Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Blunted Affect, Saat Wajah dan Tubuh Tak Cerminkan Emosi Anda

Blunted Affect, Saat Wajah dan Tubuh Tak Cerminkan Emosi Anda

Apa yang dirasakan biasanya terlihat dari wajah dan bahasa tubuh. Jika hal itu selalu tak tampak dari luar, jangan-jangan Anda mengalami blunted affect. Apa itu?

Anda wajib bersyukur jika masih bisa menunjukkan emosi lewat wajah dan bahasa tubuh. Kondisi tersebut bikin Anda bisa dipahami dan mendapatkan afeksi yang dibutuhkan. 

Faktanya, beberapa orang tak cukup beruntung untuk merasakan kondisi tersebut. Mereka adalah orang dengan blunted affect. Seperti apa pun emosinya, hal itu tidak terlihat dari luar dan sering bikin salah paham. 

1 dari 4 halaman

Apa Itu Blunted Affect?

Blunted affect merupakan istilah psikologis yang dipakai untuk menyebut kondisi saat seseorang kurang bisa mengekspresikan emosinya secara jelas. 

Baik intonasi, ekspresi wajah, serta bahasa dan gerak tubuh, semuanya seperti “abu-abu”. Kita tidak bisa mengidentifikasi secara pasti apakah orang tersebut sebenarnya sedang sedih, marah, bahagia, dan lain sebagainya. 

Perlu diingat bahwa blunted affect berbeda dengan alexithymia. Ikhsan Bella Persada, M. Psi., Psikolog mengatakan, pada blunted affect, mereka mampu merasakan dan memahami emosinya meski kurang bisa menampilkan secara jelas. 

Artikel Lainnya: Ini Dia, Alexithymia, Penyebab Emosi Datar

“Misalnya, ada keluarga yang meninggal. Orang dengan blunted affect akan merasa sedih. Tetapi, ia kurang biasa menampilkan emosinya. Sedangkan pada alexithymia, penderitanya tidak mampu memahami dan mengenali emosi,” kata Ikhsan.

“Intinya, orang dengan blunted affect mampu merasakan dan memahami emosi, tapi tak bisa menampilkannya,” tegasnya.

Bagaimana Gejala Blunted Affect?

Beberapa tanda blunted affect yang bisa diperhatikan, antara lain:

  • Intonasi tidak naik atau turun, khususnya saat membicarakan sesuatu yang emosional
  • Ekspresi wajah tidak berubah ketika mereka berbicara tentang masalah yang emosional
  • Orang dengan blunted affect jarang menggerakkan tangan dan lengan saat berkomunikasi
  • Postur dan bahasa tubuh tidak banyak mengungkapkan apa yang mereka rasakan
  • Orang dengan blunted affect jarang melakukan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain.

Artikel Lainnya: Bukan Cengeng, Kita juga Bisa Menangis ketika Sangat Marah

2 dari 4 halaman

Apa Saja Faktor Risiko Blunted Affect?

Blunted affect dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan medis. Untuk faktor psikologis, pengalaman traumatis bisa meningkatkan risikonya. 

“Pengalaman traumatis, seperti kehilangan orang yang disayang secara mendadak akibat bencana, bisa berujung pada post traumatic stress disorder (PTSD) dan depresi. Dua masalah mental itu akhirnya meningkatkan risiko blunted affect,” jelas Ikhsan.

Selain PTSD dan depresi, penderita skizofrenia juga lebih rentan mengalami blunted affect. Halusinasi, delusi, dan pola pikir yang merusak realita pada akhirnya bikin penderitanya tak mampu menunjukkan emosi yang sebenarnya. 

Banyak orang dengan skizofrenia menunjukkan ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan emosi asli mereka. Hal itu dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Abnormal Psychology

Peneliti memutar sebuah film, lalu membandingkan ekspresi penderita skizofrenia dan blunted affect dengan orang normal. 

Hasilnya, orang dengan skizofrenia dan blunted affect hanya menunjukkan emosi selama 2,7 detik. Sedangkan mereka yang normal mampu menampilkan ekspresi sekitar 22,3 detik. Perbedaan yang cukup jauh, bukan? 

Selain masalah psikologis, anak dengan spektrum autisme juga berpotensi mengalami masalah ekspresi. 

Risiko serupa juga dimiliki oleh penderita parkinson. Mereka kehilangan kendali atas otot, sehingga kesulitan tersenyum atau sekadar mengerutkan kening.

Artikel Lainnya: Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Anda Marah

3 dari 4 halaman

Apa yang Akan Dilakukan Psikolog?

Jika pemicu utamanya adalah autisme atau parkinson, dokter bisa memberikan treatment medis untuk meringankan masalah blunted affect yang diderita pasien. 

Namun, bila penyebabnya adalah masalah psikis, seperti skizofrenia, PTSD, atau depresi, psikolog akan melatih pasien untuk mengomunikasikan emosinya.

“Psikolog akan menyarankan mereka untuk menuliskan peristiwa emosional apa saja yang terjadi. Mereka pun boleh menuliskan apa saja yang dirasakan agar terbiasa mengungkapkan,” tutur Ikhsan.

“Interaksi dengan orang lain juga mesti diperbanyak untuk memaksimalkan proses tersebut,” sambungnya.

Tidak bisa mengekspresikan emosi secara gamblang memang ciri khas dari penderita blunted affect. Mereka bukan melakukannya dengan sengaja, melainkan ada faktor psikis dan medis yang mendasarinya.

Masih penasaran dengan blunted affect? Ingin tahu lebih dalam mengenai masalah kesehatan mental? Langsung saja konsultasikan kepada dokter dan psikolog melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi KlikDokter

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar