Sukses

Bisakah Manusia Hidup dengan Sebelah Paru? Ini Faktanya

Terdapat beberapa kondisi yang memungkinkan paru-paru untuk diangkat. Lantas, bagaimana kondisi manusia yang harus hidup dengan satu paru-paru? Cek faktanya!

Kanker merupakan salah satu penyakit yang dapat menggerogoti paru-paru. Ketika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin dokter akan menganjurkan pasien untuk mengangkat sebelah paru-paru.

Dalam medis, operasi pengangkatan paru-paru dikenal dengan istilah pneumonektomi. Setelah semua prosedur selesai dilakukan, pasien hanya akan hidup dengan satu paru-paru.

Lantas, apa jadinya jika seseorang harus hidup dengan sebelah paru?

Artikel lainnya: Pneumonia, Penyakit Paru yang Bisa Sebabkan Kematian

1 dari 4 halaman

Penyebab Paru-Paru Diangkat

Kanker paru disebut sebagai salah satu penyebab umum dilakukannya tindakan pengangkatan sebelah paru. Namun, tidak semua pengidap kanker paru-paru perlu ditangani dengan cara tersebut.

Pneumonektomi biasanya dilakukan hanya pada orang yang paru-parunya digerogoti tumor berukuran sangat besar. Tumor tersebut juga dinilai berbahaya dan perlu diangkat ketika menjangkiti area sekitar pusat paru-paru.

Tak hanya itu, dr. Reza Fahlevi, Sp. A mengatakan bahwa penyebab pengangkatan sebelah paru dapat pula dikarenakan infeksi berat.

“Ada infeksi berat pada salah satu paru-paru. Atau, dia lahir dengan kondisi cacat bawaan, di mana salah satu paru-parunya tidak berkembang. Bisa juga karena selama hidupnya pernah mengalami trauma pada sebelah parunya,” jelas dr. Reza.

Adapun penyebab pengangkatan paru-paru lainnya, yaitu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta bronkiektasis atau kondisi ketika dinding saluran udara menjadi tebal dan terluka

2 dari 4 halaman

Hidup dengan Sebelah Paru, Mungkinkah?

Pasca menjalani pneumonektomi, pasien mungkin dapat menjalani hidup dengan normal. Namun, tidak normal sepenuhnya, seperti ketika masih memiliki dua paru-paru.

“Dengan satu paru, kapasitas pernapasannya menjadi lebih rendah. Fungsi paru-paru juga akan menurun. Otomatis, orang yang hidup dengan satu paru-paru akan lebih mudah merasa lelah,” jelas dr. Reza Fahlevi, Sp. A.

Mudah lelah hanya menjadi salah satu keluhan orang yang hidup dengan satu paru-paru. Menilik laporan WebMD, dalam beberapa kasus, mereka juga mengalami rasa nyeri, masalah jantung, dan gangguan kesehatan lainnya.

Sementara itu, jika orang tersebut memiliki gangguan paru seperti emfisema dan bronkitis kronis sebelumnya, hidup dengan satu paru-paru dapat menyebabkan kesulitan untuk bernapas.

Artikel Lainnya: Cara Mengatasi Empiema atau Penumpukan Cairan Nanah di Paru-Paru

3 dari 4 halaman

Tips bagi Orang yang Hanya Punya Satu Paru-Paru

Setelah operasi pengangkatan paru-paru, pasien sangat disarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat.

Seperti yang telah disebutkan, hidup dengan satu paru-paru dapat menyebabkan kelelahan dan sulit bernapas. Oleh karena itu, lakukan segala aktivitas, termasuk olahraga, sesuai dengan kapasitas tubuh.

Berkenaan dengan itu, dr. Reza juga menganjurkan orang yang hidup dengan satu paru-paru untuk sebisa mungkin menghindari paparan polusi, seperti dari knalpot atau asap rokok.

“Harus rajin menghirup udara bersih,” kata dr. Reza.

Tak hanya itu, pasien juga dapat belajar dengan profesional terlatih guna mempelajari teknik pernapasan khusus. Hal ini berguna untuk memperkuat kemampuan paru-paru bernapas dan menghilangkan cairan yang menumpuk setelah operasi.

Jika pasien mengalami kondisi khusus seperti sesak napas, infeksi, demam, batuk, bengkak, dan nyeri saat bernapas yang kian parah, sebaiknya jangan menunda untuk berobat ke dokter. Nantinya, dokter akan memberikan penanganan lebih lanjut.

Meski berat dan banyak pantangan, manusia tetap dapat hidup dengan satu paru-paru. Tetaplah berusaha optimis, dan patuhi setiap anjuran yang diberikan dokter. Dengan begitu, kualitas hidup bisa tetap terjaga meski Anda harus hidup dengan satu paru-paru.

Apabila memiliki pertanyaan mengenai hidup dengan sebelah paru, Anda bisa berkonsultasi secara langsung dengan dokter melalui LiveChat 24 jam atau aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar