Sukses

Fakta Menarik Feses yang Belum Banyak Diketahui Orang

Terdapat beberapa fakta kotoran manusia yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya. Cari tahu fakta medis yang sebenarnya, agar Anda tidak salah kaprah.

Pernahkah Anda memperhatikan bentuk feses ketika buang air besar? Memang terkesan menjijikan, namun hal tersebut perlu dilakukan guna mengetahui kondisi kesehatan.

Faktanya, feses memang dapat menjadi salah satu tolok ukur kesehatan tubuh Anda. Ukuran, bentuk, dan konsistensi tinja yang berbeda-beda juga dapat menyiratkan tentang kondisi kesehatan, lho!

Agar tidak salah kaprah, berikut ini beberapa fakta mengenai kotoran manusia yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya:

1. Feses Didominasi oleh Bakteri, Bukan Sisa Makanan

Fakta kotoran manusia yang satu ini mungkin belum Anda ketahui sebelumnya. Pasalnya, sebagian orang mengira bahwa feses didominasi oleh sisa makanan yang tidak diserap sempurna oleh tubuh sehingga perlu dikeluarkan lewat anus. 

Hal tersebut memang benar, namun tidak sepenuhnya. Faktanya, feses manusia hanya mengandung sedikit sisa makanan yang tidak dapat dicerna oleh usus. Sedangkan, 50 hingga 80 persen kandungan di dalamnya adalah bakteri.

Bakteri tersebut telah hidup sebelumnya di usus, dan kemudian dikeluarkan saat makanan melewatinya. Sebagian bakteri tersebut bahkan masih hidup, lho!

Tidak hanya itu, kotoran Anda juga bisa mengandung sejumlah kecil jaringan dari sel-sel lapisan usus yang terkelupas selama proses pencernaan.

Artikel Lainnya: Feses dengan Makanan Utuh di Dalamnya, Berbahayakah?

1 dari 5 halaman

2. Beda Warna, Beda Arti

Warna kotoran Anda adalah hasil dari bahan kimia yang disebut sterkobilin. Bakteri di usus mereduksi bilirubin, senyawa dengan pigmen berwarna kuning, dan terkonjugasi menjadi serangkaian zat yang disebut sterkobilin. 

“Rata-rata warna feses kecokelatan atau kekuningan. Itu asalnya dari produk pemecahan sel darah merah yang memberikan warna feses. Kadang-kadang, makanan yang dikonsumsi juga bisa mempengaruhi warna feses,” kata dr. Sara Elise Wijono.

Menurut dr. Sara, seseorang dengan sistem pencernaan yang berfungsi optimal cenderung akan memiliki warna feses cokelat. 

Sementara itu, orang yang punya penyakit liver (hati) atau saluran empedu, kotoran akan berwarna sedikit lebih cerah. Kondisi ini dikenal dengan istilah tinja akolik.

Nah, pada orang yang mengalami infeksi, tinja bisa berwarna kuning pekat atau kehijauan. 

Sementara itu, pada orang yang mengalami perdarahan di saluran pencernaan, tinja yang dikeluarkan bisa berwarna hitam atau merah tua.

Artikel Lainnya: Deteksi Penyakit Hati dari Warna Feses

2 dari 5 halaman

3. Feses Bisa ‘Berdarah’

Fakta menarik feses yang satu ini mungkin sudah tidak asing. Ya, tinja bisa mengandung darah di dalamnya.

Berdasarkan dr. Sara, darah dalam tinja bisa menjadi sebuah pertanda adanya masalah kesehatan, seperti polip atau kanker kolorektal, infeksi, atau perdarahan di saluran pencernaan. 

“Ada penyebab yang bahaya (feses berdarah), misal kanker atau perdarahan. Ada pula yang tidak bahaya, dalam artian biasa tidak menyebabkan kematian, seperti wasir,” tutur dr. Sara.

4. Terdapat Perbedaan Keluarnya Kotoran pada Pria dan Wanita 

Karena perbedaan anatomi tubuh, saluran pencernaan pria dan wanita bekerja sedikit berbeda. 

Wanita memiliki panggul yang lebih lebar daripada pria, serta ekstra organ dalam; seperti rahim dan ovarium. 

Akibatnya, usus wanita menggantung sedikit lebih rendah daripada pria. Usus wanita pun berukuran lebih panjang, yaitu sekitar 10 centimeter. 

Sedangkan pada pria, mereka memiliki dinding perut yang kaku sehingga dapat membantu mendorong makanan melalui saluran pencernaan lebih efektif.

Atas dasar itu, wanita lebih rentan mengalami sembelit atau konstipasi dibandingkan dengan pria.

Artikel Lainnya: Pentingnya Mengenali Bentuk Feses Bayi Anda

3 dari 5 halaman

5. Bau Tinja Menyengat Bisa Menjadi Tanda Bahaya

Fakta tinja manusia yang sudah lumrah, yaitu tidak ada tinja yang berbau harum. Namun, Anda tetap harus waspada apabila kotoran yang dikeluarkan memiliki aroma terlalu menyengat.

Dikutip dalam Everyday Health, kotoran yang berbau tidak sedap adalah efek samping yang khas dari kutu perut yang disebabkan oleh infeksi parasit giardia.

Selain itu, tinja berbau busuk juga bisa menandakan adanya penyakit crohn, celiac, dan irritable bowel syndrome (IBS). 

6. Konsumsi Antibiotik Sembarangan Mengganggu Pencernaan

Terdapat beberapa jenis antibiotik yang berhubungan dengan gangguan pencernaan. 

Anda bisa mengalami efek samping tersebut apabila mengonsumsi antibiotik secara sembarangan atau tanpa pengawasan dokter.

Faktanya, orang-orang yang mengalami efek samping akibat konsumsi antibiotik sembarangan cenderung memiliki feses yang keras, sehingga lebih sulit dikeluarkan. Akhirnya, terjadilah sembelit.

7. Feses Sulit Keluar dapat Menjadi Gejala Kanker

Anda kesulitan buang air besar yang disertai dengan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas? Jika ya, mungkin penyebabnya adalah kanker usus besar

Pada kanker usus besar, penderita akan mengalami penyempitan di bagian usus. Akibat kondisi tersebut, pergerakan usus juga menjadi sangat terbatas sehingga kotoran tidak dapat dikeluarkan dengan mudah.

Artikel Lainnya: Fakta di Balik Perubahan Warna Feses Menjadi Gelap

4 dari 5 halaman

8. Feses Bisa Mengandung Jagung

Feses bisa mengandung jagung, khususnya jika Anda baru saja mengonsumsi ‘buah’ tersebut.

Lantas, mengapa jagung tidak hancur seperti makanan lainnya? Hal ini karena jagung mengandung zat yang disebut selulosa, yaitu serat tanaman yang tidak dapat dicerna. 

9. Bayi Baru Lahir Memiliki Feses yang Berbeda

Feses yang dikeluarkan oleh bayi yang baru lahir merupakan hasil dari nutrisi yang dikonsumsinya selama berada di dalam rahim, seperti cairan ketuban, darah dan sel kulit, serta lendir.

Kotoran pada bayi akan berwarna hijau tua dan biasanya tidak berbau. Kotoran bayi akan berubah seiring waktu, sesuai dengan asupan yang dikonsumsinya.

Itu dia beberapa fakta tinja manusia yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya. Masih penasaran dengan topik bahasan ini? 

Anda bisa melakukan konsultasi kepada dokter dengan memanfaatkan layanan LiveChat 24 jam atau di aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar