Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Alasan Dilarang Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Vaksinasi COVID-19

Alasan Dilarang Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Vaksinasi COVID-19

Painkiller boleh diminum saat timbul efek samping ringan pascavaksinasi. Lalu, kenapa ada anjuran tidak boleh minum obat itu sebelum vaksin?

Topik apa yang boleh dan tidak boleh mengenai vaksinasi COVID-19 memang sedang menyita perhatian masyarakat. Salah satu info terbaru terkait hal ini adalah larangan mengonsumsi obat pereda nyeri (painkiller) sebelum suntik vaksin.

Kenapa painkiller dianggap tidak boleh dikonsumsi sebelum terima vaksin? Adakah perbedaan yang signifikan ketika minum pereda nyeri sebelum dan sesudah vaksin?

 

1 dari 3 halaman

Alasan Dilarang Minum Painkiller sebelum Vaksinasi COVID-19

Larangan untuk mengonsumsi obat pereda nyeri sebelum disuntik berawal dari grup penelitian vaksin di Mayo Clinic, Rochester, Minnesota, Amerika Serikat.

Dilansir dari Web MD, Gregory Poland, seorang dokter sekaligus direktur dari grup tersebut mengatakan, “Sebaiknya orang-orang tidak minum obat penghilang nyeri tepat sebelum divaksinasi. Sebab, ada kemungkinan efek samping obat painkiller bisa menurunkan respons antibodi.”

Adapun obat painkiller yang secara spesifik disebutkan oleh Poland antara lain Motrin, Advil, dan Tylenol.

Ketiganya merupakan merek dagang, dan kandungan di dalamnya adalah acetaminophen dan ibuprofen.

Kemungkinan berkurangnya respons kekebalan tubuh sebenarnya belum bisa dipastikan.

Namun, Poland berpendapat lebih baik mengalami nyeri sedikit atau demam daripada kita membuat vaksin menjadi kurang efektif.

Artikel Lainnya: Cuma Hoax, Amoxicillin Bukan Obat Virus Corona

Sementara, menurut dr. Arina Heidyana, kita tidak perlu terlalu panik dengan larangan tersebut karena masih sebatas spekulasi.

“[Anggapan] obat pereda nyeri bisa menurunkan respons kekebalan baru berupa dugaan. Penelitiannya pun masih terbatas. Pada orang-orang yang memang punya penyakit seperti migrain, justru larangan di atas tidak berlaku,” jelas dr. Arina.

Ia menambahkan, “Tidak ada larangan untuk mengonsumsi obat ibuprofen atau asam mefenamat demi mencegah timbulnya migrain sebelum vaksinasi. Jadi, penderita migrain tidak perlu khawatir.”

Terlepas dari alasan yang belum bisa dipastikan tersebut, obat antinyeri tidak perlu diminum khususnya bila tak ada riwayat migrain.

Keinginan untuk mengonsumsi analgesik seperti parasetamol atau ibuprofen sebelum disuntik vaksin terjadi karena ada kecemasan terhadap efek samping.

“Anda memang tidak perlu minum painkiller sebelum vaksin. Efek samping vaksin seperti nyeri, bengkak, dan demam itu respons tubuh yang sangat normal terhadap vaksin. Semuanya menandakan vaksin sedang bekerja di dalam tubuh,” ungkap dr. Arina.

Artikel Lainnya: Medfact: Benarkah Ivermectin Jadi Obat COVID-19?

2 dari 3 halaman

Adakah Pantangan Lainnya sebelum Terima Vaksin COVID-19?

Meski dampak negatifnya belum bisa dipastikan, penghilang nyeri seperti ibuprofen, parasetamol, dan acetaminophen tidak perlu diminum sebelum vaksinasi.

Selain itu, antihistamin (antialergi) juga tidak perlu dikonsumsi sebelum menerima vaksin COVID-19.

Sebab, obat ini dapat menyamarkan atau menutupi perkembangan reaksi alergi dari vaksin. Padahal, peserta vaksin harus menunggu setidaknya 30 menit setelah disuntik untuk melihat ada atau tidaknya reaksi hipersensitivitas.

Jika sudah “ditahan” lebih dulu dengan obat alergi, maka reaksi aslinya tidak bisa terdeteksi.

Mungkin saat masih di rumah sakit, peserta bisa lolos dari kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Saat di rumah dan efek obat alergi sudah habis, reaksi negatif dikhawatirkan muncul.

Mengelola stres juga sebaiknya dilakukan sebelum datang ke tempat vaksinasi. Lakukan relaksasi yang disukai agar pikiran tenang dan tidak cemas berlebih. Tubuh yang dipenuhi pikiran negatif cenderung memiliki imunitas tubuh yang kurang baik.

Selain itu, minuman beralkohol disarankan tidak dikonsumsi sebelum dan sesudah menerima vaksin.

Selain buruk bagi organ hati dan kesehatan secara menyeluruh, minuman ini berpotensi menghambat proses pembentukan antibodi.

Bila ada pertanyaan seputar vaksin infeksi virus corona, konsultasikan lebih cepat kepada dokter kami lewat fitur LiveChat.

Info mengenai fasilitas kesehatan rujukan dan swab PCR bisa diakses di laman Pusat Informasi COVID-19 Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar