Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Waspada, Gejala Virus Corona yang Paling Sering Dialami Anak

Waspada, Gejala Virus Corona yang Paling Sering Dialami Anak

Peneliti dari Kanada mengatakan, ada tiga gejala yang umum dialami anak penderita COVID-19. Bagaimana faktanya? Simak penjelasan dokter berikut.

Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 11,3 persen dari jumlah penderita COVID-19 di Indonesia merupakan anak-anak. Artinya, 1 dari 9 atau 10 pasien terinfeksi virus corona adalah anak-anak dengan kelompok umur di bawah 18 tahun.

Saat menderita COVID-19, ada beberapa gejala yang lazim dialami oleh anak. Namun, ada juga kelompok anak yang tidak menunjukkan gejala sama sekali (disebut asimptomatik).

Bahkan, dalam studi terbaru, ilmuwan menemukan tiga gejala yang paling umum diderita oleh anak yang mengidap COVID-19. Apa saja? Simak faktanya sebagai berikut.

1 dari 4 halaman

Gejala COVID-19 yang Sering Terjadi pada Anak

Penelitian dari Kanada menemukan, dari 2.400 anak yang dites COVID-19, terdapat tiga gejala yang paling umum. Anak yang mengalami gejala tersebut umumnya positif saat dites COVID-19. Dilansir WebMD, berikut gejalanya:

  • Hilangnya kemampuan dalam mengecap rasa atau mencium bau. Gejala ini tujuh kali lipat terjadi pada anak yang didiagnosis positif COVID-19.
  • Anak-anak yang positif COVID-19 lima kali lebih mungkin mengalami sakit perut dan dua kali lebih tinggi mengalami sakit kepala.
  • Gejala demam 68 persen lebih tinggi terjadi kepada anak yang positif COVID-19

Peneliti juga mengungkapkan, anak yang mengalami tiga gejala di atas sekaligus, peluangnya positif COVID-19 65 persen lebih tinggi. Di samping itu, gejala lain seperti batuk dan pilek juga sering terjadi kepada anak-anak dengan hasil tes positif COVID-19. 

Akan tetapi, para peneliti mengatakan, keluhan batuk dan pilek umum juga dialami oleh anak yang mendapatkan hasil negatif. Oleh karena itu, gejala batuk dan pilek tidak dapat dianggap sebagai tanda-tanda infeksi COVID-19.

Menanggapi studi tersebut, dr. Devia Irine Putri mengatakan, secara umum gejala COVID-19 yang dirasakan anak-anak dan orang dewasa tidak berbeda.

“Gejala-gejala tersebut bisa sama-sama muncul di dewasa dan anak. Bahkan juga bisa sama-sama asimptomatik (tidak ada gejala). Orang dewasa juga sering muncul gejala anosmia (kehilangan penciuman), keluhan saluran pencernaan, nyeri perut, diare, sakit kepala, dan demam. Jadi, tidak berbeda jauh dengan orang dewasa,” kata dr. Devia.

Artikel Lainnya: Begini Kondisi Bayi yang Terinfeksi Virus Corona

2 dari 4 halaman

Bagaimana dengan Anak-anak yang Asimptomatik?

Di samping tiga gejala umum di atas, sepertiga anak yang dites COVID-19 ada yang tidak menunjukkan gejala.

Dalam studi yang dimuat di laman Boston Children's Hospital, sebagian besar anak yang positif COVID-19 tanpa gejala memiliki tingkat virus yang lebih rendah (viral load) dibandingkan dengan yang bergejala.

“Penelitian kami memang menunjukkan bahwa anak-anak tanpa gejala memiliki viral load yang lebih rendah pada saat pengujian,” kata dr. Nila Pollock, PhD., direktur medis Laboratorium Diagnostik Penyakit Menular di Boston Children's Hospital, Amerika Serikat.

Melihat kesimpulan riset tersebut, dr Devia mengatakan, “Dari studi itu peneliti menemukan anak asimptomatik memiliki viral load lebih rendah, betul, tapi belum jelas kenapa.”

Menurut dugaan sementara dr. Devia, anak yang asimptomatik bisa saja diperiksa lebih terlambat. Alhasil, viral load di dalam tubuh mereka menurun. Sementara anak yang simptomatik atau bergejala sudah terdeteksi dari pemeriksaan awal ketika viral load-nya tinggi.

Maka itu, ia menganjurkan kita untuk terus mengikuti perkembangan penelitian COVID-19. Sebab kesimpulan beberapa penelitian mengenai gejala COVID-19 sejauh ini belum terlalu jelas.

Artikel Lainnya: Anak Lebih Sulit Tertular Virus Corona, Kenapa Bisa Begitu?

3 dari 4 halaman

Kondisi Apa yang Membuat Anak Rentan Menunjukkan Gejala COVID-19?

Dokter Devia mengatakan, belum ada studi yang menemukan faktor penyebab anak rentan menunjukkan gejala saat terpapar corona.

“Tapi, yang membuat anak bisa rentan tertular, ya, tentu faktor risikonya, anak dibawa keluar rumah, beraktivitas di dalam ruangan dengan orang lain yang mungkin sakit tapi kita nggak tahu,” sebut dr. Devia.

Perlu diketahui, COVID-19 adalah penyakit baru yang terus berkembang, baik dalam mutasi, penularan, dan gejala yang ditimbulkan. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menjelaskan penyakit ini.

Untuk itu, kita harus tetap waspada dan tidak boleh kendur dalam menerapkan protokol kesehatan baik untuk diri sendiri maupun untuk anak-anak. Cari tahu informasi lengkap lainnya mengenai COVID-19 dengan membaca artikel kesehatan di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar