Sukses

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Santan?

Santan disebut tidak berpengaruh langsung pada kenaikan kadar gula darah, namun amankah bahan pangan ini dikonsumsi pengidap diabetes? Jawabannya ada di sini.

Agar kadar gula darah tidak meningkat, pengidap diabetes harus menjaga pola makan sehat serta menghindari sejumlah asupan yang dapat memperburuk kondisi diabetesi, seperti alkohol, soda, dan nasi. 

Lalu, bagaimana dengan santan? Bolehkah diabetesi (sebutan untuk penderita diabetes) makan santan? Simak penjelasan medis berikut ini.

1 dari 3 halaman

Diabetesi Makan Santan, Bolehkah?

Santan merupakan bahan makanan berbentuk cairan yang diperoleh dengan cara memarut, memeras, dan menyaring daging kelapa.

Santan memiliki cita rasa gurih dan kerap digunakan untuk membuat aneka makanan. Misalnya, santan kental digunakan untuk membuat opor, nasi uduk, dan gulai. Sementara itu, santan cair dapat digunakan untuk membuat puding.

Artikel Lainnya: Ini Daftar Makanan yang Pantang Dikonsumsi Penyandang Diabetes

Beberapa jenis santan kental olahan, mengutip Diabetes.co.uk, mengandung pengemulsi yang mungkin buruk bagi kesehatan usus, serta dapat meningkatkan risiko obesitas dan sindrom metabolik. 

Berdasarkan Healthline, sindrom metabolik merupakan gangguan kesehatan yang terjadi secara bersamaan seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, resistensi insulin, lemak berlebih di sekitar pinggang, hingga kadar kolesterol tidak normal.

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan jantung, stroke, penyakit ginjal, pengerasan pembuluh darah, hati berlemak non-alkohol, arteri perifer, hingga penyakit kardiovaskular.

Oleh karena itu, menurut dr. Atika, diabetesi harus membatasi asupan santan.

“Boleh mengonsumsi santan, asal bijak. Misalnya konsumsi makanan bersantan maksimal 1 hingga 2 kali seminggu. Jumlahnya juga jangan terlalu banyak sekali makan,” kata dr. Atika. 

“Sembari makan santan kurangi asupan sumber lemak lain di hari yang sama,” tambahnya. 

Menurut dr. Atika, santan murni tidak berpengaruh pada gula darah secara langsung, namun dapat memengaruhi peningkatan lemak dan kolesterol. Kedua hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga obesitas.

Terkait kolesterol, lonjakan jenis lemak yang menumpuk di dalam arteri akibat konsumsi santan berlebih juga dapat memburuk jika Anda mengidap diabetes.

The American Heart Association (AHA) menjelaskan, bahwa diabetes berperan besar meningkatkan kadar trigliserida dan LDL (kolesterol jahat). Kedua jenis lemak ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Adapun obesitas, sebagai dampak konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol seperti santan, dapat meningkatkan faktor risiko diabetes. 

Sebuah penelitian yang diwartakan Diabetes.co.uk menyatakan, lemak di perut pengidap obesitas menyebabkan sel-sel lemak melepaskan zat yang bisa menimbulkan inflamasi (peradangan)

Sel lemak ini membuat tubuh kurang sensitif terhadap insulin. Akibatnya,  terjadilah resistensi insulin atau kondisi ketika sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah secara optimal. 

Dampaknya, terjadi penumpukan gula dalam darah yang menyebabkan diabetes. 

Artikel Lainnya: Tips Makan Ketupat untuk Pengidap Diabetes

2 dari 3 halaman

Bahan Makanan Alternatif Pengganti Santan

Konsumsi santan berlebihan dapat memengaruhi kondisi penderita diabetes secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu penting untuk membatasi asupan santan seperti saran dari dr. Atika.

Bahkan, lebih baik lagi jika pengidap diabetes menggantinya dengan sejumlah asupan bahan makanan sehat yang ramah bagi kesehatan.

Dokter Atika menyarankan mengganti santan untuk diabetes dengan susu nabati, seperti susu kedelai, susu kacang almond, maupun susu gandum.

Meski begitu, sebelum mengonsumsinya, Anda disarankan mencermati kandungan nutrisi pada deretan susu alternatif tersebut.

Periksa juga berapa kandungan lemak di dalamnya. Pastikan pula susu alternatif tersebut tidak menggunakan gula tambahan. 

Selain itu pilihlah susu alternatif pengganti santan yang mengandung 120 mg kalsium per 100 gram.

Jika ingin tanya lebih lanjut seputar diabetes, konsultasi ke dokter via Live Chat.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar