Sukses

Dampak Buruk Memarahi Anak di Depan Umum

Jangan sekali-sekali memarahi anak di depan umum. Selain tak enak dilihat orang, tindakan ini juga bisa berdampak buruk pada kesehatan mental si kecil, lho!

Hampir setiap anak belum sepenuhnya paham mengenai cara bersikap yang baik saat bermain di luar. Mereka kadang bertindak seenaknya, seperti berteriak, melompat, bahkan merusak benda-benda yang ada di sekitarnya.

Sebagai orang dewasa, orangtua harus dapat bersabar menghadapi kondisi tersebut tersebut. Meskipun menjengkelkan, namun sebaiknya Anda tidak memarahi anak di depan umum.

Faktanya, memarahi anak di depan umum tak hanya mengganggu kenyamanan orang yang ada di sekitar. Tindakan tersebut juga dapat memberikan dampak buruk untuk kesehatan mental si kecil, lho!

1 dari 3 halaman

Dampak Memarahi Anak di Depan Umum

Berikut ini beberapa dampak memarahi anak di depan umum yang mesti Anda ketahui:

  • Menimbulkan Perasaan Malu dalam Diri Anak

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, saat Anda mengucapkan kata-kata kasar kepada anak di depan umum, mereka akan menganggapnya sebagai hal yang memalukan.

“Misalnya, anak jadi menilai dirinya buruk dan hal ini diketahui orang lain. Dapat pula muncul perasaan negatif terhadap orangtua, misalnya merasa tidak disayang, merasa tidak dihargai, dan sebagainya,” kata Gracia.

  • Berdampak Negatif pada Perkembangan Psikososial Anak

Dimarahi di depan umum dapat menjadi pengalaman negatif yang terus diingat dan membekas dalam diri Anak.

“Hal ini juga dapat mengarahkan pada konsep diri yang cenderung negatif. Kemudian, dapat menurunkan rasa percaya diri anak, apalagi kalau sering terjadi,” ucap Gracia.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Anda sedang Membesarkan Anak Pemarah

  • Berpengaruh Buruk pada Kemampuan dan Keterampilan Sosialisasi

Gracia menuturkan, anak adalah peniru yang hebat. Mereka akan belajar dari perilaku atau sikap orangtuanya.

Saat dimarahi di depan umum, anak akan beranggapan bahwa tindakan tersebut adalah hal yang biasa dan dapat dilakukan oleh siapa saja.

“Anak dapat menganggap bahwa memarahi orang lain depan umum adalah hal yang lumrah. Oleh karena itu, mereka bisa saja marah ke temannya di depan umum, mengajak berkelahi, dan sebagainya,” tutur Gracia.

“Atau, sebaliknya, anak menjadi cemas dalam membawa diri di lingkungan. Mereka bisa saja jadi pemalu karena tidak pede, atau sulit bersosialisasi lantaran takut dianggap buruk,” sambungnya.

Artikel Lainnya: Tips Mengatasi Anak Menangis dan Merengek di Tempat Umum

  • Menimbulkan Perasaan Tidak Aman

Berteriak atau memarahi anak di depan umum dapat membuat anak merasa tidak aman. Mereka pun mungkin tumbuh dalam ketakutan dan merasa tidak berharga di hadapan orang lain.

“Pengalaman dimarahi orangtua, apalagi di depan umum, sejak kecil menimbulkan perasaan tidak aman, baik dalam keluarga maupun di lingkungan,” ujar Gracia.

  • Hubungan Orangtua dan Anak Kurang Harmonis

Perasaan marah, sedih, takut, dan kecewa yang mungkin dirasakan anak saat dimarahi orangtua tidak serta-merta hilang begitu saja. Perasaan tersebut dapat membekas di dalam hati si kecil, dan akan dibawanya hingga besar.

“(Hal tersebut) akan mempengaruhi penilaian anak terhadap orangtua. Anak juga mungkin memberontak, bersikap kasar, atau tidak sopan terhadap orangtuanya. Mereka pun sulit terbuka kepada orangtua,” jelas Gracia.

Artikel Lainnya: Bolehkah Memarahi Anak?

2 dari 3 halaman

Jangan Dimarahi, Ini Cara Tepat Mendisiplinkan Anak di Depan Umum

Guna menghindari dampak memarahi anak di depan umum, lebih baik disiplinkan si kecil dengan cara ini saat ia berperilaku tidak semestinya:

  • Kenali Pola Perilaku dan Emosi Anak

“Sebelum keluar rumah, briefing dulu si anak. Berikan pemahaman yang konkret dan jelas mengenai tujuan ke luar rumah hari itu, apa yang bisa dilakukan dan yang tidak, berikan time frame juga,” saran Gracia.

  • Perhatikan Situasi

Saat anak melakukan atau menunjukkan perilaku tidak semestinya, Anda perlu melihat seberapa penting hal tersebut untuk dikoreksi saat itu juga.

Kalau sampai merugikan dirinya atau orang lain, orangtua dapat dengan segera mengoreksi tindakan anak.

“Namun, caranya juga perlu diperhatikan, yaitu tetap tenang dan tegas. Hindari memarahi atau memberikan hukuman fisik pada anak, yang nantinya malah memancing perhatian,” tutur Gracia.

“Jika bisa ditunda, ajak anak ke tempat yang lebih sepi untuk mengoreksi sikap atau perilakunya tersebut,” lanjutnya.

  • Terapkan Metode Mendisiplinkan Anak yang Konsisten

Tidak hanya berlaku di luar, mendisiplinkan anak juga perlu dipraktikkan di dalam rumah. Misalnya, anak membuat kegaduhan atau mencoret-coret dinding, orangtua dapat menegurnya dengan cara yang baik.

Be firm and consistent. Terapkan cara mendisiplinkan yang konsisten di segala situasi, termasuk di rumah. Pada dasarnya, hal yang paling mempengaruhi perilaku anak adalah situasi di dalam rumah,” sebut Gracia.

Artikel Lainnya: Anak Sering Berkata Kasar, Ini Solusinya

  • Menjadi Contoh Orangtua yang Baik

Jadilah contoh yang baik bagi anak. Tunjukkan perilaku baik ke semua orang yang ada di rumah, termasuk sesama orang tua, anak, penjaga kebun, asisten rumah tangga, dan lainnya.

“Jadi, ketika mengoreksi perilaku anak, ia sudah paham karena sering melihat langsung seharusnya seperti apa,” ungkap Gracia.

  • Apresiasi Usaha Anak saat Anak Bersedia Mengoreksi Perilakunya

Orangtua juga perlu memberikan apresiasi pada anak saat ia berani mengoreksi kesalahannya.

Contoh, anak sering berteriak saat bermain dengan teman-temannya. Namun, setelah diberikan pemahaman, ia tak lagi melakukan hal tersebut.

Berikan apresiasi pada anak, apabila ia mematuhi saran dari orang tua. Lakukan hal yang sama saat anak bisa bermain tanpa membuat ‘kekacauan’.

Hal-hal positif seperti itu akan membangun kepribadian anak yang baik nantinya.

Setelah tahu faktanya, Anda sebaiknya tidak lagi memarahi anak di depan umum. Anda tak ingin si kecil menjadi pribadi yang kurang baik saat dewasa nanti, bukan?

Jika Anda menemukan kesulitan untuk tidak memarahi anak di depan umum, sebaiknya segera konsultasikan hal tersebut kepada psikolog melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar