Sukses

Dampak Buruk Sering Melakukan Prank kepada Anak

Fenomena orangtua yang melakukan prank kepada anaknya sering ditemukan di media sosial. Hal ini bukanlah sesuatu yang mesti dicontoh. Kenali bahaya prank terhadap anak.

Prank adalah kejahilan yang dilakukan untuk sebuah bentuk kesenangan. Perilaku tersebut semakin booming di internet.

Parahnya, prank bukan cuma dilakukan oleh kalangan remaja. Tak sedikit orangtua yang dengan sengaja melakukan prank kepada anaknya. Apakah Anda termasuk salah satunya? Jika ya, sebaiknya jangan dilakukan lagi.

Faktanya, melakukan prank kepada anak malah bisa membuatnya mengalami banyak kerugian, khususnya dari segi kesehatan mental.

Artikel Lainnya: Dampak Negatif Media Sosial Bisa Picu Histrionic Personality Disorder

Berikut beberapa dampak negatif prank yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya:

1 dari 4 halaman

1. Merasa Tidak Aman

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, anak yang dijahili terus-menerus oleh orangtuanya dapat mengembangkan perasaan tidak aman ketika di rumah. Hal ini khususnya terjadi jika prank dilakukan pada anak berusia 6 hingga 12 tahun.

Menurut Gracia, pada usia early childhood, rasa aman sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembang. Apabila rasa aman tersebut tidak dirasakan Anak, bukan tidak mungkin tumbuh kembangnya akan terhambat.

“Misalnya, prank seakan-akan anak dalam situasi yang sangat tidak aman, entah ditinggal sendirian, dimarah-marahi, diberikan hal yang tidak disukai. Hal itu dapat membuat mereka merasa tidak aman ketika ada di dekat orangtuanya,” ucap Gracia.

2. Berpengaruh Buruk Terhadap Perkembangan Emosi

Melansir dari psychology today, menjadikan anak sendiri sebagai bahan lelucon dapat diartikan sebagai ekspresi permusuhan terselubung. Terkadang, hal ini sangat terasa menyakitkan, bahkan hingga mempengaruhi harga diri anak.

Cepat atau lambat, anak yang sering dikerjai oleh orangtuanya sendiri akan memiliki rasa percaya diri yang rendah. Bukan tidak mungkin, hal ini akan membuat kondisi mentalnya tidak stabil.

2 dari 4 halaman

3. Mengikis Kepercayaan Anak kepada Orangtua

Anak-anak belajar mempercayai keamanan lingkungan tempat tinggalnya dari orang-orang yang paling dekat dengannya.

Oleh karena itu, jika anak selalu dijahili atau dijadikan target prank, hal tersebut dapat menurunkan rasa percaya anak terhadap orangtua dan lingkungan sekitarnya.

“Rasa ketidakpercayaan bisa terjadi karena pola asuh yang seharusnya diterapkan secara konsisten, hangat, memberikan rasa aman tidak terpenuhi,” ucap Gracia.

“Namun, hal tersebut sebenarnya sangat tergantung banyak faktor dan konteks seberapa sering prank pada anak dilakukan,” sambungnya.

Artikel Lainnya: Cara Media Sosial Merusak Kesehatan Mental

4. Mudah Merasa Cemas

Menurut Gracia, sebelum melakukan prank kepada anak, orangtua sebaiknya mempertimbangkan terlebih dahulu dampak yang mungkin ditimbulkan.

Jika si kecil tampak menikmati humor semacam itu, sesekali melakukan prank kepadanya mungkin tidak mengapa.

Namun, untuk anak yang tidak suka dijahili, menjadikannya sebagai target prank malah bisa menumbuhkan perasaan cemas dalam dirinya. Bukan tidak mungkin, mereka pun akan mengalami depresi lantaran terlalu sering dijahili.

3 dari 4 halaman

5. Trauma

Perasaan cemas, takut, dan tidak aman yang anak rasakan akibat sering dijadikan target prank dapat menimbulkan trauma. Kondisi ini bahkan bisa dibawanya hingga dewasa kelak.

Demikianlah beberapa dampak negatif prank kepada anak. Setelah mengetahuinya, Anda diharapkan berpikir dua kali lebih dulu sebelum melakukan prank kepada anak.

“Jika anak usia early childhood yang tipenya pemberani dan bisa membedakan mana yang bercanda dan serius, (sesekali melakukan prank) mungkin tidak akan berdampak signifikan pada perkembangannya,” tutur Gracia.

Akan tetapi, daripada melakukan prank anak, lebih baik pilih aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan dapat membantu mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Anda ingin si kecil tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mentak, bukan?

Ingin tahu lebih lanjut bagaimana cara mencegah bahaya prank pada anak? Punya pertanyaan lain seputar kesehatan mental? Anda bisa melakukan konsultasi kepada psikolog melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar