Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Remaja Suka Hina Public Figure di Medsos, Ini Kata Psikolog

Remaja Suka Hina Public Figure di Medsos, Ini Kata Psikolog

Figur publik selalu jadi sasaran komentar pedas di media sosial. Mirisnya, komentar pedas itu banyak dilakukan remaja. Apa kata psikolog soal ini?

Era media sosial membuka peluang bagi penggunanya untuk melontarkan apa pun tanpa batas. Sayangnya, alih-alih memberi komentar membangun, yang disampaikan justru kritik pedas atau bahkan hinaan yang mengarah pada bullying

Hal yang lebih miris, komentar pedas tersebut justru banyak dilakukan oleh remaja. Salah satu yang ramai baru-baru ini adalah video singkat dari seorang remaja laki-laki yang mengomentari putra Ruben Onsu, Betrand Peto.

Warganet tersebut menyebut Betrand adalah anak pungut, dan menyebut dirinya lebih tampan dari sang penyanyi muda.

Akibat unggahan tersebut, Ruben Onsu langsung bertindak tegas dan melaporkan akun media sosial tersebut.

Melihat kasus ini, mengapa anak remaja cenderung gemar melontarkan bullying melalui media sosial? Perlukah perilaku remaja ini dimaklumi?

Artikel Lainnya: Benarkah Popularitas Tinggi Bisa Tingkatkan Risiko Bunuh Diri?

1 dari 4 halaman

Mengapa Remaja Suka Lontarkan Hinaan di Medsos?

Terkait hal tersebut, psikolog Ikhsan Bella Persada memberikan tanggapannya. “Bagi anak remaja, kontrol dalam diri mereka masih baru berkembang. Jadi mereka cenderung belum bisa mengendalikan diri ketika melakukan sesuatu,” tutur Ikhsan.

“Jadi, kalau mau lakukan A, langsung saja lakukan tanpa pikir panjang. Begitu juga dengan menghina, mereka menghina tanpa tahu konsekuensinya,” psikolog itu menambahkan.

Selain karena kontrol diri yang baru saja berkembang, Ikhsan juga menjelaskan bahwa remaja yang suka memaki atau melontarkan kata kasar di media sosial juga memiliki hambatan dalam executive functioning

Apa maksudnya? Hal ini merupakan hambatan dalam kemampuan adaptasi, memproses informasi yang baik dan menunjukkannya dalam perilaku yang baik. 

“Ketika mendapatkan informasi baru, anak ini langsung merespons dengan hal buruk. Seperti melontarkan kalimat jahat pada publik figur di media sosial,” ucap Ikhsan. 

Namun, bagaimana jadinya jika anak remaja tersebut hanya bercanda? Apakah ini perlu dimaklumi dan dimaafkan?

Menanggapi hal ini, psikolog Ikhsan mengatakan bahwa bercanda dan bullying itu merupakan konteks yang berbeda. Jika tujuannya untuk menghina, menyakiti, dan merendahkan orang lain, ini sudah masuk dalam bullying.

“Kalau bercanda, mereka tahu batasan mana yang tidak menyakiti dan merendahkan orang lain. Orang lain pun tahu itu hanya untuk bercanda,” kata dia.

“Jika dibiarkan, dampak buruk cyberbullying pada remaja bisa membuat perilaku ini terus menerus tumbuh hingga dewasa. Bisa jadi, perilaku menjatuhkan atau merendahkan orang lain tersebut akan dianggap hal biasa,” kata Ikhsan. 

Artikel Lainnya: 5 Hal yang Membuat Seseorang Menjadi Pelaku Bullying

2 dari 4 halaman

Bagaimana Sikap Orang Tua Agar Anak Terhindar Dari Cyberbullying

Agar anak terhindar dari perilaku cyberbullying, peran orang tua sangatlah penting. Beberapa cara yang bisa Anda lakukan antara lain: 

  • Bangun Komunikasi Mengenai Cyberbullying 

Bangun komunikasi anak mengenai buruknya cyberbullying. Jelaskan apa itu cyberbullying, dan apa dampak buruknya jika dilakukan oleh anak.

Katakan pada mereka bahwa cyberbullying bisa menyebabkan kerugian pada orang lain dan juga diri sendiri. 

  • Pantau Aktivitas Anak di Media Sosial 

Bukan berniat stalker anak, tapi memantau aktivitas anak di media sosial memang penting dilakukan.

Hal ini guna mencegah remaja untuk bertindak melenceng di media sosial, dan melindungi anak bertindak kriminal di media sosial. Anda bisa memberikan batasan-batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh diakses oleh remaja. 

Artikel Lainnya: Tips Mengedukasi Anak tentang Anti-Bullying

3 dari 4 halaman

Cara Mencegah Remaja Melakukan Cyberbullying

Agar terhindar dari tindak pidana, atau hukuman sosial dari masyarakat, berikut beberapa cara agar remaja tidak melakukan cyberbullying

  1. Coba minta anak untuk menempatkan dirinya pada posisi yang korban bully. Apakah hal tersebut membuatnya sedih, kecewa, dan sakit hati? 

Jika, iya, katakan pada anak bahwa itulah perasaan yang sedang korban hadapi ketika mendapatkan cyberbullying.

  1. Peran orang tua sangat dibutuhkan sejak dini. Ajak anak untuk sering terlibat dalam kegiatan bersama temannya. 

Ajari anak juga untuk membantu temannya dan melindungi temannya dari lingkungan yang merugikan dan tidak baik.

  1. Sadarkan anak kalau melakukan cyberbullying bisa membuat anak jadi anak terlihat lemah dan rentan menjadi korban cyberbullying juga. Ingatkan juga, apa yang diperbuat di media sosial, pasti akan meninggalkan bekas jejak sampai kapan pun.

Menghina orang lain, apa pun bentuknya, tidak dibenarkan. Itu sebabnya, lakukan langkah pencegahan agar anak remaja Anda tidak menjadi pelaku cyberbullying di media sosial. 

Apabila Anda mengalami kendala dalam mengarahkan anak, mintalah bantuan psikolog.

Apabila masih ingin berkonsultasi lebih dalam seputar topik ini, manfaatkan layanan LiveChat dari aplikasi Klikdokter.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar