Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Smart Sharing, Program untuk Turunkan Angka Stunting Indonesia

Smart Sharing, Program untuk Turunkan Angka Stunting Indonesia

Prenagen, Klikdokter, dan BKKBN meluncurkan program Smart Sharing guna menurunkan kejadian stunting di Indonesia.

Pada Selasa (4/5), Prenagen bersama Klikdokter mendukung Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan percepatan penanganan stunting.

Untuk itu, BKKBN, Klikdokter, dan Prenagen berkolaborasi meluncurkan program bertajuk “Smart Sharing: Program Kerjasama Penurunan Angka Stunting di Indonesia”.

Program ini akan melakukan serangkaian kegiatan edukasi baik online maupun offline yang menjangkau dan melibatkan bidan di seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, ketiganya juga melakukan pilot project untuk program terobosan gizi dan studi observasional demi menekan stunting di beberapa daerah di Indonesia.

Gagal tumbuh pada anak atau stunting berhubungan erat dengan gizi buruk dalam waktu cukup lama.

Bila tidak ditangani serius, dikhawatirkan makin banyak orang yang tumbuh dewasa dengan perkembangan kognitif lambat. Mereka juga berisiko gampang sakit dan produktivitas berkurang.

Seribu hari pertama atau kurang lebih tiga tahun kehidupan sejak di kandungan menjadi masa penting seseorang untuk membangun kelengkapan gizi.

Bila lewat dari masa tersebut, dampak negatif akibat kurang gizi menjadi sulit diatasi. Kurangnya gizi yang dialami ibu hamil juga dapat menyebabkan stunting.

Ditemui langsung dari gedung BKKBN di Jakarta Timur, Group Business Unit Head Woman Nutrition KALBE Nutritionals, Sinteisa Sunarjo, mengatakan, “Nutrisi mengambil peran penting yang perlu diperhatikan oleh calon orangtua, baik sejak masa perencanaan, kehamilan, hingga menyusui.”

“Kami sebagai penyedia produk nutrisi untuk ibu hamil, sangat menaruh perhatian dan mendukung pemberian nutrisi terbaik pada 1.000 hari pertama kehidupan, terutama nutrisi makro dan mikro yang penting dikonsumsi,” sambung Sinteisa.

Artikel Lainnya: Dampak Stunting pada Masa Depan Anak

Ada beberapa faktor yang menyebabkan angka stunting di Tanah Air tinggi. Utamanya karena beberapa kelahiran bayi telah dalam keadaan kekurangan gizi. Lalu, bayi tersebut juga dibesarkan dengan kekurangan zat gizi.

Faktor eksternal, misalnya fasilitas sanitasi buruk, akses air bersih minim, dan kebersihan lingkungan yang buruk, dapat memengaruhi stunting.

Bukan hanya itu, faktor internal seperti kekurangan gizi yang kronis dapat menyebabkan kondisi anemia pada bayi baru lahir, abortus, cacat bawaan, bayi berat badan lahir rendah, hingga kematian.

Apabila anak-anak kekurangan gizi, kemampuan sumber daya manusia (SDM) masa depan jadi tak maksimal.

Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana BKKBN, dr. Zamhir Setiawan, M.Epid, mengatakan angka stunting di Indonesia sebenarnya sudah menurun dalam 5 tahun terakhir. Namun, angka tersebut masih di bawah rekomendasi WHO.

“Jumlah kasus stunting di Indonesia tahun 2019 mencapai 27,67 persen. Angka itu berhasil ditekan dari 37,8 persen di tahun 2013. Tetapi, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan WHO, yaitu kurang dari 20 persen.”

Artikel Lainnya: Risiko Stunting Meningkat Saat Pandemi, Mengapa?

Dokter Zamhir turut menjelaskan, hingga akhir tahun lalu Indonesia masih berada di urutan ke-4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting.

Program “Smart Sharing” akan dimulai pada April 2021. Tujuannya memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mempersiapkan ketahanan kesehatan keluarga untuk mencegah stunting, serta menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi.

Secara garis besar, program ini akan menggelar 3 jenis kegiatan, yaitu edukasi secara online dan offline, serta program intervensi gizi di 2 kabupaten atau kota.

Untuk kebutuhan ini, Klikdokter memakai aplikasi KlikKB sebagai pusat komunikasi dalam program ini.

KlikKB adalah aplikasi yang berisi informasi mengenai perencanaan kehamilan, tumbuh kembang anak, hamil, pemakaian kontrasepsi, dan konsultasi gratis bersama para bidan secara online.

Aplikasi ini memiliki fitur untuk ibu hamil, bidan, dan ibu dengan batita. Segala fitur yang disediakan berguna memantau keadaan janin dan nutrisi si kecil demi membantu meminimalkan risiko stunting.

Direktur PT Medika Komunika Teknologi (Klikdokter), Bonny Mateus Anom, menjelaskan kesiapan dan dukungan terhadap program ini.

Artikel Lainnya: Penyebab dan Cara Mencegah Stunting pada Anak

“Program ini sangat penting, karena edukasi perlu dilakukan secara masif kepada sebanyak mungkin perempuan di Indonesia,” ujar Bonny.

“Edukasi yang akan diberikan antara lain mengenai pentingnya pengetahuan seputar masa persiapan, masa hamil dan masa menyusui, serta edukasi tentang nutrisi yang dibutuhkan untuk mencegah terjadinya stunting, kematian ibu melahirkan, dan kematian bayi,” jelasnya.

Selain melalui aplikasi KlikKB, edukasi akan disampaikan melalui media digital yang dimiliki Prenagen, BKKBN, dan Klikdokter. Edukasi juga dapat diberikan secara offline di klinik-klinik dan melalui para bidan.

Secara berkala, edukasi akan hadir dalam bentuk infografis dan video edukasi di aplikasi KlikKB. Edukasinya pun dapat diakses melalui situs dan kanal media sosial BKKBN, Prenagen, dan Klikdokter.

Selanjutnya, kolaborasi ini juga akan menggelar rangkaian webinar untuk komunitas masyarakat dan bidan secara umum. Ada pula sejumlah kegiatan social media live untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang stunting.

Artikel Lainnya: Pastikan Anak Stunting Mendapatkan 5 Nutrisi Ini Setiap Hari

1 dari 2 halaman

Studi Observasional dan Program Intervensi Gizi

Menurut Sintesia, rencana observasi dan program terobosan gizi terhadap ibu dan bayi ini menjadi aspek penting dalam project Smart Sharing ini.

Hal ini dilakukan untuk mengatasi masalah stunting yang terjadi di Indonesia. Caranya dengan melakukan observasi mendalam terhadap tiga kelompok partisipan, yakni ibu yang tengah hamil 4-6 bulan, ibu menyusui bayi 0-3 bulan, serta bayi yang sudah berusia 6-9 bulan.

Kepala BKKBN Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) bersama KALBE Nutritionals dan Klikdokter telah meluncurkan pilot project untuk intervensi gizi dan studi observasional dalam mencegah stunting, 12 April 2021 di Godean, Kab. Sleman.

Peluncuran tersebut disaksikan oleh Kepala Dinas P3AP2KB Sleman Mafilindati Nurani, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dwi Listyawardani, dan Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto.

Program intervensi gizi dan studi observasional akan dilangsungkan sampai Januari 2022 di Kota Madiun, Jawa Timur dan Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Dalam sambutannya, dr. Hasto menegaskan, “Stunting harus ditekan dari hulu ke hilir mulai dari program edukasi hingga intervensi gizi untuk mencegah anak gagal tumbuh. Program edukasi penting agar anak tidak salah gizi dan yang juga harus diperhatikan adalah pengamatan terhadap kondisi gizi anak.”

Ia pun mengatakan, pandemi membuat aktivitas posyandu di berbagai daerah terhambat dan terhenti. Nyatanya, posyandu selama ini berperan penting menjadi langkah pertama dalam pengawasan gizi anak. 

Dokter Hasto berharap, kolaborasi ini menjadi alternatif supaya kesehatan dan gizi anak di Indonesia terpantau. 

Artikel Lainnya: Tanda Anak Stunting yang Perlu Anda Perhatikan

Ajakan Kepala BKKBN untuk menyelesaikan masalah stunting disambut baik oleh Direktur Utama PT Medika Komunika Teknologi (Klikdokter), Dino Bramanto.

Dino menuturkan, “Sepuluh tahun terakhir, kita melihat dunia digital telah menjadi stimulus bagi perubahan sosial di negeri ini. Jadi sebaiknya, kita manfaatkan juga untuk memecahkan masalah-masalah besar bangsa, salah satunya adalah menekan angka stunting ini.”

Platform digital ini memungkinkan program edukasi yang dipimpin BKKBN menjangkau bidan dan anggota masyarakat di berbagai daerah dengan cepat. Kami bangga bisa berkolaborasi dengan Kalbe Nutritionals untuk sama-sama mendukung BKKBN dalam program penurunan angka stunting di Indonesia,” tambahnya.

President Director KALBE Nutritionals, Ongkie Tedjasurja, juga mengungkapkan harapannya. Menurutnya, program perbaikan gizi ibu hamil, wanita usia subur, dan bayi pada akhirnya adalah investasi penting bagi masa depan bangsa.

Ongkie Tedjasurja menyatakan pihak Kalbe Nutritionals memiliki komitmen sebagai produsen nutrisi untuk tiap tahap kehidupan manusia. Mulai dari persiapan kehamilan hingga kalangan lansia.

Ongkie berharap program inisiatif ini didukung oleh instansi agar bisa membawa hasil nyata bagi anak Indonesia dan angka stunting dapat turun sesuai yang diharapkan.

Untuk mengetahui informasi kesehatan lebih mudah, download aplikasi Klikdokter. Anda juga bisa konsultasi ke dokter lebih cepat lewat LiveChat.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar