Sukses

Sinyal Darurat Krisis Oksigen dari Yogyakarta

Peningkatan kasus COVID-19 memantik kelangkaan oksigen. Imbasnya juga dirasakan pasien non-COVID. Situasi dilematis muncul di lapangan.

Terik matahari di Jalan Jati Mataram, Sleman, Yogyakarta, Minggu (4/7) siang lalu, tidak membuat Heru beringsut. “Saya sudah di sini hampir satu jam. Antreannya panjang,” cetus Pria 24 tahun itu kepada Klikdokter.

Tak jauh dari lokasinya berdiri, tabung oksigen berjejer panjang di depan tempat pengisian oksigen isi ulang Central Oxygen. Puluhan orang tampak menunggu tabungnya diisi.

Sudah dua hari Heru kelimpungan mencari pasokan oksigen. Ia butuh oksigen untuk kakaknya yang tengah hamil tujuh bulan.

Lima tempat pengisian oksigen sudah Heru sambangi. Tapi hasilnya nihil, semua tempat kehabisan stok oksigen.

“Saya sudah keliling semua nggak ada (oksigen). Ternyata kosong semua,” ujar Warga Kaliurang itu.

Jumat pekan lalu Sang Kakak mengeluhkan sesak napasnya mendadak. Dia, menurut Heru, memang punya riwayat sesak kambuhan.

Sejak sepekan belakangan suplai oksigen di Yogyakarta cekak. Di Indonesia, krisis oksigen pertama kali, sepanjang yang diketahui, terjadi di Yogyakarta.

Artikel Lainnya: Tips Hadapi Quarter Life Crisis Saat Pandemi COVID-19

Gelagat defisit oksigen mulai tampak pada akhir bulan lalu. Akun Twitter Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM, Ketua Satgas Penanganan COVID Ikatan Dokter Indonesia, mencuit kondisi kekurangan oksigen di Yogyakarta pada 24 Juni 2021.

Puncaknya ketika Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito di Sleman, DI Yogyakarta, kehabisan oksigen, Sabtu (3/7). Belakangan, kondisi semacam itu merembet ke daerah lain.

Krisis oksigen muncul seiring meningkatnya penambahan kasus konfirmasi positif harian COVID-19. Kebutuhan oksigen yang besar untuk penanganan COVID-19 diduga menjadi pangkal penyebab kelangkaan.

Di tengah kondisi itu, kebutuhan yang membeludak membuat produsen memprioritaskan distribusi oksigen ke rumah sakit. Konsumen seperti Heru yang harus membeli oksigen eceran pun terimbas.

Heru beruntung bisa mendapat informasi Central Oxygen punya stok lewat jejaring internet. Hanya saja, ia kecewa cuma kebagian sedikit jatah oksigen.

Sebab, konsumen tidak bisa membeli oksigen dalam jumlah banyak. Semula, warga Kaliurang itu berniat mengisi oksigen di tabung berukuran enam meter kubik.

Namun, permintaan yang tinggi membuat pedagang membatasi volume pembelian setiap konsumen.

“Jadi pakai yang kecil (1-1,5 meter kubik). Padahal pakai tabung yang kecil itu nggak sampai dua jam sudah habis,” keluh Heru.

Kesulitan mencari oksigen juga dialami Widya (51 tahun). Berhari-hari ia mencari oksigen sisi ulang untuk bibinya yang sudah berusia 90 tahun.

Sang Bude tiba-tiba tak sadarkan diri. Keluarga sempat membawa pasien ke sebuah rumah sakit swasta, tapi tidak ada kamar kosong. Stok oksigen juga habis.

“Dilempar ke RS Sardjito. Tapi kami nggak mau di sana karena cuma dibaringkan di barak TNI gitu. Karena saking penuhnya,” kata Widya.

Artikel Lainnya: Medfact: Benarkah Susu Sapi Bisa Sembuhkan COVID-19?

Keluarga akhirnya memutuskan pasien dirawat di rumah. Widya kebagian tugas mencari oksigen.

Dia kelabakan mencari ke mana-mana. Empat tempat yang sebelumnya didatangi kehabisan pasokan. Baru di lokasi kelima upayanya membuahkan hasil.

Widya masih kebagian oksigen di sebuah tempat pengisian di Condongcatur. Di sana, jumlah pembelian oksigen juga dibatasi.

“Asal tabung kecil, sanggup isiin mba. Kalau gede, mohon maaf biar yang lainnya juga ikut kebagian,’ kata Widya menirukan kalimat pemilik tempat pengisian.

Kelangkaan oksigen membuat pedagang berada di posisi dilematis. Ninda, pemilik pengisian Ninda Oksigen yang terletak di Jalan Kolonel Sugiyono, Mergangsan, misalnya.

Ia terpaksa membatasi pembelian per orang setengah tabung. Bila ada pelanggan yang membutuhkan untuk keperluan darurat, dia cuma bisa memberikan pengertian.

“Ini kami kasih tabung isi setengah, besok jika ada lagi kami usahakan,” katanya.

Ia lebih mengutamakan konsumen pelanggan pribadi. Sebab, menurut Ninda, kebutuhan rumah sakit biasanya sudah dipasok distributor.

Namun, adakalanya rumah sakit yang kehabisan oksigen juga meminta pasokan dari Ninda. Kalau sudah begitu, ia biasanya hanya mengizinkan pembelian maksimal dua tabung.

Ninda pernah menolak permintaan sebuah rumah sakit di Yogyakarta yang membutuhkan 30 tabung.

“Kalau rumah sakit minta 30 unit, entar masyarakat umum gimana? Kasihan kalau kami yang agen kecil tidak memperhatikan masyarakat kecil,” katanya serba salah.

Menurut Ninda, penjual oksigen eceran berada di posisi yang tidak mengenakan saat ini. Meski naiknya permintaan bisa berarti menambah keuntungan, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Bila stok oksigennya habis, Ninda khawatir banyak pasien yang dirawat di rumah akan kehabisan.

Terlebih, oksigen tidak hanya dibutuhkan pasien COVID-19. Orang dengan kondisi tertentu juga butuh tabung oksigen untuk membantu bertahan hidup.

Artikel Lainnya: Kenali Varian Lambda, Mutasi Baru Virus Corona

“Mereka mau ke RS, sudah overload. Jadi memang harus pakai hati, sih, sekarang. Bukan cuma cuan doang,” imbuhnya.

Menipisnya stok oksigen mulai Ninda rasakan beberapa pekan belakangan. Berkurangnya stok mulai terasa sejak kasus positif virus corona di Yogyakarta mencapai 300 orang per hari.  

Saat situasi normal, Ninda bisa menyewakan dan mengisi ulang 30 tabung per hari. Adapun untuk penjualan tabung biasanya 10-15 tabung ukuran kecil per bulan.

“Tapi ketika krisis, dalam dua hari saya bisa jual 20-30 tabung,” katanya.

Ninda bahkan harus mencari pasokan hingga keluar kota. Sebab, menurut dia, agen kecil belum dapat pasokan produsen.

Ia berharap pihak terkait mengatur regulasi soal pasokan oksigen. Sebelum lonjakan kasus COVID-19 menggila, lanjut dia, hal semacam itu belum terpikirkan. Ninda tidak keberatan bila pemerintah menggandeng agen oksigen skala kecil.

“Seharusnya ada meeting sebelum krisis, biar tahu action plan-nya gimana kalau ada lonjakan,” ucapnya.

Baca artikel di Klikdokter untuk informasi lebih lanjut seputar kondisi kekurangan oksigen dan cara mengatasinya. Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter-dokter terpercaya lewat fitur LiveChat.

(JKT/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar