

Selama jeda lima tahun tersebut, sebanyak 430 orang atau 12,5 persen dari total peserta meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, 39 persen peserta gagal dalam tes pertama.

Artikel Lainnya: Cara Kembalikan Penciuman Pasca Terinfeksi COVID-19

Sementara, 19 persen lainnya hanya mengalami kehilangan indra penciuman bergejala sedang. Adapun 10 persen lainnya masih memiliki indra penciuman yang sehat.

Tim peneliti kemudian menyimpulkan, peserta yang gagal dalam tes identifikasi aroma pertama berpeluang meninggal empat kali lebih besar dalam kurun lima tahun. 

Hal ini dibandingkan dengan yang sanggup mengidentifikasi kelima aroma dengan benar.

Tim peneliti juga menimbang faktor lain yang memengaruhi kemampuan indra penciuman, seperti ras, jenis kelamin, kesehatan mental, hingga status sosial ekonomi. 

Tak hanya itu, tim peneliti menyimpulkan sedikit menurunnya kemampuan indra penciuman dapat meningkatkan risiko kematian di masa yang akan datang.

Penelitian itu kemudian mengklaim, hilangnya indra penciuman atau anosmia dapat memprediksi kematian lebih akurat ketimbang diagnosis kanker, gagal jantung, maupun penyakit paru-paru.

Selain itu, gejala dekatnya kematian juga dapat diketahui melalui kerusakan hati yang parah.  

Meski demikian, tim peneliti menekankan anosmia bukanlah penyebab kematian itu sendiri.

Artikel Lainnya: Cara Efektif Mengatasi Hidung Tersumbat

2 dari 3 halaman

Apa Hubungan Indra Penciuman Hilang dengan Kematian?

Studi menduga, kaitan hilangnya indra penciuman dengan kematian mungkin dipengaruhi oleh produksi sel penciuman yang menurun seiring bertambahnya usia. 

Hal ini menyebabkan kemampuan manusia dalam mengidentifikasi dan membedakan aroma turut menurun. 

Ujung saraf penciuman merupakan reseptor aroma, sekaligus satu-satunya saraf manusia yang terus diregenerasi oleh sel induk. 

Oleh karena itu, penelitian juga mengungkapkan, hilangnya kemampuan indra penciuman menunjukkan bahwa tubuh dalam kondisi rusak dan tidak sanggup memperbaiki kondisinya sendiri.

Selain itu, saraf penciuman merupakan satu-satunya sistem saraf yang terkena udara terbuka. Hal ini menyebabkan racun dan patogen dapat masuk dengan mudah ke otak melalui saraf penciuman. 

Jadi, kehilangan penciuman dikatakan dapat menjadi peringatan dini datangnya kematian pada seseorang.

Meski anosmia diduga merupakan tanda dekat dengan kematian, tim peneliti pada dasarnya tidak memeriksa secara langsung penyebab kematian sebenarnya dari 430 peserta tersebut.

Mereka juga tidak menampik tes indra penciuman yang diujicobakan tidak dapat menjadi barometer deteksi kematian seseorang, ketimbang hasil pemeriksaan medis.

Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh bukti kuat soal anosmia tanda dekat dengan kematian, khususnya pada kelompok usia yang lebih beragam.

Menanggapi hasil penelitian tersebut, dr. Arina Heidyana meluruskan, “Anosmia bukan suatu tanda kalau seseorang sudah dekat dengan kematiannya. Tidak semua orang yang sekarat alami anosmia.”

“Penyakit anosmia bisa dirasakan oleh orang-orang yang mengalami penyakit flu, sinusitis, polip, kelainan tulang hidung, dan sebagainya. Jadi, tidak semua orang yang anosmia pasti akan cepat alami kematian,” tegas dr. Arina.

Jika ingin tanya lebih lanjut seputar anosmia, konsultasi ke dokter via LiveChat. Dapatkan fakta kesehatan lainnya di Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar