Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Penderita GERD Berisiko Punya Gejala COVID-19 Lebih Parah?

Penderita GERD Berisiko Punya Gejala COVID-19 Lebih Parah?

Sel di kerongkongan yang meradang akibat asam lambung naik dipercaya bisa bikin gejala COVID-19 lebih parah. Jadi, benarkah penderita GERD wajib waspada?

Selama ini, penyakit komorbid yang kerap disebut-sebut sebagai “pembunuh” pasien COVID-19 yakni penyakit jantung, hipertensi, dan ginjal kronis. Tapi, tahukah Anda bahwa penderita GERD juga punya tingkat bahaya yang sama? 

Pasien yang mengalami GERD saat kena COVID-19 bahkan punya risiko kematian yang tinggi. 

Penyakit dengan nama lengkap gastroesophageal reflux disease ini merupakan kondisi pencernaan kronis. 

GERD terjadi saat asam lambung naik lagi ke kerongkongan (esofagus), sehingga area ini teriritasi. 

Bukan tanpa sebab, GERD dipicu oleh lemahnya otot pembatas di kerongkongan bawah. Otot tersebut tak mampu menahan perpindahan asam lambung. 

Perpindahan itu menimbulkan nyeri dan panas terbakar di ulu hati serta mual. Kondisi keseluruhan badan pun jadi tak nyaman

Lama-kelamaan, penderita GERD akan memiliki jaringan parut di esofagusnya dan membuat ia susah menelan. 

Jika tidak mengubah pola hidup khususnya pola makan, 10-15 persen penderita GERD berisiko alami kanker esofagus di kemudian hari. 

Artikel Lainnya: Perhatikan Gejala Virus Corona Bukan Batuk Berdahak, tapi Batuk Kering

1 dari 4 halaman

Dampak COVID-19 terhadap Penyakit GERD

Seorang ahli sistem biologi dari University of Sao Paulo, Brasil, bernama Helder Nakaya menjelaskan risiko dan kondisi penderita GERD saat kena COVID-19

Dilansir dari The Scientist, refluks asam lambung menjadi faktor yang sering diabaikan dalam penanganan infeksi virus SARS-CoV-2. 

Dalam analisisnya yang dipublikasikan di medRxiv, 1.300 pasien COVID-19 dan GERD yang dirawat di rumah sakit punya risiko kematian 2-3 kali lebih tinggi dibanding mereka yang esofagusnya normal. 

Apa yang disampaikan oleh Nakaya juga senada dengan penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Gastroenterology (2020). 

Studi tersebut melaporkan, orang yang mengonsumsi obat penghambat pompa proton (penurun asam lambung) dua kali sehari untuk mengatasi gejala GERD punya risiko lebih tinggi terinfeksi COVID-19. 

Kenapa bisa begitu? Menurut penelitian di atas, ternyata obat penurun asam lambung justru merusak gastric barrier. Akibatnya, virus corona lebih mudah masuk ke pencernaan. 

Terlalu banyak asam lambung yang dihilangkan oleh obat membuat barrier kehilangan kemampuannya dalam menghalau virus yang masuk ke pencernaan. Obat lambung juga dipercaya mampu mengurangi keragaman mikroba di usus.

Artikel Lainnya: Sering Dikira Sama, Apa Beda GERD dengan Sakit Maag?

2 dari 4 halaman

Pemberian Obat Asam Lambung Masih Mengundang Pro dan Kontra

Di sisi lain, Kepala Divisi Penyakit Dalam Umum di Departemen Kedokteran Northwell Health, Amerika Serikat, Joseph Conigliaro, menyatakan hal sebaliknya. 

Menurut Conigliaro, pemberian obat famotidine (obat asam lambung) secara intravena kepada pasien mampu meningkatkan kondisi kesehatannya. Bahkan, di tahun 1996 obat tersebut mampu mengurangi replikasi virus HIV. 

Sebagian peneliti sebenarnya juga masih menentang hasil studi mengenai tingginya risiko kematian penderita GERD saat terkena COVID-19. 

Senada dengan pandangan tersebut, dr. Arina Heidyana mengatakan, “Hasil penelitian itu masih belum bisa dipastikan.”

Dokter Arina berpendapat, “Memang kemungkinan sel-sel di esofagus penderita GERD bisa mengikat virus corona. Tapi, itu masih butuh penelitian lebih lanjut. Belum tentu penderita GERD lebih berisiko terinfeksi corona dan punya gejala lebih berat.” 

“Kalau kita perhatikan sekarang, siapa saja bisa terinfeksi corona dan punya gejala berat. Mau yang usianya muda dan tidak ada comorbid pun, gejalanya ada yang berubah berat dan meninggal dunia. Jadi, untuk masalah penyakit ini, risikonya masih belum bisa dipastikan,” jelasnya.

Penyakit GERD sendiri bisa menjadi gejala COVID-19 bagi beberapa orang. Sebab, virus SARS-CoV-2 mampu memperbanyak diri di saluran pencernaan, termasuk lambung. Penderita akan mengalami nyeri di ulu hati, mual, dan muntah. 

Artikel Lainnya: Benarkah Bahan Makanan Bisa Menularkan Virus Corona ke Manusia?

3 dari 4 halaman

Penanganan untuk Penderita GERD yang Kena COVID-19

Pemberian obat tentu saja disesuaikan dengan gejala dan tingkat keparahan penyakitnya. 

Namun, secara umum, dr. Arina menjelaskan pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit akan diberikan obat-obatan, seperti:

  • Antivirus
  • Antibiotik bila diperlukan
  • Suplemen
  • Obat pereda gejala (tergantung gejala yang dirasakan)
  • Obat pereda masalah asam lambung 

Terdapat asumsi, “obat” agar pasien cepat sembuh adalah makan banyak. Menurut dr. Arina, pendapat tersebut kurang tepat. 

“Hal ini tidak berlaku buat pasien GERD yang terkena COVID-19. Bukan makan banyak, tapi makan makanan bernutrisi supaya daya tahan tubuh meningkat,” tegasnya. 

Langsung makan dalam porsi banyak justru akan membuat pencernaan pasien tidak nyaman. Lebih baik makan makanan bergizi dalam porsi kecil tetapi sering. 

Setelah makan, hindari langsung berbaring agar asam lambung dan makanan yang sedang dicerna tak naik ke kerongkongan. 

Itu dia informasi seputar hubungan GERD dan COVID-19. Karena hasil penelitiannya belum pasti, maka yang wajib waspada terhadap virus corona bukan cuma penderita refluks asam lambung saja melainkan semua orang

Bila masih ada pertanyaan seputar kedua penyakit tersebut, konsultasikan kepada dokter lebih cepat lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar