Sukses

Deretan Mitos dan Fakta Bius Epidural saat Melahirkan

Kenali fakta dan mitos seputar bius epidural, agar Bunda tak langsung khawatir dan panik saat harus mendapatkannya kala melahirkan nanti.

Membayangkan rasa sakit saat melahirkan normal membuat wanita bergidik ngeri. Untungnya, untuk meminimalkan rasa tersebut, bius epidural bisa jadi solusi.

Bius atau anestesi epidural yang tidak bikin kantuk ini berfungsi menghentikan saraf sensorik di tulang belakang.

Ketika terhenti, saraf tersebut tidak mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. Alhasil, rasa nyeri yang dirasakan di rahim dan vagina jadi tidak berat.

Ibu pun bisa melahirkan dengan lancar dan saraf motorik (untuk bergerak) tetap bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Fakta yang juga perlu diingat, metode bius ini bisa dikombinasikan dengan penyuntikan di membran yang melapisi tulang belakang (spinal). Kombinasi tersebut bisa memperpanjang efek bius.

Jika efek bius epidural biasa 1 hingga 2 jam kemudian sudah berkurang, kombinasi dengan spinal bisa berlangsung 4 hingga 8 jam, lho.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang ketakutan saat harus mendapat bius epidural. Hal ini berhubungan dengan berbagai mitos keliru seputar metode anestesi tersebut.

Artikel Lainnya: Fakta Induksi Persalinan yang Perlu Wanita Ketahui

Nah, agar Anda tak ikutan panik dan cemas saat harus menerima bius epidural kala melahirkan nanti, berikut ini beberapa mitos dan fakta mengenai metode anestesi tersebut:

1 dari 5 halaman

Mitos 1. Bius Epidural Bikin Ibu Susah Mendorong Bayi Keluar karena Mati Rasa

Karena menggunakan istilah bius yang identik dengan mati rasa, tak sedikit ibu hamil yang percaya dengan anggapan ini. Padahal, menurut dr. Dyah Novita Anggraini, pernyataan tersebut tidak tepat alias mitos.

“Ibu tidak akan mengalami mati rasa setelah mendapatkan suntikan anestesi tersebut. Ibu hanya merasa kebas; tidak sampai mati rasa. Karena, tujuannya adalah untuk mengurangi rasa nyeri saat melahirkan,” ujar dr. Dyah Novita.

“Jadi, ibu masih tetap bisa mendorong bayi keluar saat terjadi kontraksi,” sambung tenaga medis yang kerap disapa dr. Vita itu.

Mitos 2. Bius Epidural Bikin Sakit Punggung Permanen

Area punggung yang disuntik memang bisa sakit, apalagi jika pemasangan kateter epidural sudah dilakukan. Namun, rasa sakit di punggung umumnya hanya berlangsung sementara waktu.

Saat melahirkan pun, rasa tersebut belum muncul karena Anda masih dalam keadaan kebas.

Bila nyeri punggung tak bisa ditoleransi pasca melahirkan dan sampai sulit berjalan, segera konsultasikan ke dokter untuk dicarikan solusinya.

Artikel Lainnya: Kapan Suntik Epidural Diperlukan untuk Ibu Hamil?

2 dari 5 halaman

Mitos 3. Bius Epidural Bikin Bayi Lumpuh Otak

Hal ini juga tidak perlu Anda khawatirkan. Sebab, dosis anestesi yang sampai ke janin terbilang sangat sedikit. Artinya, bius epidural tidak berbahaya atau memberi efek samping apa pun ke janin.

Jadi, Bunda tidak perlu takut berlebih dengan selentingan ini, ya!

Mitos 4. Bius Epidural Wajib Diberikan kepada Semua Wanita Melahirkan

Meski fungsi dari bius epidural terasa melegakan, faktanya tidak semua wanita memerlukan metode anestesi ini.

Jika ibu merasa bisa melahirkan secara normal tanpa bantuan apa pun, maka bius tidak perlu diberikan.

Ibu hamil yang punya masalah gangguan pembekuan darah dan diabetes juga tidak disarankan untuk menerima anestesi epidural.

Punya riwayat alergi parah? Sebaiknya hal itu juga jadi pertimbangan, karena reaksi alergi pasca anestesi mungkin saja terjadi.

“Untungnya selama ini kondisi alergi obat bius terbilang sangat jarang, meski mungkin terjadi. Biasanya, reaksi alergi muncul dipicu oleh paparan dari obat lain yang diberikan saat hendak melahirkan. Jika ada alergi, obat antihistamin akan diberikan,” ucap dr. Dyah Novita.

Artikel Lainnya: Bisakah Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit?

3 dari 5 halaman

Mitos 5. Tidak Akan Merasakan Sakit Sama Sekali setelah Dibius

Bius epidural memang jadi solusi untuk meringankan rasa sakit saat hendak melahirkan. Sayangnya, metode ini bukan jaminan Anda tidak merasakan sakit sama sekali.

Buat beberapa wanita, rasa kebas bahkan tidak dirasakan di seluruh rahim dan vagina. Dokter yang kesulitan menemukan rongga epidural di tulang belakang juga dapat mengurangi efektivitas metode anestesi ini.

Mitos 6. Ada Banyak Efek Samping dari Bius Epidural

Hampir setiap tindakan medis memiliki efek samping. Tapi, biasanya, hal tersebut hanya terjadi apabila dosis yang diberikan tidak tepat. Begitu pula dengan bius epidural.

Jika dosis yang diberikan kurang tepat, sakit kepala, mual muntah, tekanan darah menurun, dan demam menggigil bisa saja terjadi.

Untuk efek samping seperti gatal di area suntikan atau selalu ingin buang air kecil, hal semacam itu akan terjadi sementara saja. Ketika obat bius sudah berhenti bekerja, efek tersebut akan hilang.

Artikel Lainnya: Apakah Ibu Hamil Boleh Cabut Gigi?

4 dari 5 halaman

Mitos 7. Bius Epidural Meningkatkan Risiko Operasi Caesar

Karena ada anggapan ibu hamil akan susah mendorong bayi, maka bius epidural dianggap dapat meningkatkan risiko operasi caesar. Hal semacam ini tidak perlu dipusingkan, karena merupakan mitos belaka.

Faktanya, ada berbagai pertimbangan ketika dokter merekomendasikan Anda untuk operasi Caesar.

Lagi pula, prosedur tersebut tidak semenyeramkan itu asalkan dilakukan di bawah pengawasan tim dokter profesional.

Kini, Anda sudah mengetahui sejumlah mitos dan fakta bius epidural yang kerap beredar di masyarakat.

Bila masih ada pertanyaan seputar proses bersalin, jangan segan untuk berkonsultasi pada dokter melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar