Sukses

Apa Itu Survivorship Bias di Masa Pandemi COVID-19?

Muncul konsep pemikiran yang bisa merugikan diri dan orang lain saat pandemi yaitu survivorship bias. Yuk, cari tahu lebih lanjut!

Tekanan dan kesulitan di masa pandemi menciptakan sejumlah cara atau pola berpikir untuk “bertahan hidup”. Salah satunya yang sedang banyak terjadi adalah survivorship bias

Karena makin banyak orang bergejala ringan dan tanpa gejala yang berhasil negatif dari infeksi virus corona, kemungkinan makin banyak pula jumlah orang yang memandang sebelah mata wabah tersebut. 

1 dari 3 halaman

Mengenal Konsep dan Contoh Survivorship Bias

Bias bertahan hidup ini adalah kecenderungan berpikir yang hanya fokus pada tingkat keberhasilan saja. 

Jika konteksnya adalah pandemi, maka orang yang punya pola pikir tersebut hanya memusatkan pikirannya pada tingkat kesembuhan, keringanan gejala, dan kondisi lingkungan yang terlihat baik-baik saja.

Mereka mengabaikan orang-orang yang tidak berhasil selamat akibat wabah ini. Bahkan, cenderung cuek dengan orang yang sedang berjuang di masa pandemi sekarang ini meski jumlah korbannya sudah jutaan. 

Artikel Lainnya: Ancaman Pandemi Disease X, Apakah Lebih Parah dari COVID-19?

Adapun contoh-contoh survivorship bias yang kerap dinyatakan antara lain:

  1. “Rakyat Indonesia itu ada 250 juta lebih. Orang yang terinfeksi COVID-19 hanya 1,5 juta. Jadi lebih banyak jumlah orang yang baik-baik saja saja, kan?” 

Padahal, jika tak dikendalikan, maka jumlah penderita akan semakin bertambah. 

  1. “Virus corona tak seberbahaya itu. Saya juga penyintas dan tidak merasakan gejala yang terlalu parah, kok.” 
  2. “Saya sama keluarga lancar-lancar saja melewati pandemi di rumah. Kok, yang lain ribet dan sulit banget kayaknya melewati pandemi?” 

Padahal, tak semua orang punya anggota keluarga yang sehat, kesempatan WFH, dan penghasilan yang utuh atau tetap. 

  1. “Sekolah anak bisa melakukan tes swab antigen setiap kali masuk dan ada air purifier-nya juga. Kok, ortu yang lain takut sekali anaknya sekolah tatap muka?” 

Padahal, kondisi tersebut hanya dirasakan oleh siswa sekolah swasta dengan bayaran tinggi. 

  1. “Sekarang ngapain takut keluar rumah? Saya yang dulunya di rumah terus sejak awal pandemi ujung-ujungnya sempat tertular juga! Sama saja risikonya.”
  2. “Jumlah orang di sekitar saya yang terinfeksi covid makin sedikit, jadi keadaan sudah membaik.” Padahal, hal itu bisa saja disebabkan oleh jumlah testing dan tracing yang menurun. 

Artikel Lainnya: Pandemi COVID-19 Bikin Anak Rentan Mengalami Mata Minus

Di balik itu semua, tetap ada jumlah kematian yang terus meningkat. Lansia banyak meninggal mendadak karena orang tanpa gejala. Pasien dengan gejala sedang, berat, dan kritis juga bukan sekadar mitos. 

Para tenaga medis berguguran akibat tertular virus SARS-CoV-2 dari banyaknya pasien yang mereka rawat di rumah sakit. Fasilitas kesehatan juga penuh. 

Semua hal tersebut juga berdampak pada perekonomian. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan akibat wabah ini.

Tak sedikit orang yang masih bersedih karena ditinggal anggota keluarga dan kerabat terdekat akibat COVID-19. Pasien dengan gejala sedang hingga berat biasanya juga menderita long covid meski hasil tesnya sudah menyatakan negatif. 

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, pemikiran survivorship bias muncul karena banyak orang yang memang lebih percaya pada pengalaman dan intuisi ketimbang sains atau fakta. 

Mereka juga terbiasa hanya mengandalkan pengetahuan yang dipunya sekarang (menolak upgrade ilmu). 

Lalu, mereka belum bisa melihat permasalahan sosial secara utuh. Alhasil, konsep tersebut terbentuk dan tersebar. 

Artikel Lainnya: Centang Perenang Setahun Pandemi COVID-19

2 dari 3 halaman

Dampak Negatif Survivorship Bias

Psikolog Ikhsan menambahkan, “Sebenarnya wajar bila hal tersebut sampai terjadi. Ada kalanya berpikir ‘positif’ bisa membuat kita bertahan di masa pandemi. 

Jika terlalu fokus pada sudut pandang kita sendiri dan mengabaikan kondisi orang lain, ujung-ujungnya itu tidak baik juga.”

Sementara, dr. Arina Heidyana berpandangan, “Pemikiran ini memang berbahaya. Karena, kita cenderung meremehkan suatu masalah.”

“Kalau pemikiran tersebut semakin tersebar dan banyak yang kemakan omongan si penyebar, makin banyak juga yang meremehkan pandemi ini. Alhasil, makin lama pula berakhirnya wabah COVID-19,” jelas dr. Arina.

Rasa empati juga akan semakin menipis dengan adanya bias bertahan hidup. Dokter Arina menambahkan, “Kenyataannya, banyak juga yang berjuang mati-matian melawan virus ini.”

Artikel Lainnya: Cara Menjaga Kesehatan Mental Remaja di Masa Pandemi COVID-19

“Banyak yang kehilangan anggota keluarga secara mendadak. Tidak semua orang memiliki kondisi dan privilege yang sama. Itu yang perlu diingat,” pesannya.

Cobalah untuk melihat permasalahan yang ada secara utuh, bukan hanya melihat diri sendiri. Pahamilah, tidak semua orang bisa baik-baik saja. 

Jika terbiasa berpikir objektif dan meningkatkan rasa empati, maka konsep survivorship bias akan memudar dan penyelesaian pandemi virus corona diharapkan bisa lebih optimal. 

Dapatkan informasi terkini seputar kesehatan dari para pakar di Klikdokter. Anda bisa konsultasi ke dokter dan psikolog lewat fitur LiveChat.

(FR/AYU) 

0 Komentar

Belum ada komentar