Sukses

Adakah Dampak Swab Test pada Penderita Sinusitis?

Penderita sinusitis punya sensitivitas berlebih di bagian hidung. Lantas, adakah dampak buruk jika penderita sinusitis melakukan swab test?

Saat melakukan swab test—baik PCR maupun antigen—rasa nyeri dan perih memang tidak bisa dihindari. Apalagi jika ini adalah kali pertama Anda melakukan swab test. Rasanya pasti membekas sampai beberapa menit setelah hidung dan tenggorokan bagian dalam diusap.

Akan tetapi, bagaimana dengan penderita sinusitis? Adakah dampaknya jika penderita sinusitis melakukan swab test?

 

1 dari 3 halaman

Apakah Swab Test Bisa Perparah Sinusitis?

Sinusitis adalah peradangan jaringan yang melapisi area sinus. Nah, sinus sendiri berada di belakang tulang dahi, belakang mata, dua sisi batang hidung, serta area dalam tulang pipi.

Sinus yang sehat diisi udara. Namun, jika tersumbat serta terisi cairan, kuman bisa tumbuh dan memicu infeksi.

Biasanya, seseorang yang mengalami sinusitis akan mengeluarkan lendir atau ingus berwarna kuning kehijauan, muncul nyeri di bagian wajah, ada pembengkakan di area mata, dan juga menurunkan kemampuan penciuman

Penyebab umum sinusitis adalah infeksi kuman. Orang yang gemar berenang dan punya kebiasaan merokok lebih rentan terserang sinusitis. Selain itu, gangguan kesehatan ini juga bisa dipicu akibat pola hidup yang buruk serta rinitis alergi.

Artikel lainnya: Bahaya Swab Test Mandiri Tanpa Bantuan Tenaga Kesehatan Terlatih

Lantas, apakah efek swab test bisa memperparah sinusitis?

Menanggapi hal ini, dr. Devia Irine Putri mengatakan bahwa melakukan swab test pada penderita sinusitis tidak akan menimbulkan efek bahaya. Kalaupun ada, biasanya hanya rasa nyeri yang sama seperti kebanyakan orang lainnya.

“Sebenarnya tidak ada dampak berbahaya dilakukannya swab test, termasuk pada penderita sinusitis. Rasa tidak nyaman bisa dialami beberapa orang jika memang sensitif. Biasanya (rasa tidak nyaman itu) akan hilang dalam beberapa jam saja,” ujar dr. Devia.

Dilaporkan dalam satu jurnal medis bahwa ada seorang perempuan di Amerika Serikat yang mengalami dampak serius setelah melakukan swab test. Perempuan itu mengalami kebocoran cairan otak atau yang disebut juga dengan cerebrospinal fluid.

Jarret Walsh, penulis makalah di JAMA Otolaryngology, mengingatkan bahwa para tenaga medis wajib mendapatkan pelatihan profesional sebelum melakukan swab test

Hanya saja, menurut dr. Devia, kebocoran cerebrospinal fluid  tidak disebabkan oleh swab test. Jika pun terjadi, kemungkinannya sangat kecil. Kondisi kebocoran cerebrospinal fluid biasanya muncul karena kondisi bawaan atau ada kecacatan di dasar tulang tengkorak.

Artikel lainnya: Keluar Air Mata Saat Melakukan Swab Test, Wajarkah?

2 dari 3 halaman

Tips Cegah Efek Buruk Akibat Swab Test

Menurut dr. Devia Irine Putri, salah satu cara paling tepat untuk mencegah efek buruk akibat swab test adalah dengan melakukan tes usap bersama tenaga medis profesional. Jangan pernah melakukannya sendiri di rumah. 

“Pada tenaga medis yang sudah berkompeten, swab test dilakukan dengan menyusuri atau mengikuti anatomi hidung dengan baik. Tindakan ini meminimalkan rasa tidak nyaman, bahkan tidak sakit sama sekali,” ujar dr. Devia. 

Selain itu, bersikaplah tenang dan jangan gugup. Siapkan mental dengan baik saat sesaat sebelum melakukan swab test.

Jangan pula panik atau langsung bergerak ketika alat usap dimasukkan ke dalam hidung. Hal ini justru berbahaya dan menyebabkan swab test berjalan tidak lancar.

Ingat, swab test hanya dilakukan dalam beberapa detik saja. Rasa perih yang dirasakan pun cuma bertahan sementara.

Jadi, jika Anda hendak membeli alat swab secara mandiri dan melakukannya sendiri atau tanpa bimbingan tenaga profesional, sebaiknya urungkan niat tersebut.

Sebab, tidak hanya berdampak pada hidung berdarah, alat swab test berisiko patah di dalam hidung, tersangkut, dan sebagainya. Jika hal ini sampai terjadi, segeralah minta bantuan medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

Dapatkan informasi lainnya seputar gejala sinusitis dan pencegahannya dengan mengunduh aplikasi Klikdokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar