Sukses

Waspada Testicular Torsion Akibat Sering Melipat Penis

Sering melipat penis secara paksa dapat meningkatkan risiko testicular torsion atau torsio testis. Kenali dan waspadai gejalanya sebelum terlambat!

Seorang wanita transgender berusia 24 tahun di Filipina rela menyembunyikan penis miliknya dengan melakukan tucking atau melipat ke bagian dalam. Hal tersebut dilakukan karena dirinya belum menjalani operasi kelamin.

Awalnya, ‘wanita’ tersebut tidak merasakan masalah apa-apa. Namun, suatu hari, ia tiba-tiba merasakan kesakitan yang luar biasa di bagian kemaluannya. 

Saat mengalami hal itu, ia mencoba mengembalikan penis miliknya ke posisi normal.  Sayangnya, penis malah tersangkut dan membuat testis menjadi bengkak. 

Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa dirinya mengalami testicular torsion atau torsio testis

Artikel Lainnya: Inilah Biang Kerok Gatal Pada Area Vital Pria

1 dari 3 halaman

Apa Itu Testicular Torsion?

Melansir dari Very Well Health, torsio testis merupakan keadaan gawat yang bisa mencetuskan nyeri hebat. Keluhan ini dapat terjadi tiba-tiba, khususnya ketika jaringan testis tidak ‘terpasang’ sepenuhnya sehingga memungkinkan organ tersebut untuk berputar. 

Testis terpuntir dari posisi normal bisa menyebabkan korda spermatika, yang merupakan struktur menyerupai tali untuk menggantung testis dalam skrotum (buah zakar). Tali tersebut mengalirkan darah dari perut ke skrotum. Saat penis terpuntir, suplai darah ke organ tersebut dapat terhambat bahkan terhenti. 

Sebagai akibatnya, penderita testis terpuntir dapat mengalami gejala mual dan muntah, frekuensi berkemih meningkat, nyeri perut, dan demam.

Tidak hanya itu, suplai darah yang kurang ke testis juga bisa membuatnya menjadi sangat lunak, merah, dan bengkak. 

Jika terjadi berkelanjutan tanpa penanganan yang tepat, organ penghasil sperma tersebut bisa saja mengalami kematian jaringan (infark) sehingga harus diangkat.

Terkait penyebab torsio testis, dr. Valda Garcia berpendapat bahwa hal tersebut masih misteri alias belum diketahui pasti. Pasalnya, testis terpuntir bisa terjadi kapan saja dan tanpa pemicu yang jelas, sekalipun pria tidak melipat penisnya dengan sengaja. 

Kendati demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang diduga dapat menjadi penyebab testis terpuntir, yaitu riwayat cedera dan faktor genetik.

Artikel Lainnya: Macam-Macam Kelainan yang Bisa Terjadi pada Penis

2 dari 3 halaman

Penanganan dan Pengobatan Testicular Torsion

Berdasarkan dr. Valda, torsio testis harus segera ditangani. Seorang pria yang mengalami nyeri hebat di skrotum atau testis wajib segera mencari pertolongan medis sekalipun tak ditemukan bengkak atau perubahan warna pada organ tersebut. 

Diagnosis torsio testis umumnya dilakukan melalui cek fisik atau USG. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter akan segera memberikan penanganan yang bertujuan untuk melepaskan korda spermatika dan memulihkan suplai darah. 

Jika testis tampak layak, testis akan ditempatkan kembali ke rongga skrotum dengan jahitan permanen. Jahitan yang sama akan dipasang pada testis yang satunya guna menghindari kondisi serupa di masa mendatang. 

Dalam menangani torsio testis, waktu menjadi hal yang sangat penting. Mendapatkan bantuan dalam waktu 4 hingga 6 jam setelah muncul keluhan memberikan kesempatan terbaik bagi testis untuk bisa diperbaiki.

“Jika tidak segera diatasi, bisa menyebabkan penurunan aliran darah pada organ tersebut. Akibatnya, bisa membengkak dan menyebabkan jaringan tersebut mati sehingga harus diangkat,” ucap dr. Valda.

Penelitian mengatakan, sekitar 75 persen pria dengan torsio testis yang menjalani operasi 12 jam setelah keluhan muncul membutuhkan prosedur pengangkatan testis. 

Penyebab torsio testis masih belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, pria sebaiknya waspada akan kondisi ini. 

Apabila mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan testicular torsion atau testis terpuntir, segera berobat ke dokter atau konsultasikan kepada ahlinya melalui LiveChat 24 jam maupun di aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar