Sukses

Seperti Apa Frekuensi Napas Bayi yang Normal?

Napas bayi yang kadang terlalu cepat atau terlalu lambat membuat orangtua khawatir. Oleh karena itu, ketahui frekuensi pernapasan bayi yang normal.

Bayi baru lahir sering memiliki napas yang tidak teratur. Mereka bisa bernapas cepat, mengambil jeda lama di antara napas, dan membuat suara napas yang tidak biasa. 

Apabila melihat frekuensi pernapasan bayi yang tidak biasa, orangtua umumnya akan panik. Agar tidak khawatir berlebihan, ketahui ciri dan frekuensi pernapasan yang normal pada bayi berikut ini.

1 dari 3 halaman

Frekuensi Pernapasan Bayi yang Normal

Bunyi suara napas bayi yang baru lahir memang berbeda dengan orang dewasa. Sebab, bayi lebih banyak bernapas melalui hidung ketimbang mulut. 

Di samping itu, saluran pernapasan bayi pun belum berkembang sempurna. 

Bayi baru lahir juga masih harus belajar bernapas menggunakan paru-paru dan otot pernapasannya. 

Artikel Lainnya: Dampak ISPA pada Perkembangan Anak

Selain itu, dinding dada bayi umumnya masih lentur karena sebagian besar terbuat dari tulang rawan. 

Bayi kemungkinan masih memiliki cairan ketuban dan mekonium di saluran napasnya. Karenanya, sangat normal jika sesekali ia mengalami laju napas yang lambat atau terlalu cepat

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong, frekuensi napas bayi yang normal biasanya tidak lebih dari 60 kali per menit (untuk bayi berusia kurang dari dua bulan). 

Sedangkan untuk bayi yang sudah berusia 2 sampai 11 bulan, frekuensinya tidak lebih dari 50 kali per menit. Sementara itu, untuk bayi di atas 12 bulan, frekuensi napas yang normal adalah tidak lebih dari 40 kali per menit. 

Jadi, rerata frekuensi pernapasan untuk bayi baru lahir adalah 30 sampai 60 kali per menit. Bayi baru lahir juga bisa bernapas cepat dan kemudian berhenti hingga 10 detik setiap kali.

Bayi baru lahir dapat mengalami masalah pernapasan yang umum seperti takipnea. Setelah 6 bulan, sebagian besar masalah pernapasan tersebut, alergi, atau flu biasanya akan membaik dengan sendirinya.

Artikel Lainnya: Cara Mengatasi Hidung Bayi yang Tersumbat

Orangtua juga harus tahu, siklus pernapasan bayi kerap berubah-ubah. Si kecil dapat bernapas semakin cepat dan dalam, kemudian berubah menjadi lebih lambat dan dangkal. 

Bayi pun bisa mengalami henti napas dalam beberapa detik. Hal itu pada dasarnya normal sehingga orang tua tidak perlu khawatir. 

Hanya saja, bila perubahan frekuensi napas ini terjadi dalam waktu lama, misalnya henti napas terjadi lebih dari 10 detik atau 1 menit, orang tua perlu waspada. Dianjurkan untuk segera memeriksakan si kecil ke dokter. 

2 dari 3 halaman

Tanda Pernapasan Bayi Tidak Normal

Frekuensi pernapasan bayi yang kerap berubah-ubah ini sering menyebabkan orangtua khawatir. 

Oleh karena itu, ortu harus tahu beberapa tanda pernapasan bayi yang tidak normal. Berikut penjelasannya:

  1. Tubuh Seperti Menarik Saat Bernapas 

“Selain dari frekuensinya, tanda napas tidak normal juga bisa dilihat dari gerakan saat bernapas. Misalnya, ada tarikan di otot leher, di dinding dadanya, atau mungkin perutnya ikut tertarik saat bernapas. Jika hal ini terjadi, maka bisa jadi ada yang salah dengan sistem pernapasan anak,” jelas dr. Sepriani.

  1. Warna Tubuh Anak Berubah

Perubahan warna tubuh anak juga bisa menjadi tanda ada yang salah dengan laju napas si kecil. 

Dijelaskan oleh dr. Sepriani, warna tubuh anak yang berubah menjadi biru keunguan harus diwaspadai. 

Hal itu menandakan anak sulit bernapas sehingga muncul perubahan warna tubuh. Ada kemungkinan si kecil tersedak atau tercekik sehingga mereka kesulitan bernapas. 

Artikel Lainnya: Bagaimana Bayi Bernapas dalam Rahim?

  1. Suara Napas Berbeda

Suara napas anak harus ortu perhatikan dengan jelas Untuk mengetahui suara napas yang normal, letakan telinga Anda di sebelah mulut dan lubang hidung bayi. 

Apabila suaranya terdengar clean atau bersih, tandanya pernapasan anak baik-baik saja. Akan tetapi, jika suaranya terdengar seperti ‘grok’ atau kasar, maka segera konsultasikan kepada dokter anak. 

Semakin cepat Anda membawa anak ke rumah sakit, semakin kecil juga risiko kesehatan yang mungkin terjadi.

Anda juga bisa berkonsultasi secara online dengan dokter kami lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar