Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Post Weaning Depression, Ketika Ibu Depresi saat Menyapih Anak

Post Weaning Depression, Ketika Ibu Depresi saat Menyapih Anak

Pernah dengar istilah post weaning depression? Hal itu adalah depresi menyapih anak yang sering dialami oleh ibu menyusui. Waspada, kenali penyebab dan cara mengatasinya.

Air Susu Ibu alias ASI adalah asupan terbaik bagi bayi, khususnya saat masih berusia 0 hingga 6 bulan. Pemberian ASI dapat terus dilanjutkan hingga si kecil berusia 2 tahun.

Setelah periode tersebut, ibu dianjurkan untuk menyapih si kecil. Hal ini bertujuan agar anak tak terus-menerus ‘bergantung’ pada ASI.

Memang, menyapih anak bukanlah proses yang mudah. Tak sedikit ibu yang bahkan mengalami depresi menyapih anak alias post weaning depression. Apakah Anda salah satunya?

1 dari 3 halaman

Penyebab Depresi Menyapih Anak

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong, penyebab pasti depresi menyapih anak masih belum diketahui hingga saat ini.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang diduga berhubungan dengan post weaning depression. Berikut hal-hal yang dimaksud:

1. Pengaruh Hormon saat Menyusui

Ibu menyusui dapat melepaskan dua hormon yaitu, prolaktin dan oksitosin. Kedua hormon tersebut dapat mempengaruhi suasana hati.

Prolaktin, yang mendukung produksi ASI, dikenal dapat menghasilkan perasaan tenang pada ibu. Sementara itu, hormon oksitosin dapat membantu ibu terikat (bonding) dengan bayinya.

“Saat menyapih, hormon prolaktin dan oksitosin akan menurun. Oksitosin adalah salah satu hormon yang mempengaruhi mood (suasana hati). Jadi, wajar kalau ibu yang sedang menyapih akan mengalami penurunan mood,” kata dr. Sepriani.

Artikel Lainnya: Manfaat Menyusui bagi Ibu, Apa Saja?

2. Kembalinya Gejala Menstruasi

Saat menstruasi telah kembali dan dibarengi dengan proses menyapih, Anda mungkin akan merasakan perubahan hormon yang cukup ekstrem.

Anda mungkin akan lebih mudah tersinggung, dan marah. Anda pun dapat mengalami depresi pramenstruasi.

3. Faktor Psikis

Selama menyusui, Anda ‘berbagi’ tubuh dengan bayi secara signifikan. Begitu proses menyapih tiba, ibu akan mengalami perasaan tidak nyaman, cemas, dan memikirkan peran lain lantaran tidak lagi menyusui si buah hati.

“Faktor psikis, seperti khawatir bonding dengan anak akan berkurang. Tapi, kondisi ini umumnya tidak berlangsung lama. Biasanya hanya beberapa minggu saja. Setelah itu, mood akan kembali seperti biasa,” jelas dr. Sepriani.

Artikel Lainnya: Hati-hati, Ini Risiko Hamil Saat Masih Menyusui

4. Terburu-buru untuk Menyapih

Menyapih terlalu dini, misalnya akibat ASI tidak lagi keluar atau ada masalah kesehatan lain yang menyulitkan untuk menyusui, dapat meningkatkan risiko post weaning depression.

5. Riwayat Depresi Sebelumnya

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, ibu yang memiliki riwayat depresi sebelumnya rentan mengalami kondisi serupa saat proses menyapih si kecil.

“Orang-orang  yang sebelumnya pernah mengalami riwayat masalah kecemasan dan depresi atau masalah emosional lain, cenderung lebih rentan,” tutur Gracia.

Beberapa gejala depresi menyapih anak yang umum dirasakan, misalnya perasaan sedih atau mudah tersinggung, dan cemas.

Selain itu, ibu yang mengalami post weaning depression juga mudah gelisah, sulit berkonsentrasi, sensitif sehingga mudah sedih, merasa bersalah, dan kurangnya minat pada aktivitas yang biasa dilakukan.

Artikel Lainnya: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Ibu Bekerja Saat Mendidik Anak

2 dari 3 halaman

Tips Mengatasi Depresi Menyapih Anak

Menurut Gracia, mengatasi depresi menyapih anak perlu dilihat dari kondisi dan gejala yang dialami. Pasalnya, setiap orang dapat mengalami gejala post weaning depression yang berbeda-beda.

“Tidak ada salahnya untuk meminta pertolongan dari profesional, seperti dokter, psikolog, atau psikiater, saat mengalami gejala depresi menyapih anak,” saran Gracia.

Jika gejala depresi sampai mengganggu keseharian, seperti menjadi sulit tidur atau mengalami kelelahan ekstrem, ibu disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Nantinya, dokter akan melihat apakah ibu butuh obat-obatan khusus yang dapat membantu mengendalikan gejala agar tidak terlalu mengganggu.

“Psikoterapi juga dapat dilakukan untuk memberikan psikoedukasi, stabilisasi emosi, serta mengarahkan ibu untuk dapat melanjutkan perannya ke depan dengan optimal,” pungkas Gracia.

Waspadai risiko depresi menyapih anak. Jika Anda telanjur mengalaminya dan merasa terganggu dengan kondisi tersebut, tak perlu ragu untuk konsultasi lebih lanjut kepada dokter atau psikolog melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar