Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Vaksin Jadi Beracun Saat Disimpan Sembarangan,Ini Faktanya!

Vaksin Jadi Beracun Saat Disimpan Sembarangan,Ini Faktanya!

Penyimpanan vaksin tak boleh asal. Kalau disimpan di suhu dan area yang tak sesuai, diklaim vaksin jadi beracun! Benarkah hal tersebut?

Semenjak vaksin COVID-19 masuk ke Indonesia, kita jadi semakin tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan vaksin, tak terkecuali proses penyimpanannya.

Di awal kedatangan vaksin, kita sempat mendengar istilah rantai dingin atau cold chain system untuk proses pendistribusian vaksin agar tidak merusak isinya.

Dikhawatirkan, kalau proses penyimpanan vaksin dan pendistribusiannya tidak tepat, vaksin jadi rusak.

Tak cuma itu, sebagian orang juga berpikir vaksin bisa berubah menjadi racun yang berbahaya bagi tubuh bila cara penyimpanannya salah.

Lantas, benarkah hal tersebut? Simak penjelasan medisnya berikut ini.

1 dari 3 halaman

Penyimpanan Vaksin Tak Sesuai Bikin Jadi Racun?

Menanggapi pertanyaan tersebut, dr. Alvin Nursalim, Sp.PD, menjelaskan, “Sebenarnya, ketika penyimpanan vaksin tidak sesuai dengan standar dan kebutuhan vaksin itu sendiri, yang paling ditakutkan adalah efektivitasnya saja yang menjadi nggak ada atau hilang.”

“Kalau sampai beracun, seharusnya tidak. Vaksin seharusnya tidak berubah jadi racun,” jelasnya.

Menurut dr. Alvin, kondisi ini berlaku untuk semua vaksin, tak cuma vaksin COVID-19. “Penyimpanan vaksin harus diperhatikan dengan baik. Ada pengaturan yang harus diikuti untuk masing-masing vaksin,” tambahnya.

Bicara soal aturan masing-masing penyimpanan vaksin, ternyata memang ada perbedaan.

Sebagai contoh, vaksin Sinovac harus disimpan dalam suhu 2-8 derajat Celsius. Sedangkan, vaksin Pfizer harus disimpan dalam suhu -70 derajat Celsius.

Untuk vaksin COVID-19 dari Moderna, penyimpanan vaksinnya harus berada di suhu -20 derajat Celsius.

Artikel Lainnya: Efek Samping Penggunaan Vaksin Virus Corona, Ini Penjelasan CDC

Vaksin sangat sensitif terhadap beberapa hal, yakni cahaya, panas (suhu), dan proses pembekuan.

Vaksin yang dibuat dari kuman hidup akan sangat sensitif terhadap cahaya dan panas, contohnya vaksin campak. Jika terlalu panas, maka kuman dan protein di dalamnya akan mati.

Sedangkan, pada vaksin tetanus dan pneumokokus misalnya, vaksin ini juga tidak boleh disimpan terlalu dingin karena cairannya cepat membeku dan tidak efektif lagi.

Intinya, jika salah satu prosedur penyimpanan ada yang keliru, maka efektivitas vaksin akan menurun bahkan hilang.

Vaksin yang sudah tidak efektif tentu saja tidak bisa melindungi seseorang secara maksimal dari serangan kuman penyakit.

Lalu, mengganti vaksin yang sudah rusak dan tidak berguna pun membutuhkan biaya yang mahal. Karena itulah, mesti tidak sampai berubah jadi racun, vaksin wajib disimpan pada suhu yang benar setiap saat.

Dalam hal ini, lemari pendingin sangat dibutuhkan dalam proses penyimpanan vaksin, termasuk vaksin virus corona.

Artikel Lainnya: Efikasi Vaksin Sinovac 50 Persen, Ini Artinya

2 dari 3 halaman

Hal yang Mesti Diperhatikan dalam Proses Penyimpanan Vaksin

Proses penyimpanan vaksin yang benar menjadi tanggung jawab pemerintah dan fasilitas kesehatan. Beberapa hal yang menjadi perhatian khusus antara lain:

  • Suhu penyimpanan harus spesifik. Suhu yang lebih panas dari 2 derajat Celsius berpotensi merusak vaksin.
  • Penyimpanan vaksin menggunakan lemari es medis yang dirancang khusus untuk menyimpan vaksin. Lemaris es medis bisa mengontrol dan menjaga suhu di kisaran yang tepat (stabil).

Sedangkan, lemari es makanan atau bar tidak memberikan tingkat akurasi dan kontrol yang sama.

Lemari es medis punya pencatatan 24 jam, ada alarmnya bila suhu berubah akibat penutup pintu yang tidak kencang atau hal lain, dan ada kuncinya. Sedangkan, lemari es biasa tidak ada.

Jadi, vaksin tidak boleh disimpan di dalam kulkas makanan sekali pun menurut orang awam sudah dingin.

  • Meninggalkan vaksin di meja (ceroboh) karena harus disambi dengan pekerjaan lain juga sangat tidak direkomendasikan. Meski tidak panas, suhu ruang tetap akan merusak efektivitas vaksin.
  • Hindari menyimpan vaksin dalam jumlah berlebih. Dikhawatirkan beberapa vaksin sisa justru akan kedaluwarsa dan mesti dibuang.
  • Fasilitas kesehatan juga harus punya tempat penyimpanan vaksin cadangan yang sesuai dengan pedoman rencana darurat.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi ke depan. Jika sudah ada perencanaan yang matang, maka tempat cadangan tersebut seharusnya masih bisa mencegah vaksin dari kerusakan.

Vaksin, termasuk vaksin COVID-19, memang tak akan berubah jadi racun ketika proses penyimpanannya tidak benar. Kendati begitu, penyimpanan vaksin yang tidak sesuai standar akan menghilangkan efektivitasnya.

Ingin tahu lebih lanjut seputar COVID-19 atau vaksin penyakit? Konsultasi ke dokter lewat fitur LiveChat 24 Jam di aplikasi Klikdokter. Anda juga bisa mengetahui beragam informasi rumah sakit dan tes PCR di Pusat Informasi COVID-19 Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar