Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Benarkah Ada Vaksin yang Bisa Memberi Kekebalan Seumur Hidup?

Benarkah Ada Vaksin yang Bisa Memberi Kekebalan Seumur Hidup?

Vaksin Nusantara diklaim dapat memberikan perlindungan tubuh dari COVID-19 selama seumur hidup. Apakah benar? Simak informasi mengenai vaksin tersebut lewat ulasan ini.

Mantan Menteri Kesehatan Indonesia, Terawan Agus Putranto, memprakarsai pengembangan vaksin Nusantara untuk mengatasi pandemi COVID-19.

Sayangnya, vaksin tersebut menuai pro dan kontra karena diklaim dapat membentuk antibodi COVID-19 hingga seumur hidup.

Vaksin karya anak bangsa ini juga diperdebatkan akibat prosesnya yang tergolong rumit dan dinilai tak cocok dengan kondisi pandemi saat ini.

Lantas, apakah ada vaksin yang bisa melindungi tubuh dari penyakit selama seumur hidup?

1 dari 3 halaman

Mungkinkah Sebuah Vaksin Dapat Melindungi Seumur Hidup?

Dokter Devia Irine Putri punya pendapat tersendiri mengenai vaksin yang diklaim bisa melindungi tubuh selama seumur hidup dari segala macam penyakit.

Menurutnya, sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat melindungi diri seumur hidup. “Jarang ada yang seperti itu, biasanya tetap butuh booster atau vaksin ulang agar punya kekebalan tubuh yang baik,” jelasnya.

Dilansir dari berbagai media lokal, vaksin Nusantara dapat dibuat secara personal dan menggunakan pendekatan sel dendritik (dendritic cell).

“Dendritik sel adalah bagian dari sistem imun yang bertugas sebagai sel penyaji antigen (antigen presenting cell). Dendritik sel terbagi menjadi dua grup besar, yaitu myeloid dendritic cell dan plasmacytoid dendritic cell. Nantinya, masing-masing terbagi lagi menjadi beberapa tipe,” jelas dr. Devia.

Secara sederhana, sel dendritik akan diambil dari tubuh pasien, kemudian diolah, lalu disuntikkan kembali ke tubuh.

Vaksin berbasis sel dendritik dapat dibuat menyesuaikan kondisi penyakit komorbid masing-masing orang.

Artikel Lainnya: Waspada, Kekebalan terhadap Virus Corona Bertahan Beberapa Bulan Saja!

Dokter Devia mengatakan, teknologi sel dendritik memiliki kekurangan bila digunakan dalam proses pembuatan vaksin COVID-19.

“Prosesnya sulit, panjang, biayanya juga mahal. Pasalnya, sel dendritik harus diambil dulu darah pasien, kemudian dipisahkan komponen darahnya, sel dendritiknya harus diaktifkan dahulu beberapa hari, baru bisa dimasukan lagi ke dalam tubuh,” jelasnya.

Beberapa ahli kesehatan di Indonesia menilai vaksin Merah Putih belum terbukti ampuh untuk melindungi diri dari penyakit selama seumur hidup.

Sebab, vaksin Nusantara masih harus melewati proses penelitian yang panjang dan mendalam.

Di samping itu, juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, belum tahu apakah vaksin Nusantara bisa digunakan di Indonesia atau tidak.

Karena data uji klinis tahap satu milik vaksin Nusantara masih dievaluasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Vaksin Nusantara juga masih harus melewati uji klinis tahap dua dan tiga.

Kepala BPOM, Penny K. Lukito, belum bisa memastikan kapan hasil uji klinis tahap satu dapat dipublikasi.

Penggunaan Vaksin Nusantara pun masih memerlukan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI).

Artikel Lainnya: Mitos dan Fakta Seputar Vaksinasi

2 dari 3 halaman

Berapa Lama Rata-rata Efek Vaksin Penyakit Dapat Bertahan?

Dikutip dari Very Well, Chunhuei Chi, MPH, direktur Center for Global Health dari Oregon State University's College, Amerika Serikat (AS), menyampaikan kekebalan yang dihasilkan vaksin COVID-19 masih terbatas. Maka itu, vaksinasi harus dilakukan setiap tahun.

Selain itu, menurut Jere McBride, PhD, direktur pascasarjana patologi penelitian dari University of Texas Medical Branch, di AS turut mengatakan hal serupa.

Menurutnya, vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech yang digunakan di AS hanya memberikan kekebalan tubuh selama dua hingga tiga tahun.

Durasi tersebut bisa lebih lama atau lebih pendek, tergantung penelitian nanti yang akan mengamati efek perlindungan terhadap orang yang telah divaksinasi.

Oleh karena itu dr. Devia kembali menjelaskan, vaksinasi tidak bisa dilakukan sekali untuk memperkuat antibodi. Vaksinasi perlu dilakukan berulang agar tubuh menghasilkan antibodi yang maksimal dan kuat.

“Contohnya, saja vaksin influenza yang harus diulang setiap setahun sekali, vaksin tetanus dan difteri yang diulang setiap 10 tahun sekali, vaksin HPV diulang 5-8 tahun sekali,” kata dr. Devia.

Ikuti terus perkembangan vaksinasi COVID-19 di Indonesia dengan membaca artikel kesehatan di aplikasi Klikdokter.

Anda juga bisa berkonsultasi langsung dengan dokter untuk mengetahui lebih lanjut soal vaksinasi kesehatan lewat fitur LiveChat 24 Jam.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar