Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Vaksin Pfizer Disebut Kurang Cocok bagi Orang Obesitas, Apa Alasannya?

Vaksin Pfizer Disebut Kurang Cocok bagi Orang Obesitas, Apa Alasannya?

Menurut sebuah penelitian, vaksin Pfizer kurang efektif untuk orang dengan obesitas. Mengapa demikian? Simak penjelasan dokter berikut.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Roma, Italia, orang dengan obesitas yang telah menerima dua dosis vaksin Pfizer hanya menghasilkan setengah antibodi, bila dibandingkan orang dengan berat badan normal.

Meski begitu, peneliti merasa masih terlalu dini mengatakan vaksin Pfizer tidak efektif untuk penderita obesitas. Beberapa studi lain mengatakan orang dengan obesitas hanya perlu dosis tambahan untuk menyamakan antibodi dengan orang dengan berat badan normal.

Lantas, apa yang menjadi alasan bahwa vaksin Pfizer virus corona tidak cocok untuk orang obesitas? Langsung saja simak ulasan berikut.

1 dari 3 halaman

Alasan Vaksin Pfizer Kurang Cocok untuk Orang Obesitas

Dikutip dalam the Guardian, Aldo Venuti peneliti di Institut Fisioterapi di Roma dan rekannya meneliti 248 petugas kesehatan yang telah menerima 2 dosis vaksinasi Pfizer.

Hasil penelitian menunjukkan respons antibodi mencapai 99,5 persen pada hari ketujuh usai menerima dosis yang kedua. 

Namun demikian, ternyata respons antibodi yang dihasilkan tidak memiliki efektivitas yang sama pada orang dengan berat badan yang berlebih atau obesitas.

Hal ini kemungkinan terkait dengan penelitian sebelumnya, yakni orang obesitas dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 punya risiko kematian akibat COVID-19 naik hampir 50 persen.

Artikel lainnya: Benarkah Vaksin COVID-19 AstraZeneca Sebabkan Pembekuan Darah?

Selain itu, orang dengan obesitas juga dapat terkena gejala parah bila terpapar virus corona. Biasanya hal ini disebabkan oleh komorbid yang sering dilanda orang dengan berat badan berlebih, termasuk penyakit jantung ataupun diabetes mellitus tipe 2.

Kelebihan lemak di tubuh juga bisa mengakibatkan perubahan metabolisme, misalnya resistensi insulin serta peradangan yang semakin menyulitkan tubuh melawan infeksi.

Dijelaskan oleh dr. Muhammad Iqbal Ramadhan, orang dengan berat badan yang berlebih—selain berisiko terkena penyakit parah saat terpapar virus corona—juga memiliki antibodi yang lebih rendah.

Efeknya, vaksin tidak cukup bekerja bila dibandingkan dengan orang yang mempunyai berat badan ideal.

Artikel lainnya: Fakta Vaksin Corona Sanofi, Bisa Disimpan di Kulkas Biasa

“Efek samping vaksin Pfizer memang ditemukan pada beberapa penelitian. Orang yang berbadan gemuk ataupun obesitas cuma menghasilkan setengah dari antibodi atau respons vaksin yang telah diberikan,” kata dr. Iqbal.

Antibodi yang kurang maksimal itu, dia menjelaskan, ditemukan pada orang obesitas yang sudah mendapatkan dua dosis suntikan vaksin Pfizer.

“Penelitian lain ada juga yang menyebutkan bahwa orang-orang BMI tinggi atau berat badan berlebih cenderung memiliki respons antibodi yang lebih rendah terhadap infeksi aslinya,” dia melanjutkan.

Penelitian terpisah juga menunjukkan, efektivitas vaksin flu pada orang obesitas hanya setengah, bila dibandingkan dengan mereka yang punya berat badan normal.

“Secara risiko memang orang dengan obesitas memiliki sel B dan sel T pada limfosit yang tidak seperti orang normal pada umumnya. Kekebalan tubuh mereka berbeda dengan orang yang punya berat badan ideal,” ucap dr. Iqbal.

Artikel Lainnya: Catat, Pengidap Penyakit Komorbid Ini Tak Boleh Terima Vaksin Sinovac

2 dari 3 halaman

Vaksin COVID-19 yang Cocok untuk Orang Obesitas

Menurut dr. Iqbal, belum bisa dipastikan vaksin mana yang cocok untuk penderita obesitas. Ia mengatakan, perlu penelitian lebih lanjut untuk sampai pada kesimpulan tersebut.

Namun, dari penelitian yang ada, vaksin Pfizer masih terbukti efektif pada orang dengan obesitas. Hanya saja, dijelaskan dr. Iqbal, orang dengan obesitas memerlukan booster atau tambahan dosis penguat untuk menyamakan antibodi dengan orang yang memiliki berat badan normal.

Dikutip dalam New York Post, sampai saat ini memang belum diketahui tingkat antibodi yang diperlukan untuk menetralkan virus. Akan tetapi, para ahli mengkhawatirkan respons antibodi yang berkurang dapat menghalangi upaya vaksinasi.

Yuk, ikuti terus perkembangan vaksin COVID-19 di Indonesia dengan membaca informasi lainnya di aplikasi Klikdokter. Anda juga bisa memanfaatkan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter melalui layanan Live Chat.

[HNS/JKT]

3 Komentar