Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Respiratory Syncytial Virus Merebak di Selandia Baru, Penyakit Apa?

Respiratory Syncytial Virus Merebak di Selandia Baru, Penyakit Apa?

Respiratory syncytial virus mendadak merebak di Selandia Baru. Penyakit apa ini? Ketahui selengkapnya bagaimana penularan virus ini terjadi.

Masyarakat Selandia Baru kini tengah menghadapi serangan respiratory syncytial virus (RSV). Lockdown ketat yang diberlakukan pemerintah demi mencegah penyebaran COVID-19 tahun lalu disinyalir menjadi penyebab RSV menjangkiti anak-anak, yang sebagian besar bayi.

Mengutip NY Times, otoritas New Zealand’s Institute of Environmental Science and Research menyatakan terdapat 969 kasus respiratory syncytial virus. Angka kasus itu diperoleh hanya dalam lima pekan, sejak awal musim dingin pada Juni lalu.

Jumlah pasien melonjak drastis. Pada 29 pekan musim dingin, selama 5 tahun sebelum pandemi COVID-19 terjadi, hanya terdapat rata-rata 1.743 kasus RSV virus di sana.

Lantas, apa penyebab respiratory syncytial virus bisa menyebar sedemikian cepat di Selandia Baru?

1 dari 3 halaman

Penyebaran Respiratory Syncytial Virus

Dokter Arina Heidyana menjelaskan, RSV merupakan virus yang menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan.

Artikel lainnya: Latihan Pernapasan untuk Pasien yang Baru Sembuh dari Virus Corona

Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), RSV umumnya menyebabkan gejala ringan seperti pilek. Pengidap RSV bergejala ringan bahkan dapat sembuh dalam 1-2 pekan.

Kendati demikian, virus ini juga dapat menyebabkan penyakit serius, terutama pada bayi dan lansia. Respiratory syncytial virus dapat menyebabkan terjadinya bronkiolitis (radang saluran udara kecil di paru-paru) hingga pneumonia (infeksi paru-paru).

Melansir CDC, kelompok berikut ini lebih rentan terinfeksi RSV:

  • bayi prematur,
  • anak-anak dengan penyakit jantung bawaan (sejak lahir) atau paru-paru kronis,
  • anak-anak dengan sistem kekebalan yang lemah karena kondisi medis atau perawatan medis,
  • orang dewasa dengan gangguan sistem kekebalan, dan 
  • lansia, terutama mereka yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.

Perlu diketahui, infeksi saluran pernapasan ini dapat dengan mudah menyebar melalui droplet orang yang terinfeksi. Anda dapat tertular jika menghirup droplet pengidap RSV yang bersin dan batuk.

RSV juga dapat menular jika Anda mengusap wajah tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, usai menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi. Anda juga berisiko tertular virus ini jika mencium wajah penderita RSV.

Virus ini umumnya dapat bertahan di tubuh orang yang terinfeksi selama 3-8 hari. Namun, pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, respiratory syncytial virus dapat bertahan hingga empat pekan.

Umumnya, RSV menjangkiti anak-anak yang tengah bermain di luar rumah, seperti di sekolah maupun pusat penitipan anak. Di Selandia Baru, kasus ini belakangan banyak ditemukan pada si kecil yang dirawat di bangsal anak rumah sakit setempat. 

Artikel lainnya: Jenis dan Fungsi Alat Bantu Pernapasan yang Sering Digunakan Medis

Dimulai dari anak, penyebaran virus ini kemudian dapat berlanjut kepada anggota keluarga lainnya.

2 dari 3 halaman

Cara Mengatasi Respiratory Syncytial Virus

Orang yang terpapar RSV, umumnya akan menunjukkan gejala dalam kurun waktu 4-6 hari pasca-infeksi. Selain pilek, gejala infeksi respiratory syncytial virus antara lain:

  • nafsu makan menurun,
  • batuk,
  • bersin,
  • demam, dan
  • mengi.

Deretan gejala tersebut umumnya muncul secara bertahap. Pada bayi, infeksi RSV dapat menyebabkan iritabilitas, penurunan aktivitas, hingga kesulitan bernapas.

Mengutip CDC, hingga saat ini belum ada pengobatan khusus untuk mengatasi infeksi RSV. Dokter Arina menyatakan, penanganan RSV dapat dilakukan dengan mengobati gejala yang menyertainya.

“Misalnya demam, ya dikasih paracetamol,” dia menjelaskan.

CDC juga menganjurkan anak yang mengalami demam dan nyeri akibat infeksi RSV agar diberikan asetaminofen atau ibuprofen.

Penderita infeksi respiratory syncytial virus juga disarankan untuk memperbanyak asupan cairan guna mencegah dehidrasi.

Terakhir, hal yang terpenting adalah Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh penanganan yang tepat dalam mengatasi infeksi RSV.

Tetap waspada dan jaga daya tahan tubuh Anda dari virus. Jika ingin bertanya lebih lanjut seputar cara menangani RSV, konsultasikan kepada dokter melalui Live Chat 24 Jam.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar