Sukses

Waspada, Haid Tidak Teratur Bisa Jadi Dampak Long Covid

Ada satu dampak long covid yang bikin kaum hawa cemas, yaitu haid tidak teratur! Untuk tahu kenapa hal tersebut bisa sampai terjadi, simak penjelasan ini.

Peninggalan beberapa gejala setelah sembuh dari COVID-19 disebut sebagai long covid. Digunakannya kata “long”, sebab si gejala cukup lama hilangnya, bahkan bisa sampai berbulan-bulan.

Beberapa orang umumnya melaporkan gejala long covid berupa anosmia, demam, batuk, dan lainnya. Namun ternyata, haid tidak teratur juga menjadi salah satu gejala dari long covid!

Sebagai orang mungkin berpikir, antara infeksi pernapasan dan siklus haid, kan, tidak ada hubungannya sama sekali, ya.

Akan tetapi, laporan medis mengatakan kondisi long covid kemungkinan dapat memengaruhi siklus serta kondisi haid wanita. Bagaimana faktanya?

1 dari 4 halaman

Mereka yang Haidnya Tidak Teratur Setelah Sembuh COVID-19

Medical News Today (MNT) sempat mewawancarai enam orang dengan gejala long covid. Mereka semua merupakan wanita dengan gejala haid tidak teratur.

Tak hanya itu, lima pasien di antaranya mengaku mengalami pembekuan darah haid yang tidak biasa dan perburukan sindrom pramenstruasi (PMS) juga terjadi.

Rose (nama disamarkan), salah satu pasien yang diwawancarai mengatakan, “Dua minggu setelah sembuh dari COVID-19, saya seharusnya menstruasi, tapi kenyataannya tidak. Saya sempat berpikir. ‘Oh, mungkin karena saya baru sembuh dari sakit.’ Tapi bulan depannya, saya juga tidak mengalaminya. Begitu seterusnya sampai berbulan-bulan kemudian.”

Ada juga pasien lain yang bernama Bianca (nama disamarkan). Mirip-mirip, Julia juga mengalami haid tidak teratur meski tak selama Rose. Namun, darah haid yang dikeluarkannya banyak sekali yang menggumpal.

Louise (nama disamarkan) pun merasakan hal serupa, siklus mensnya berantakan dan terjadi peningkatan penggumpalan darah.

“Tiga bulan pertama setelah sembuh dari COVID-19, darah menstruasi saya banyak yang menggumpal. Saya sampai memotretnya untuk bertanya kepada dokter. Untungnya, menurut dokter itu masih dalam kadar normal,” tutur Louise.

Sedangkan Edith (nama disamarkan), ia tidak mengalami penggumpalan darah mens, tetapi perburukan PMS.

“Menstruasi saya telah berubah dari frekuensi, durasi, dan tingkat nyerinya. Saya juga mengalami gejala mirip COVID-19 yang kambuh sebelum haid saya dimulai!” katanya kepada MNT.

Artikel Lainnya: Mengenal Masa Inkubasi Virus Corona dan Efeknya pada Tubuh

2 dari 4 halaman

Kenapa Long Covid Sampai Bisa Menyerang Siklus Haid?

Hingga kini, belum diketahui sebenarnya apa penyebab haid tidak teratur yang dirasakan oleh mereka.

Namun, dr. Linda Fan, Asisten Profesor dan Direktur Gynecologic Quality and Safety di Yale School of Medicine, di Amerika Serikat, menerangkan adanya beberapa kemungkinan.

Saat seseorang terinfeksi penyakit berbahaya, dalam hal ini COVID-19, pasti stres juga menyerang dirinya.

“Stres itu sendiri diketahui sebagai penyebab haid tidak teratur. Stres akan mengganggu sistem hormonal yang digunakan otak untuk ‘berkomunikasi’ dengan ovarium,” jelasnya.

Hal serupa juga dilontarkan oleh dr. Valda Garcia. “Stres memang bisa memengaruhi siklus haid. Bisa saja sebelumnya mereka mengalami stres berat dan trauma karena kena COVID-19. Alhasil, kondisi tersebut membuat haid tidak teratur. Kalau stresnya sudah sampai mengganggu aktivitas dan produktivitas, bantuan psikolog diperlukan,” terangnya.

Selain stres, dr. Fan berpendapat bahwa ada beberapa kemungkinan biologis. Virus SARS-CoV-2 bisa saja menyerang dan mengganggu fungsi ovarium.

Dugaan itu ditariknya dari berbagai laporan tentang kemampuan virus dalam mengganggu fungsi organ selain paru-paru.

Artikel Lainnya: Wajib Tahu, Kadar Virus Corona Pengaruhi Risiko Gejala!

“Studi di China tahun ini juga telah mengungkapkan, 25 persen orang dengan long covid mengalami perubahan siklus menstruasi. Untungnya hal tersebut bisa membaik seperti semula dan tidak ada yang menunjukkan perubahan kesuburan,” begitu lapornya.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Reproductive BioMedicine Online, dari 177 orang dengan COVID-19, sebanyak 45 orang melaporkan perubahan volume darah menstruasi.

Lalu, 50 orang melaporkan mengalami perubahan siklus dan periode menstruasi yang lebih lama.

Perubahan siklus menstruasi mungkin juga dipengaruhi oleh tingkat keparahan COVID-19.

Semakin berat gejala COVID-19 yang sebelumnya dirasakan, semakin tinggi risikonya untuk mengalami perubahan siklus haid sementara.

Artikel Lainnya: Perlengkapan Medis Rumahan untuk Bantu Lawan Virus Corona

3 dari 4 halaman

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Tanpa pernah menjadi pasien COVID-19, sebenarnya siklus haid seorang wanita memang bisa berubah. Karena itulah, menunggu dulu merupakan tindakan yang tepat, apalagi jika tak ada gejala lain yang mengkhawatirkan.

Perhatikan juga, apakah Anda aktif secara seksual pasca sembuh? Jika tidak aktif berhubungan seksual dan tetap tidak haid selama 3 bulan, barulah Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter. Jelaskan kepada dokter mengenai gejala yang Anda  dirasakan.

Apakah ada nyeri berlebih? Apakah gejala sebelum mens sangat menyakitkan dibanding sebelumnya?

Apakah perdarahannya lebih banyak dan tak normal? Semuanya bisa Anda ceritakan ke dokter.

Dokter Fan juga mengatakan, tenaga medis akan memeriksa risiko anemia, kemungkinan kehamilan, dan fungsi tiroid pasiennya. Bila diperlukan, pengobatan hormonal mungkin bisa jadi solusi.

Dampak long covid terhadap siklus datang bulan hingga bikin haid tidak teratur masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Apabila masih ada pertanyaan seputar menstruasi dan kesehatan organ reproduksi, konsultasi pada dokter kami lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar