Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mengenal Operasi Atresia Ani untuk Atasi Bayi yang Lahir Tanpa Anus

Mengenal Operasi Atresia Ani untuk Atasi Bayi yang Lahir Tanpa Anus

Bayi yang lahir tanpa anus perlu mendapatkan tindakan operasi agar bisa hidup normal. Apa saja operasi atresia ani yang akan dilakukan dokter? Berikut penjelasannya.

Aktivitas buang air besar dilakukan melalui anus. Sayangnya, hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh bayi yang mengalami kondisi medis atresia ani alias kelainan anus.

Faktanya, terdapat 1 dari 5.000 bayi baru lahir yang mengalami kelainan anus. Bayi laki-laki lebih sering mengalaminya ketimbang perempuan.

Dalam kasus tersebut, bayi bisa saja tidak memiliki anus. Kalaupun ada, mereka yang mengalaminya bisa saja memiliki lubang anus yang terlalu dekat dengan alat kelamin.

Kelainan bawaan lahir tersebut sangat serius dan membutuhkan perawatan sesegera mungkin. Pasalnya, kelainan anus bisa menyebabkan sepsis, yakni keracunan akibat proses pembusukan.

Bayi dengan kelainan anus juga mungkin akan mengalami kelainan di ginjal, saluran kemih, jantung, atau organ lain.

Bayi dengan kelainan anus mesti mendapatkan operasi atresia ani untuk bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya.

Orangtua tidak perlu khawatir dengan tahapan operasi atresia ani, karena prospeknya sangat positif.

Artikel Lainnya: Kelainan Bayi, Ini Cara Mencegahnya

Berikut di bawah ini jenis operasi yang dilakukan oleh dokter untuk mengatasi masalah atresia ani:

1 dari 3 halaman

1. Kolostomi

Tindakan medis ini biasanya dilakukan ketika bayi belum tepat waktunya untuk dioperasi. 

Hal tersebut bisa disebabkan oleh pertimbangan masalah kongenital lain yang mesti dipantau terlebih dahulu.

“Jika kondisi bayi belum siap, dokter akan melakukan kolostomi untuk membuat anus buatan di perut. Kantung yang dipakai namanya colostomy bag,” kata dr. Dyah Novita Anggraini.

Pertolongan darurat ini dilakukan dengan cara melubangi dinding perut (stoma) sebagai saluran pembuangan. 

Lubang buatan akan disambungkan dengan usus, sehingga kotoran bayi bisa keluar dan tertampung di colostomy bag.

Karena merupakan pertolongan darurat, kondisi seperti ini hanya berlaku sementara waktu hingga bayi bisa dioperasi.

2 dari 3 halaman

2. Perineal Anoplasty

“Kadang juga ditemukan kondisi fistula pada bayi, yaitu saluran yang berhubungan dengan organ lain, misalnya saluran kemih dan organ genitalia. 

Jika begitu, tindakan operasi yang dilakukan bukan kolostomi, melainkan perineal anoplasty,” kata dr. Dyah Novita.

Perineal anoplasty merupakan jenis operasi untuk memperbaiki dan menutup fistula yang terhubung dengan vagina atau saluran kemih. Lalu, lubang anus akan dibuat oleh dokter bedah di posisi yang seharusnya.

Kabar baiknya, tingkat keberhasilan operasi ini tinggi, meski diperlakukan beberapa kali pembedahan untuk hasil yang optimal.

Artikel Lainnya: Konsumsi ini Selama Hamil agar Bayi Tak Lahir Cacat

Setelah pembedahan selesai dilakukan, bayi akan dirawat di rumah sakit selama beberapa hari untuk memulihkan kondisi. 

Manajemen nyeri dan hidrasi juga terus dilakukan oleh tim medis. Selain itu, anak juga akan dipasangi selang kecil di hidungnya yang terhubung ke perut.

Setelah usus kembali normal dengan tanda bisa mengeluarkan gas dan tinja dengan sendirinya, selang akan dikeluarkan dari hidung dan anak diizinkan untuk makan. 

Apabila proses makan secara langsung berjalan baik, anak bisa pulang ke rumah. Orangtua disarankan memantau jumlah asupan yang anak konsumsi agar ia tetap terhidrasi. 

Hal ini sangat penting dalam masa pemulihan. Obat-obatan tertentu biasanya juga akan diresepkan dokter, khususnya jika ada masalah kulit pasca operasi .

Pemeriksaan selanjutnya oleh dokter tetap akan dijadwalkan dalam 1 atau 2 minggu ke depan. Pada kunjungan tersebut, stoma, bekas sayatan, dan berat badan bayi akan dipantau.

Pada saat yang sama, orangtua juga bisa bertanya tentang perawatan jangka panjang yang bisa dilakukan untuk mencegah masalah usus dan anus pada pasien.

Itu dia informasi mengenai tindakan operasi atresia ani atau anus imperforata pada bayi.

Orangtua bisa mencegah kondisi cacat lahir dengan memenuhi kebutuhan asam folat dan menghindari zat-zat berbahaya selama hamil.

Bila masih ada pertanyaan seputar kesehatan anak atau kehamilan, Anda bisa mengonsultasikannya kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar