Sukses

Penderita Long COVID-19 Bisa Alami Gejala Parosmia

Orang yang mengalami long covid bisa mengalami gejala parosmia. Gejala apa lagi itu dan bagaimana mengatasinya?

Wabah virus corona tak berhenti menimbulkan berbagai perkembangan baru. Akhir-akhir ini pun tengah populer istilah long covid dan berbagai gejala yang menyertainya.

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong, long covid merupakan gejala gangguan pada organ tubuh pasien COVID-19 yang telah dinyatakan negatif secara PCR atau swab test. Namun, gejala khas COVID-19 masih dirasakan oleh pasien tersebut.

Long covid adalah gejala gangguan organ yang masih menetap hingga beberapa minggu bahkan bulan setelah seseorang mengalami COVID-19,” jelas dr. Sepriani.

Menurutnya, gejala long covid berupa rasa lelah, sesak, batuk, nyeri di dada, nyeri sendi, sulit konsentrasi (brain fog), sakit kepala, dan lain-lain. Beberapa pasien yang mengalami long covid pun dapat mengalami kehilangan kemampuan penciuman.

Tak hanya itu, ada lagi gejala long covid yang baru terdengar yaitu parosmia. Gejala apa ini?

1 dari 3 halaman

Gejala Parosmia dan Kaitannya dengan Long Covid

Dokter Sepriani menjelaskan, parosmia sendiri dalam dunia medis merupakan masalah neurologis yang kerap terjadi di sistem saraf.

“Parosmia atau perubahan sensasi saat menghirup bisa juga termasuk salah satu gejala long covid, khususnya kalau ada gangguan neurologis (gangguan saraf),” jelasnya.

Parosmia biasanya ditangani oleh dokter spesialis THT. Pada tes umum untuk parosmia, biasanya pasien diminta untuk menghirup beberapa aroma yang cukup kuat.

Artikel lainnya: Awas, Tak Bisa Rasakan Pedas Bisa Jadi Gejala COVID-19!

Bila pasien tidak dapat menghirup wangi-wangian yang diberikan, dokter akan menyarankan pemeriksaan rontgen sinus, biopsi daerah sinus, atau MRI.

Dalam pemeriksaan parosmia, pasien juga akan ditanya beberapa pertanyaan seperti:

  1. Riwayat penyakit keluarga, seperti kanker dan kondisi neurologis
  2. Infeksi yang pernah dialami
  3. Kebiasaan merokok dan pola hidup
  4. Obat-obatan yang dikonsumsi

Lalu, mengapa penderita long covid bisa alami gejala parosmia? Seperti diketahui, gejala dari COVID-19 sendiri memang berpusat pada sistem saraf. Jadi, seseorang yang terkena COVID-19 mungkin bisa mengalami gejala parosmia.

“COVID-19 bisa menyerang berbagai sistem organ di tubuh. Akibatnya, bisa muncul gejala-gejala di berbagai organ termasuk di sistem saraf,” jelas dr. Sepriani.

Artikel lainnya: Delirium, Gejala Baru COVID-19

2 dari 3 halaman

Penanganan Gejala Parosmia

Bila pasien yang terkena parosmia tidak memiliki penyakit lain seperti kanker, parosmia dapat diatasi dengan beberapa terapi atau obat. Namun, penanganannya memerlukan pengawasan dokter. Karena, gejala parosmia bisa berbeda-beda pada setiap orang.

Terapi yang diberikan juga berbeda-beda sesuai anjuran dokter. Pasalnya, parosmia bukan karena gangguan di hidung saja, tetapi karena penyakit sistemik.

“Terapinya personalized alias tergantung pasiennya. Jadi, harus berdasarkan pemeriksaan dokter dan keluhan pasien tersebut. Parosmia tidak bisa ditangani sendiri, harus secara keseluruhan,” terang dr. Sepriani.

Butuh info lengkap mengenai COVID-19? Baca artikel di KlikDokter dan gunakan layanan Live Chat 24 jam untuk berkonsultasi kepada dokter secara langsung.

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar