Sukses

Beda Mati Suri dan Koma Menurut Medis

Banyak orang kerap menyamakan mati suri dan koma. Padahal, kedua hal tersebut berbeda, lho. Berikut penjelasannya!

Istilah mati suri kini terdengar lagi sejak artis Paramitha Rusady menceritakan pengalaman melahirkannya belasan tahun silam. Menurut penuturannya, ia sempat mengalami hal itu selama lima hari pasca perdarahan hebat.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan mati suri? Apakah berbeda dengan kondisi koma? Simak penjelasannya dari kacamata medis berikut ini!

 

1 dari 3 halaman

Perbedaan Mati Suri dan Koma

Menurut dr. Devia Irine Putri, dalam dunia medis kondisi mati suri dan koma berbeda. Agar Anda dapat membedakannya dengan lebih jelas, berikut rinciannya:

  • Mati Suri

“Mati suri adalah sebuah kondisi saat seseorang hidup kembali setelah sempat dinyatakan meninggal dunia,” ujar dr. Devia.

“Dalam medis, kondisi ini sering disamakan dengan near-death experience (NDE). Pengalaman mendekati kematian ini disebut-sebut berhubungan dengan keberadaan gas karbon dioksida di dalam tubuh seseorang,” jelasnya.

Dilansir dari NHS UK, pengalaman NDE sering dialami orang-orang yang berhasil selamat dari serangan jantung.

Mereka yang sempat mengalami mati suri pun berpotensi lebih besar untuk mengalami kejadian serupa di masa mendatang.

Artikel Lainnya: Mati Suri Dilihat dari Sisi Medis

  • Koma

“Untuk kondisi koma, hal ini merupakan tingkat kesadaran yang paling rendah dari seorang pasien,” terang dr. Devia.

Terdapat tujuh tingkat kesadaran, yaitu:

  1. Compos mentis: kesadaran penuh dan normal.
  2. Apatis: sadar tapi acuh tak acuh.
  3. Delirium: kesadaran mulai menurun dan linglung.
  4. Somnolen: mengantuk dan tertidur tapi masih mudah dibangunkan.
  5. Soporous atau stupor: sangat mengantuk dan tertidur sangat nyenyak sehingga butuh rangsangan kuat untuk membangunkannya.
  6. Semi koma: kesadaran menurun, tidak bisa memberi respons, dan tidak bisa dibangunkan, tetapi refleks kornea dan pupil masih baik.
  7. Koma: penurunan kesadaran terdalam, tidak ada gerakan/refleks dan respons

“Dalam kondisi ini, pasien tidak bisa melakukan gerakan, suara, dan membuka mata akibat kerusakan pada salah satu bagian otak,” tambah dr. Devia.

Apabila kerusakan otak terlampau besar atau parah, kesadaran pasien tidak bisa sepenuhnya kembali seperti orang-orang normal.

Dari penjelasan di atas, perbedaan koma dan mati suri dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Bagi pasien yang koma, ia belum sempat dikatakan meninggal. Sedangkan, bagi pasien mati suri, ia sudah dinyatakan meninggal.
  • Mati suri tidak berhubungan dengan tingkat kesadaran seseorang. Sementara koma, kondisi tersebut masih menjadi bagian dari tingkatan kesadaran.
  • Ketika kerusakan di otak sudah parah, pasien koma tidak akan bisa sepenuhnya sadar kembali.

Sementara pada pasien mati suri, belum tentu masalahnya ada di otaknya sehingga saat sadar, kesadarannya pun bisa kembali normal.

Artikel Lainnya: Setahun Pertama Ditinggal Pasangan Sangatlah Berat, Apa Kata Psikolog?

2 dari 3 halaman

Perawatan untuk Koma dan Mati Suri

Perawatan untuk pasien koma lebih banyak dibahas dibanding pasien mati suri. Untuk pasien mati suri, terkadang sampai dibutuhkan psikiater untuk mendalami yang dirasakan oleh pasien yang punya pengalaman tersebut.

Saat tak ada gangguan sirkulasi di dalam tubuh pasien, kesadarannya bisa langsung kembali normal sehingga tak diperlukan pengobatan khusus. Fenomena mati suri pada dasarnya memang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Beda halnya dengan koma yang perawatannya lebih jelas. Dilansir dari Mayo Clinic, langkah-langkah yang biasanya dilakukan dokter kepada pasiennya yaitu:

  • Dokter akan memeriksa jalan napas serta menjaga pernapasan dan sirkulasinya.
  • Dokter mungkin akan memberikan bantuan pernapasan, obat intravena, dan perawatan pendukung lainnya.
  • Penanganan bervariasi tergantung penyebab koma. Prosedur atau pengobatan untuk meredakan tekanan pada otak akibat pembengkakan otak mungkin diperlukan.
  • Petugas darurat mungkin memberikan glukosa atau antibiotik secara intravena.
  • Jika koma terjadi akibat overdosis obat, maka dokter akan memberikan obat untuk mengatasi kondisi tersebut.
  • Jika koma terjadi karena kejang, maka dokter akan menggunakan obat untuk mengontrol kejang.

Itulah perbedaan mati suri dan koma yang perlu Anda pahami. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda.

Untuk pertanyaan seputar kondisi medis dan masalah kesehatan, bisa dikonsultasikan lebih mudah kepada dokter lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar