Sukses

Jenuh Asuh Anak, Waspada Parental Burnout!

Lelah fisik saat mengurus anak memang wajar. Tapi tak jarang orangtua juga mengalami parental burnout atau lelah secara mental. Wajarkah terjadi?

Momen mengasuh anak dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Senang rasanya melihat si kecil tumbuh dan berkembang seiring waktu. Namun, terkadang rasa jenuh saat mengurus anak kerap muncul.

Pada kenyataannya, menjadi orangtua dan membesarkan anak merupakan pekerjaan yang sulit. Akhirnya, kondisi lelah mengurus anak atau parental burnout cukup umum ditemukan. 

Apa penyebab rasa jenuh mengasuh si kecil dan bagaimana mengatasinya? Simak penjelasan psikolog berikut ini.

1 dari 4 halaman

Apa Itu Parental Burnout?

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, parental burnout merupakan kondisi ketika orangtua merasa secara mental kelelahan menjalani peran sebagai ayah dan ibu.

Memang tidak bisa dimungkiri, mengasuh anak sangat melelahkan. Bahkan sering kali orangtua kurang tidur karena harus terbangun tengah malam akibat suatu hal, misalnya tangis anak. 

Tetapi, hal yang menjadi masalah adalah orangtua kerap malu dan merasa bersalah untuk mengakui perasaan lelah yang dirasakan. Keadaan ini bisa dipengaruhi oleh beragam stigma.

Misalnya, orangtua dianggap harus tahan banting atau kuat. Akibatnya, mereka menyembunyikan apa yang dialami dan tidak mencari dukungan ahli profesional.

Artikel Lainnya: 8 Kesalahan yang Bisa Dilakukan Orang Tua pada Anak

Salah satu tanda awal parental burnout adalah kelelahan fisik dan mental yang ekstrem. Berikut ini dijelaskan oleh Gracia tanda-tanda orangtua mengalami parental burnout:

  1. Mengalami Kelelahan Mental

Kelelahan mental secara umum menjadi penanda rasa jenuh mengurus anak. Keadaan ini lebih berdampak pada pihak yang memiliki peran utama dalam pengasuhan, terutama ibu. 

“[Dia] seperti merasakan kok kayaknya lelah banget ya dalam peran sehari-hari menjadi ibu,” ujar Gracia.

  1. Merasa Tidak Ada Lagi Terkoneksi dengan Anak

Parental burnout bisa menimbulkan perasaan semakin jauh secara emosional dengan anak. Walaupun setiap hari berdekatan atau mengurus si kecil, tetapi secara emosional koneksi antara ibu dan anak perlahan-lahan berkurang.

  1. Timbul Perasaan Tidak Bisa Menjadi Orangtua yang Baik 

Menurut Gracia, perasaan ini umum terjadi pada orangtua yang mengalami parental burnout

Mereka merasa tidak bisa menjadi figur ayah dan ibu yang baik, tidak mampu merawat anak dengan benar, dan tidak dapat memberikan yang terbaik untuk sang buah hati.

Perasaan atau pikiran itulah yang dapat membuat ibu menjadi lelah secara mental. Ia bisa selalu menganggap dirinya tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin.

Orangtua yang mengalami parental burnout juga sering memiliki gejala-gejala sebagai berikut: 

  • Pikiran untuk bunuh diri dan melarikan diri.
  • Meningkatkan perilaku adiktif.
  • Memiliki masalah kesehatan.
  • Risiko kecemasan dan depresi lebih tinggi.
  • Mudah ​​marah dan frustrasi.
  • Memiliki gangguan tidur.
  • Meningkatnya frekuensi dan intensitas konflik antara pasangan.
  • Risiko lebih tinggi dari perilaku mengabaikan dan kekerasan terhadap anak.

Artikel lainnya: Masalah Rumah Tangga yang Muncul setelah Punya Anak

2 dari 4 halaman

Alami Parental Burnout, Harus Bagaimana?

Bila orangtua mengalami parental burnout, hal yang perlu dilakukan adalah mencari sumber penyebab kelelahan dalam mengurus anak.

Orangtua perlu melihat lebih bijak lagi apa yang membuat mereka merasa lelah secara fisik dan mental dalam mengasuh anak. Apakah ada tuntutan dalam diri sendiri atau dari lingkungan?

Selain itu, faktor penyebab parental burnout bisa juga berasal dari sumber informasi yang orangtua terima. Misalnya, ibu atau ayah terlalu menelan informasi mentah-mentah bahwa mereka harus bisa melakukan segalanya.

Gracia menggambarkan, tipe orangtua yang sangat berusaha untuk perfeksionis dapat dipengaruhi oleh informasi yang terlalu banyak diterima.

"Kalau itu pengaruhnya, orangtua perlu adjust ekspektasinya, perlu lebih sayang sama diri sendiri, dan sadar tidak ada orangtua yang sempurna. Batasi juga informasi yang dapat membuat trigger,” jelasnya.

Selain itu, parental burnout bisa juga terjadi karena orangtua memiliki riwayat yang rentan terhadap stres atau tuntutan. 

Gracia menyarankan, bila memang orangtua sudah memiliki riwayat depresi sebelumnya, segera konsultasi ke ahli profesional. Jadi, mereka dapat diberikan masukan-masukan positif dalam mengasuh anak. 

Artikel lainnya: Tanda Anda Terkena Burnout Syndrome saat Kerja di Rumah

3 dari 4 halaman

Tips Mencegah Parental Burnout

Berikut ini tips yang bisa dilakukan untuk mencegah rasa lelah mengurus anak secara mental:

  • Orangtua perlu mengetahui terlebih dahulu sumber atau faktor yang dapat membuat lelah mental dalam mengasuh anak. Bila sudah tahu, hindari atau tangani dulu sumber pemicunya.
  • Bila dirasa tidak sanggup merawat anak meskipun sudah bekerja sama dengan pasangan, jangan sungkan meminta bantuan. Misalnya, Anda bisa minta tolong kepada asisten rumah tangga atau anggota keluarga lain dalam mengasuh anak
  • Penting bagi orangtua khususnya ibu untuk melakukan self-care. Tidak hanya mengurus anak, ibu juga perlu memerhatikan diri agar tetap sehat dan tentunya bahagia. 
  • Sediakan waktu untuk berdiskusi dengan suami mengenai pengasuhan. Menurut Gracia, mengasuh anak merupakan tanggung jawab berdua. Jadi, selalu libatkan peran ayah dalam membantu membesarkan anak.
  • Ikut support group atau komunitas ibu-ibu yang memiliki pengalaman sama. Gracia menyarankan untuk lebih selektif dalam mencari grup yang suportif. Jangan biarkan Anda berada di grup yang tambah membuat stres.

Selain itu, bila Anda sudah merasa butuh bantuan profesional seperti psikolog, jangan ragu untuk konsultasi. 

Ketahui tips kesehatan mental untuk orangtua dan pola asuh anak lainnya dari psikolog hanya di KlikDokter. Untuk konsultasi kesehatan lebih cepat, Anda bisa gunakan layanan Live Chat.

(FR/JKT) 

0 Komentar

Belum ada komentar