Sukses

Peneliti Temukan Mutasi Virus Corona Hybrid, Apa Itu?

Penemuan mutasi virus corona hybrid membuat masyarakat bertanya-tanya, apa lagi itu? Lebih berbahayakah? Simak selengkapnya di sini.

Mutasi virus corona memang bukan berita baru lagi. Beberapa waktu lalu, Anda mungkin sudah pernah mendengar tentang mutasi dari Inggris dan Afrika.

Jenis virus corona yang bermutasi ini disebut-sebut tidak lebih berbahaya, tetapi cepat menular.

Sekarang, ada lagi corona hybrid. Mutasi virus corona itu disinyalir lebih kompleks dibanding yang biasanya. Apa maksudnya? Perlukah kita khawatir?

1 dari 3 halaman

Virus Corona Hybrid, Apakah Lebih Berbahaya?

Varian virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Inggris dan California, Amerika Serikat, dikabarkan telah menyatu.

Varian yang ditemukan di Inggris adalah B117, sedangkan yang ada di California ialah B1429. Ketika ada dua varian virus, bahkan lebih, bergabung menjadi satu, hal ini akan menghasilkan rekombinasi yang disebut corona hybrid.

Menurut dr. Devia Irine Putri, rekombinasi seperti itu sebenarnya tidak hanya terjadi pada virus corona. Virus lain pun bisa melakukan hal demikian.

Karena, pada dasarnya rekombinasi bisa terbentuk dari beberapa varian virus. Hal ini bisa menimbulkan potensi bahaya.

Adapun potensi bahaya yang dimaksud adalah corona hybrid menghasilkan perubahan besar-besaran pada genom virus, sehingga lebih menular dan mematikan. Bukan tak mungkin karena rekombinasi ini pandemi COVID-19 memasuki fase baru.

Fenomena corona hybrid dilaporkan 2 Februari lalu dalam konferensi ilmiah virtual yang diselenggarakan oleh New York Academy of Sciences, Amerika Serikat.

Artikel Lainnya: Lawan Mutasi Virus Corona, Lakukan Proteksi Ekstra di Rumah

Dalam presentasi tentang wabah di Los Angeles, Bette Korber dari Laboratorium Nasional Los Alamos di New Mexico menjelaskan timnya telah menemukan setidaknya satu rekombinasi virus corona. Sayangnya, penemuan tersebut belum dipublikasikan dan diunggah dalam jurnal ilmiah.

Dokter Devia mengungkapkan, “Sejauh ini, kita pun masih belum tahu secara pasti apakah corona hybrid lebih berbahaya atau tidak. Kita juga masih belum tahu apakah itu hanya terjadi pada satu orang atau bisa menular.”

“Yang jelas, penemuan ini mengingatkan bahwa setiap harinya virus bisa bermutasi dan bergabung. Jadi, jangan anggap remeh COVID-19,” tegasnya.

Korber dalam presentasi tersebut belum menampilkan kondisi corona hybrid secara lengkap. Belum ada bukti juga bahwa rekombinasi mutasi virus corona itu mampu ditularkan ke orang lain.

Penemuan tersebut masih membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi untuk memastikannya.

Artikel Lainnya: Ditemukan 12 Mutasi Baru Virus Corona di Jepang, Ini Penyebabnya!

2 dari 3 halaman

Bagaimana Proses Terbentuknya Corona Hybrid?

Dokter Devia menjelaskan, “Proses corona hybrid atau rekombinasi ini belum diketahui secara pasti bagaimana mekanismenya. Tapi, diduga ini berawal dari satu orang yang terinfeksi dua varian atau tipe virus corona yang berbeda.”

Dilansir dari New Scientist, dua varian virus lalu mencampurkan diri dan mencocokkan genom mereka, sehingga terbentuklah kombinasi baru.

Tidak seperti mutasi biasa yang berlangsung relatif lambat, rekombinasi bisa menghasilkan perubahan yang lebih cepat. Belum ada laporan lagi yang mengatakan corona hybrid ditemukan pada pasien lain.

Meski mutasi kompleks bisa saja sudah ada di masyarakat, tak menutup kemungkinan juga rekombinasi ini gagal ditularkan dari pasien yang pertama ke orang lain. Jadi, hybrid tersebut belum sempat menyebar.

Selain itu, ada lagi kemungkinan yang kedua. Rekombinasi tidak terjadi di dalam tubuh pasien, melainkan ketika sampel telah diambil dari tubuh dan prosesnya terjadi di laboratorium.

Artikel Lainnya: Mutasi Baru Virus Corona, Mampukah Vaksin Menangkalnya?

Tapi, hal-hal itu masih berupa kemungkinan-kemungkinan dari peneliti. Kalau rekombinasi virus corona terlanjur menyebar, dr. Devia berpendapat efektivitas vaksin COVID-19 yang sekarang bisa menurun.

“Hal ini disebabkan oleh strain virus yang berbeda. Tapi tenang dulu, tubuh tetap punya antibodi untuk melawan meski kemampuannya tidak tinggi,” jelas dr. Devia.

“Bila penelitian berlanjut dan benar ditemukan strain ganas, vaksin covid perlu ‘direvisi’ atau ditambahkan strain baru. Kasusnya mirip vaksin influenza. Karena virus flu bermutasi cepat, vaksinnya selalu diulang,” lanjutnya.

Masih ada banyak hal yang perlu digali lebih dalam mengenai mutasi virus corona baru. Bila ada pertanyaan seputar infeksi covid, konsultasikan kepada dokter kami lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

Kunjungi laman Pusat Informasi COVID-19 Klikdokter untuk info lebih lanjut tentang rumah sakit rujukan dan tes PCR.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar