Sukses

Kenali Gejala Sindrom Bayi Putus Obat dan Penanganannya

Sindrom bayi putus obat bisa terjadi ketika si kecil sering menerima obat dengan kandungan narkotika saat di dalam rahim. Yuk, Bunda, kenali lebih jauh!

Saat hamil, ibu pasti diminta untuk tidak minum obat sembarangan karena bisa berdampak pada kesehatan bayi. Salah satu dampak yang mungkin dapat terjadi adalah sindrom bayi putus obat atau Neonatal Abstinence Syndrome (NAS).

Apa yang dimaksud dengan sindrom putus obat pada bayi? Mari simak penjelasan dokter spesialis anak berikut ini.

Apa Itu Sindrom Bayi Putus Obat?

Selama kehamilan, apa yang ibu makan akan diterima bayi melalui plasenta. Sama halnya dengan minum obat, kurang lebih kandungan obat juga akan masuk ke tubuh bayi.

Karena itu, tidak sembarang obat bisa ibu hamil minum mengingat adanya potensi dampak buruk pada sang buah hati.

Neonatal Abstinence Syndrome atau sindrom bayi putus obat merupakan sekumpulan gejala putus obat yang dapat berdampak pada sistem saraf pusat, gangguan sistem autonom, sistem respiratorik, dan sistem gastrointestinal. Hal ini bergantung pada masing-masing jenis obat yang menjadi penyebab.

Menurut dr. Reza Fahlevi, Sp.A, kondisi NAS bisa terjadi ketika ibu hamil mengonsumsi obat yang mengandung narkotika atau minuman beralkohol.

Sederhananya, sindrom bayi putus obat adalah kondisi ketika bayi berhenti menerima obat-obatan ilegal atau dengan resep yang bisa membuatnya ketagihan semasa di dalam rahim.

Artikel lainnya: Efek Samping Obat Antinyeri Opioid pada Ibu Hamil

1 dari 3 halaman

Gejala dan Penyebab Sindrom Bayi Putus Obat

Survei Nasional Penggunaan Narkoba dan Kesehatan 2012 menyatakan, 5 persen wanita hamil yang menggunakan obat-obatan terlarang (termasuk opioid, antidepresan, dan obat stimulan saraf pusat) dalam 30 hari terakhir akan mengembangkan sindrom putus obat pada bayinya nanti.

Paparan heroin dan metadon di dalam rahim telah dikaitkan dengan 60-80 persen kejadian sindrom bayi putus obat.

“Plasenta merupakan garis kehidupan pada janin. Oksigen dan asupan makanan dari ibu hamil akan masuk ke bayi melalui plasenta. Sayangnya, obat yang dikonsumsi juga bisa masuk ke bayi melalui ini,” jelas dr. Reza.

“Ketika nantinya plasenta diputus, bayi yang biasanya minum obat mengandung narkotika akan sakau,” lanjutnya.

Adapun beberapa gejala bayi mengalami sindrom putus obat yaitu:

  • Tremor
  • Demam
  • Muntah
  • Diare
  • Kesulitan untuk menyusu
  • Berat badan menurun
  • Sering berkeringat
  • Sering menangis tanpa alasan jelas
  • Dehidrasi
  • Sering menguap dan bersin

Hanya saja, gejala-gejala di atas sering kali sulit diketahui. Karena, keluhannya menyerupai tanda penyakit lain seperti hipokalsemia, sepsis, dan hipoglikemia.

Artikel lainnya: Efek Negatif Narkoba Jenis Heroin pada Ibu Hamil

2 dari 3 halaman

Penanganan Sindrom Bayi Putus Obat

Bayi yang lahir dengan sindrom putus obat lebih berisiko mengalami kelahiran prematur, kematian mendadak, berat badan rendah, penyakit kuning, dan kejang.

Karenanya, penanganan sindrom bayi putus obat tidak boleh sembarangan dan harus ditangani oleh pihak rumah sakit. Menurut dr. Reza, pengobatan bayi dengan sindrom putus obat sangatlah kompleks dan butuh unit perawatan bayi sakit.

Apabila bayi dicurigai memiliki sindrom putus obat, biasanya sang ibu juga akan ikut diperiksa dengan berbagai cara, seperti pengambilan darah, tes urine, dan sebagainya.

Tes medis tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah tubuh ibu mengandung narkotika yang bisa memengaruhi kesehatan bayi.

Selain itu, bayi juga akan dirawat intensif dan diberikan cairan infus sesuai keperluan. Bahkan, bayi mungkin akan mendapatkan penanganan di Unit Perawatan Intensif Neonatal.

Agar si kecil terhindar dari sindrom putus obat, Anda yang sedang hamil harus berhati-hati dalam mengonsumsi obat. Selalu konsultasikan kesehatan diri kepada dokter dan jangan minum obat tanpa resep.

Selain itu, ibu hamil juga perlu lebih peka dan kritis tentang kandungan obat yang akan dikonsumsi. Tanyalah secara detail kepada dokter bila Anda ragu.

Untuk konsultasi ke dokter kandungan lebih mudah, gunakan layanan Live Chat di KlikDokter.

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar