Sukses

Memahami Proses Keluarnya ASI pada Ibu Menyusui

Tahukah Anda bagaimana proses keluarnya ASI pada ibu menyusui? Agar tidak salah kaprah, ini kata dokter soal mekanisme keluarnya ASI.

Memberikan ASI eksklusif pada bayi usia 0 hingga 6 bulan terbukti membawa banyak manfaat sehat. Tidak heran, ASI eksklusif disebut sebagai asupan yang paling baik bagi bayi yang baru dilahirkan.

Terlepas dari fakta tersebut, pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai bagaimana proses keluarnya ASI dari payudara ibu menyusui? Yuk, cari tahu!

 

1 dari 3 halaman

Mengenal Proses Keluarnya ASI pada Ibu Menyusui

Dikutip dalam Babycenter, ASI sebenarnya mulai diproduksi saat ibu masih mengandung. Pasalnya, payudara ibu hamil mengalami beberapa perubahan, seperti nyeri bila ditekan, bengkak, serta puting atau areola yang menggelap.

Faktanya, hormon estrogen dan progesteron pada ibu hamil akan membentuk saluran dan jaringan pembentuk susu.

Ketika hamil, sebagian aliran darah juga menuju ke payudara sehingga pembuluh akan tampak lebih jelas di bagian tersebut.

Selain itu, kelenjar montgomery yang berada di sekitar puting dan areola payudara akan terlihat lebih besar. Bahkan, jaringan yang seharusnya berukuran kecil tersebut dapat berbentuk seperti benjolan di areola.

Saat trimester kedua kehamilan atau minggu ke-16 kehamilan, tubuh ibu sudah mulai memproduksi ASI pertama yang dikenal dengan istilah kolostrum.

Nantinya, bayi akan menerima sejumlah kolostrum pada hari pertama dan kedua menyusui setelah dilahirkan.

Artikel Lainnya: 10 Hal yang Wajib Diketahui pada saat Pertama Kali Menyusui

Dijelaskan oleh dr. Reza Fahlevi, Sp.A., proses keluarnya ASI tidak hanya melibatkan payudara saja. Hal tersebut juga melibatkan berbagai organ tubuh lain, seperti otak.

“Di otak itu ada pusat pengaturan hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin berfungsi merangsang sel-sel payudara ibu untuk memproduksi ASI. Sementara itu, hormon oksitosin merangsang pengeluaran ASI,” kata dr. Reza.

Saat bayi mengisap payudara, ia mengirimkan pesan kepada otak ibu. Otak kemudian memberi sinyal untuk melepaskan hormon prolaktin dan oksitosin, sehingga keluarlah ASI dari payudara ibu.

“Itulah mengapa, ASI dapat keluar dari payudara saat diisap bayi. Hormon oksitosin bahkan dapat terangsang untuk memproduksi ASI saat ibu memandangi foto atau mengingat si buah hati,” tutur dr. Reza.

Penting untuk diingat, ukuran payudara tidak mempengaruhi kemampuan ibu untuk mengeluarkan ASI. Wanita berpayudara kecil sekali pun dapat menghasilkan ASI dengan kuantitas dan kualitas serupa dengan wanita berpayudara besar.

Pada dasarnya, kualitas ASI lebih dipengaruhi oleh jumlah cairan yang dikonsumsi oleh ibu. Hal ini berhubungan dengan komposisi utama ASI, yaitu cairan.

Jadi, jika ibu mencukupi kebutuhan cairan setiap hari, ia akan mampu mengeluarkan ASI dalam jumlah yang memadai.

“Begitu juga dengan nutrisi ibu. Nutrisi ibu yang baik, cadangan lemak dan lainnya, itu juga berpengaruh dalam jumlah produksi ASI,” terang dr. Reza.

Artikel Lainnya: Posisi dan Teknik Menyusui yang Benar dan Aman

2 dari 3 halaman

Tips Memperlancar ASI selama Menyusui

Berdasarkan dr. Reza, tips memperlancar ASI pada ibu menyusui adalah dengan mencukupi kebutuhan gizi setiap hari. Selain itu, istirahat yang cukup serta menghindari stres pada saat menyusui.

“Kalau bisa, sedapat mungkin menyusui ASI secara langsung dari payudara. Pasalnya, hal tersebut akan merangsang hormon oksitosin sehingga ASI yang dikeluarkan lebih lancar,” jelas dr. Reza.

Jika  Anda kesulitan dalam mengeluarkan ASI, berikut metode yang bisa dilakukan untuk bantu mengatasinya:

  • Temukan cara untuk relaks, seperti pergi ke tempat yang tenang atau mencoba melatih pernapasan.
  • Tempelkan kompres air hangat pada payudara Anda sebelum menyusui.
  • Pijat payudara Anda dan peras sedikit ASI untuk memancingnya keluar.

Baca selengkapnya tentang tips memperlancar ASI lewat artikel berikut ini: 9 Tips untuk Memperlancar ASI.

Kini Anda sudah paham mengenai mekanisme keluarnya ASI pada ibu menyusui, bukan?

Jika masih penasaran atau ingin bertanya mengenai hal tersebut, Anda bisa melakukan konsultasi kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar