Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Benarkah Pre-Baby Blues saat Hamil Bikin Ibu Telat Melahirkan?

Benarkah Pre-Baby Blues saat Hamil Bikin Ibu Telat Melahirkan?

Pre baby blues disinyalir menjadi penyebab bayi terlambat lahir. Apakah medis sependapat dengan hal tersebut? Simak faktanya.

Hari perkiraan lahir (HPL) penting diketahui oleh ibu hamil dan pasangannya. Dengan mengetahui tanggal tersebut, calon orangtua bisa mempersiapkan banyak hal dari jauh-jauh hari sebelum si kecil lahir ke dunia.

Kendati demikian, ada satu hal yang disebut-sebut menyebabkan ibu telat melahirkan dari HPL, yakni pre-baby blues syndrome

Sama halnya dengan baby blues pasca persalinan, baby blues sebelum melahirkan ditandai dengan munculnya gangguan mood, seperti mudah marah dan tersinggung, mudah sedih dan gelisah, serta selalu merasa lelah pada ibu hamil. 

Selain itu, ibu hamil lebih sulit berkonsentrasi dan merasa tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Hal tersebut membuat ibu hamil sulit beradaptasi dengan sekitarnya. 

Bahkan, kondisi ini bisa menyebabkan ibu hamil merasa putus asa dan memicu keinginan untuk mengakhiri hidupnya. 

Tidak hanya menyebabkan masalah pada kondisi kehamilannya, jika dibiarkan berlanjut sangat mungkin sang ibu tak mau merawat bayinya usai persalinan.

Penyebab Baby Blues Sebelum Melahirkan

Baby blues sebelum melahirkan dapat masuk dalam depresi antepartum. Kondisi ini tidak diketahui secara pasti apa penyebabnya. 

Kendati demikian ada berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya pre-baby blues pada ibu hamil, seperti :

  • Kurang Dukungan dari Keluarga

Kehamilan adalah suatu peristiwa baru dialami wanita. Tak jarang banyak ibu hamil merasa cemas terhadap kondisi tubuh dan kandungannya. Untuk itu, penting dukungan dari pasangan, keluarga maupun teman-teman lainnya saat menjalani kehamilan. 

Sebuah studi menunjukkan bahwa dukungan dari keluarga terdekat selama kehamilan membantu mengurangi risiko terjadinya depresi pada ibu hamil. 

Artikel Lainnya: Cegah Baby Blues dengan Cara Ini 

  • Stres dan Gangguan Suasana Hati 

Baby blues sebelum melahirkan juga dapat terjadi pada ibu hamil yang mengalami stres akibat pekerjaan yang menumpuk, masalah rumah tangga, keuangan, atau hal lainnya. 

Apabila sebelumnya Anda memiliki masalah kesehatan mental seperti gangguan kecemasan dan depresi, maka sangat penting untuk melakukan pengobatan secara rutin. 

Apabila Anda memiliki masalah kesehatan mental dan tidak diobati dengan baik, maka Anda berisiko tinggi mengalami baby blues sebelum melahirkan.

  • Gangguan Tidur Saat Hamil

Saat hamil, masalah sulit tidur sering kali terjadi. Keluhan seperti nyeri pinggang hingga naiknya asam lambung saat tidur bisa membuat ibu hamil kesulitan untuk beristirahat di malam hari. 

Padahal, tidur cukup juga penting untuk ibu hamil demi menjaga kesehatan tubuh dan janinnya. 

Akibat ibu hamil sulit tidur saat malam hari, maka tak heran apabila keesokan harinya ibu akan merasakan tubuh lelah, mudah mengantuk, hingga memengaruhi suasana hati. 

Sebuah studi menunjukkan hubungan kurangnya jam tidur dan tidak berkualitasnya tidur meningkatkan gejala depresi pada ibu hamil.

Artikel Lainnya: Waspada, Baby Blues Syndrome Juga Bisa Menyerang Ayah 

  • Tidak Tercukupinya Nutrisi

Saat hamil, Anda diwajibkan memenuhi nutrisi penting setiap harinya. Hal ini tak hanya berguna untuk menjaga kesehatan tubuh ibu dan menunjang tumbuh kembang janin yang ada di kandungan, melainkan juga membantu mencegah terjadinya depresi saat hamil maupun setelah melahirkan.

Rendahnya kadar vitamin D, vitamin B, dan mineral seperti zat besi dan zinc kerap dikaitkan dengan gejala depresi yang muncul pada ibu hamil ataupun pascamelahirkan. 

Meski masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, tidak ada salahnya untuk mencukupi nutrisi dengan baik selama kehamilan agar terhindar dari berbagai masalah kesehatan, salah satunya masalah baby blues.

Pre-Baby Blues Bisa Jadi Penyebab Bayi Terlambat Lahir?

Stres berat selama hamil identik dengan keguguran ataupun kelahiran prematur. Saat stres dan cemas berlebihan, tubuh mengeluarkan senyawa kimiawi yang dapat memengaruhi janin di dalam kandungan.

Hormon stres seperti hormon kortisol dan adrenalin menyebabkan perubahan kondisi tubuh ibu, seperti munculnya keluhan peningkatan detak jantung dan napas yang lebih cepat. 

Perubahan mendadak dan sering terjadi pada tubuh ibu diduga menyebabkan keguguran dan persalinan prematur.

Meski dapat menyebabkan persalinan sebelum waktunya, pre-baby blues syndrome atau depresi antepartum ini juga dapat memperlambat persalinan. 

Artikel Lainnya: Perawatan Setelah Melahirkan yang Harus Ibu Lakukan 

Hal ini berhubungan dengan kemunculan perasaan negatif yang menumpuk. Akibatnya, ibu tidak mengalami kontraksi sehingga terlambat melahirkan.

Seperti binatang yang hidup bebas, mereka akan menghentikan persalinan dengan melepaskan hormon katekolamin apabila merasa terancam. Hal itu, juga berlaku pada ibu hamil yang hendak melahirkan. 

Ketika berada di situasi yang kurang baik, secara alamiah tubuh ibu dan bayi yang ada di dalam kandungannya akan “menunda” untuk keluar sampai keadaan kembali normal.

Sayangnya, jika kehamilan ‘diperpanjang’ terlalu lama, ibu dan bayi rentan mengalami komplikasi, seperti:

  • Cairan ketuban makin sedikit.
  • Detak jantung bayi melambat.
  • Bayi susah bernapas.
  • Perkembangan bayi terhambat akibat masalah plasenta.
  • Ukuran bayi terlalu besar dan berisiko merobek vagina.
  • Ibu mengalami pendarahan dan infeksi.
  • Bayi keracunan air ketuban, yang mengandung feses pertamanya.
  • Bayi meninggal saat dilahirkan.

Artikel Lainnya: Fakta Asma Saat Hamil Picu Postpartum Depression  

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Untuk menghindari risiko di atas, sangat penting bagi ibu hamil dan keluarga terdekat menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental selama kehamilan. 

Jika ibu hamil mengalami keluhan cemas berlebihan, perubahan suasana hati yang terjadi mendadak, sulit tidur, hingga muncul keinginan bunuh diri, sebaiknya jangan menganggap remeh. Ibu perlu segera mencari bantuan ke dokter spesialis kejiwaan (psikiater) atau psikolog yang terpercaya. 

Dokter bisa memberikan obat-obatan untuk membantu mengurangi keluhan yang muncul. Tentu saja, dokter akan meresepkan obat yang aman untuk ibu hamil. 

Selain dengan obat-obatan, dokter mungkin akan memberikan rangkaian terapi seperti terapi kognitif perilaku (cognitive behavioral therapy) maupun terapi interpersonal. 

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan guna mencegah terjadinya pre-baby blues sebelum melahirkan, antara lain :

  • Pastikan untuk selalu mengonsumsi makanan yang bernutrisi setiap harinya. 
  • Istirahat cukup setiap harinya.
  • Olahraga rutin.
  • Melepaskan diri dari hubungan dan lingkungan yang toksik atau tidak sehat.
  • Tinggal bersama anggota keluarga yang bisa dipercaya dan diandalkan sehingga ibu hamil mendapatkan dukungan penuh.
  • Mengenali teknik relaksasi yang paling pas dan rutin melakukannya.
  • Mencari informasi yang valid tentang kehamilan dari ahlinya, bukan dari cerita orang-orang awam sehingga terbebas dari rasa cemas berlebihan terkait kehamilan.

Jangan remehkan stres berat saat kehamilan, karena kondisi tersebut dapat memicu pre-baby blues syndrome yang membahayakan ibu hamil dan si buah hati. 

Segera konsultasikan kepada dokter melalui Live Chat di aplikasi KlikDokter jika Anda mengalami gejala-gejala kondisi tersebut.

(OVI/JKT)

Referensi :

Healthline. Diakses 2022. Antepartum Depression.

WebMD. Diakses 2022. Fetal Stress.

Healthline. Diakses 2022. Stress During Pregnancy.

National Library of Medicine. Diakses 2022. Do Not Disturb: The Importance of Privacy in Labor.

National Institute of Mental Health. Diakses 2022. Perinatal Depression.

0 Komentar

Belum ada komentar