Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Punya Keinginan Dilecehkan Secara Seksual, Tanda Gangguan Mental?

Punya Keinginan Dilecehkan Secara Seksual, Tanda Gangguan Mental?

Beberapa orang di media sosial mengaku ingin dilecehkan. Apakah perilaku tersebut termasuk ke dalam gangguan mental? Simak apa kata psikolog lewat ulasan ini.

Kasus pelecehan seksual marak terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Bahkan, masih banyak orang yang menganggap remeh pelecehan seksual.

Baru-baru ini, ada beberapa perempuan yang mengaku punya keinginan untuk dilecehkan. Hal itu tertuang jelas dalam sebuah postingan Instagram. Ada salah satu akun yang mengatakan, “Pengen juga rasain dilecehin nya sama orang yang kita sayang. Pengen banget.”

Lalu, ada juga akun Instagram lain yang mengatakan, “Takutnya pas dilecehin aku malah minta namba. Kan, malu.”

Marah, kesal, sedih setelah membaca komentar tersebut? Ya itulah yang dirasakan oleh banyak orang, terutama mereka yang pernah menjadi korban pelecehan seksual. Lantas, apakah orang yang punya keinginan untuk dilecehkan termasuk ke dalam gangguan mental?

1 dari 3 halaman

Penyebab Seseorang Ingin Mendapatkan Pelecehan Seksual

Sebelum mengetahui apakah orang tersebut mengidap gangguan mental atau tidak, mari cari tahu dulu penyebab orang ingin dilecehkan.

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog mengatakan, apabila punya keinginan untuk dilecehkan, bahkan sampai diumbar ke media sosial, orang tersebut bisa saja mengidap gangguan butuh perhatian dari orang lain.

“Bisa jadi mereka hanya cari perhatian dari orang banyak. Individu tersebut memiliki kebutuhan akan diperhatikan sehingga salah satu caranya dengan berharap atau sedang mendapatkan pelecehan seksual,” ujar psikolog Ikhsan Bella Persada.

“Selain itu, bisa jadi mereka juga butuh pengakuan dari orang lain mengenai body image-nya. Karena ketika ada orang lain yang mengatakan ‘wah badannya bagus, seksi’ ini malah jadi bentuk afirmasi ke diri dia sendiri bahwa ‘saya memang seksi’, seperti itu,” tambah psikolog Ikhsan.

Artikel Lainnya: Siswi SMK Dilecehkan, Ini Sebab Remaja Lakukan Pelecehan Seksual

2 dari 3 halaman

Senang Dilecehkan, Tanda Gangguan Mental?

Menurut psikolog Ikhsan Bella, ingin dilecehkan bukanlah bentuk gangguan mental. Perilaku tersebut hanyalah bentuk mencari perhatian ke orang lain dengan membuat sensasi.

Seperti yang psikolog Ikhsan katakan, orang tersebut mungkin butuh pengakuan atau sekedar ingin dipuji orang lain dengan membenarkan body image yang dimiliki.

Perlu diketahui, senang dilecehkan kerap dikira sama dengan gangguan seksual kejiwaan masokisme. Biasanya, orang yang mengidap masokis atau masokisme memiliki parafilia.

Parafilia sendiri adalah perilaku atau dorongan seksual abnormal yang ditandai dengan fantasi seks yang sering datang.

Artikel Lainnya: Kenali Ciri-Ciri Predator Seksual di Sekitar Anda

Ketika mengalami parafilia, penderitanya seringkali sulit mengontrol hasrat seks dan ia rela melakukan apapun untuk memuaskan hawa nafsunya.  Penderita masokisme kerap rela diperlakukan kasar dan dihina oleh pasangannya guna mendapatkan kepuasaan seksual.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika ada orang yang secara gamblang berkomentar ingin dilecehkan?

Pertama, Anda harus memahami terlebih dahulu akan kebutuhan orang yang mencari sensasi tersebut. Apakah orang tersebut memang butuh atensi atau afeksi dari orang lain?

Tidak perlu menyerang atau memaki-maki mereka di sosial media. Cukup berikan teguran dan biarkan orang tersebut menelan kalimat Anda.  Lalu, informasikan kepada mereka bentuk-bentuk pelecehan seksual. Dengan demikian, orang tersebut diharapkan sadar bahwa pernyataannya tidaklah baik.

Jangan lupa untuk mengingatkan soal masih banyak orang di luar sana yang mungkin pernah jadi korban pelecehan seksual. Katakan bahwa melontarkan komentar semacam itu bisa berdampak kepada psikologis korban.

Komentar ingin dilecehkan justru membuat korban pelecehan semakin terpukul dengan kalimat tersebut bahkan membuka kembali traumanya.

Ikuti terus informasi mengenai artikel kesehatan mental dengan membaca artikel kesehatan di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar