Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Bermain dengan Anak, Tetap Sportif atau Orang Tua Mengalah Saja?

Bermain dengan Anak, Tetap Sportif atau Orang Tua Mengalah Saja?

Tetap sportif atau pura-pura mengalah pada anak saat bermain bersama? Tak perlu bingung, ini saran dari psikolog yang bisa Anda terapkan.

Main dan olahraga bersama anak adalah hal yang menyenangkan. Tapi terkadang, hal tersebut juga bisa jadi momen dilema. 

Pasalnya, orangtua suka bingung harus mengalah pada anak atau tetap bersikap sportif sehingga si kecil berpotensi kalah. 

Anda sebenarnya juga sempat berpikir; kalau orang tua mengalah terus, bukannya anak bisa tumbuh jadi egois, ya?

Lantas, mana tindakan yang paling tepat menurut psikolog anak; orang tua mengalah atau tetap bersikap sportif dan membiarkan si kecil merasakan kekalahan?

1 dari 4 halaman

Perlukah Orangtua Mengalah saat Main dengan Anak?

Berdasarkan Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, pada dasarnya, sikap sulit menerima kekalahan dan cenderung egosentris wajar ditunjukkan oleh seorang anak, terutama jika usianya masih prasekolah. 

“Namun, bukan berarti sikap tersebut terus-menerus bisa dimaklumi. Dengan kata lain, tak baik efeknya jika orang tua terus mengalah pada anak. Justru, pada masa ini, anak harus sedikit demi sedikit dikenalkan dan diarahkan untuk menerima kekalahan,” kata Gracia.

“Orangtua mesti membangun pemahaman bahwa kalah atau menang adalah hal yang wajar, dan memang selalu ada di dalam setiap permainan atau kompetisi,” sambungnya.

Jadi, Gracia menyarankan agar orangtua tetap berusaha bersikap sportif saat bermain dengan anak. 

“Sesekali mengalah tidak apa-apa, apalagi kalau anak masih kecil. Tapi, pastikan tidak terus-menerus mengalah, ya,” ucap Gracia.

Artikel Lainnya: Anak Sering Bertengkar dengan Orang Tua? Ini Dampaknya pada Anak

2 dari 4 halaman

Anak Telanjur Ngambek, Lebih Baik Berhenti atau Tetap Teruskan Bermain?

Saat anak ngambek, lebih baik berhenti atau tetap lanjutkan permainan? Untuk mengetahui langkah terbaik, Anda perlu terlebih dahulu melakukan percobaan.

Di awal-awal percobaan, Anda harus siap dengan kondisi si kecil yang akan marah ketika dirinya kalah. 

Kondisi tersebut sangat wajar dan jangan dibalas dengan ucapan ketus atau melarangnya untuk meluapkan emosi. 

Permainan bisa dihentikan untuk sementara waktu. Pada waktu jeda ini, orang tua bisa menenangkan anak dengan cara mengelus kepalanya atau memeluk tubuhnya sambil memvalidasi perasaan si kecil. 

“Bisa juga sambil katakan, ‘Adik sedih karena kalah, ya? Tidak apa-apa kok kalau kalah. Walaupun kalah, adik pintar mainnya’,” saran Gracia. 

Hindari bercanda sambil mengejek, menertawakan, apalagi sampai menyudutkannya saat anak kalah. Rasa malu yang dirasakan anak akan memperparah keadaan. 

Saat anak lebih tenang, ajak dirinya untuk bermain lagi dengan sportif. Di momen orangtua kalah, Anda mesti mencontohkan bagaimana caranya menerima kekalahan dengan baik. 

Sebagai contoh, ketika anak menang, Anda bisa bersikap tenang dan menyelamati si anak. Lakukan hal ini dengan konsisten. 

Artikel Lainnya: Agar Anak Mau Tidur Sendiri, Orang Tua Bisa Lakukan 8 Jurus Ini

Tak cuma saat bermain, di keseharian pun nilai-nilai seperti itu mesti diterapkan. Hal ini akan membantu anak untuk terbiasa dan membangun pandangan yang tepat tentang menang atau kalah. 

Intinya, sesekali mengalah pada anak tidaklah mengapa. Tapi, lihat dahulu kondisinya seperti apa, dan tidak boleh dilakukan terlalu sering, apalagi jika anak sudah berusia 6-7 tahun. 

Selalu arahkan anak untuk fokus akan usaha dan prosesnya; bukan cuma pada hasil. Kehidupan di luar keluarga pasti jauh lebih “keras”. 

Saat anak tak terbiasa menerima kekalahan, bukan tak mungkin ia akan mudah terpukul dan lebih sulit untuk bangkit, meski masalah yang ada sebenarnya tak berat. 

Hal yang lebih parah pun mungkin saja terjadi. Saat tak terbiasa menerima kekalahan, anak akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Hal inilah yang mesti dihindari. 

“Sebaliknya, dalam menerima kekalahan, anak juga belajar mengembangkan kemampuan untuk mengatasi, melalui, dan kembali pada kondisi semula (resiliensi), daya tahan, kepercayaan, serta motivasi dalam dirinya,” tutur Gracia.

Artikel Lainnya: Kiat Menangani Anak yang Egois

3 dari 4 halaman

Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengalah pada Anak?

Keinginan bermain bersama anak biasanya masih tetap ada sekalipun si kecil sedang sakit atau baru pulih. 

Agar dia tidak terlalu memaksakan diri, bisa kembali lebih ceria, dan semangat dalam menghadapi proses penyembuhannya, sikap mengalah pada anak sangat diperlukan. 

Tujuan bermain dalam konteks ini bukanlah untuk mengajarkan menang dan kalah, melainkan memberi semangat ekstra untuk si kecil. 

Sedikit reaksi berlebih (humor) saat orangtua kalah juga bisa menghibur si buah hati. Durasi bermain pun tidak perlu terlalu lama, agar anak bisa fokus beristirahat.

Jika anak sudah sembuh dan semangatnya kembali penuh, barulah permainan dilakukan secara sportif lagi. 

Kini, Anda sudah tahu bagaimana cara bersikap ketika bermain dengan anak. Orangtua mengalah sesekali memang tidak apa-apa, tetapi jangan jadikan hal itu sebagai kebiasaan agar anak tak tumbuh jadi orang egois. 

Masih ada pertanyaan seputar pola asuh dan tumbuh kembang anak? Anda bisa berkonsultasi kepada dokter mengenai hal tersebut kepada psikolog dan dokter melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar