Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Awas, Tertawa Terlalu Lebar Bikin Rahang Tak Bisa Menutup

Awas, Tertawa Terlalu Lebar Bikin Rahang Tak Bisa Menutup

Saking bahagianya, Anda jadi tertawa terbahak-bahak. Tapi waspada, tertawa dengan mulut terbuka terlalu lebar berisiko sebabkan dislokasi sendi mandibula!

Tertawa merupakan salah satu ekspresi bahwa kita sedang bahagia dan terhibur. Baik karena mendengar lelucon yang dilontarkan orang lain atau hanya sekedar menonton video lucu di media sosial, tertawa bisa membuat mood kita jadi meningkat.

Akan tetapi, Anda harus berhati-hati, sebab tertawa dengan mulut yang terlalu terbuka  lebar bisa menyebabkan rahang jadi cedera. Ya, tertawa terlalu lebar bisa menyebabkan rahang bergeser dan mulut tidak bisa menutup kembali. Kondisi ini disebut sebagai dislokasi sendi mandibula.

1 dari 3 halaman

Apa itu Dislokasi Sendi Temporomandibular?

Beberapa hari lalu, sebuah video di media sosial melaporkan seorang pria berusia 45 tahun yang tidak bisa menutup mulutnya. Pria tersebut tidak bisa menutup mulutnya karena mulutnya tertawa dan menguap terlalu lebar.

Alhasil, pria tersebut langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah ditangani oleh tim dokter, diketahui bahwa pria tersebut mengalami dislokasi sendi temporomandibular.

Menanggapi hal tersebut, dr. Sepriani Timurtini Limbong mengatakan, “Sendi temporomandibular (temporomandibular junction atau TMJ) merupakan sendi antara tulang mandibula (rahang bawah) dan tulang temporal. Sendi ini yang memungkinkan seseorang dapat membuka dan menutup mulut saat mengunyah, berbicara, tertawa, dan sebagainya.”

Dislokasi sendi temporomandibular bisa terjadi ketika posisi tulang rahang bawah bergeser dari pengaitnya, yaitu dengan rahang atas. Kondisi ini bisa disebabkan karena mengalami over-opening dari mulut, seperti menguap, kejang, bernyanyi, dan tertawa.

Artikel Lainnya: Cara Mengatasi Nyeri Otot di Leher

Adapun beberapa tanda seseorang mengalami dislokasi sendi temporomandibular, yakni:

  • Mulut jadi terbuka lebar dan sulit untuk ditutup kembali.
  • Posisi rahang bawah tidak lagi sejajar dengan rahang atas.
  • Sulit untuk berbicara dan menelan ludah.
  • Nyeri di bagian rahang bawah.
  • Rahang bisa terlihat lebih maju atau mundur dari rahang atas.

Dislokasi sendi temporomandibular juga bisa terjadi ketika seseorang mengalami cedera akibat kecelakaan, cedera olahraga, dan bagian wajah dipukul atau terkena hantaman benda keras.

Untuk mengetahui seseorang mengalami dislokasi sendi temporomandibular atau tidak, dokter akan melihat posisi rahang lewat pemindaian sinar X-ray (foto rontgen). Dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan atau kejadian yang membuat rahang jadi tak bisa menutup.

Artikel Lainnya: Pijat untuk Cedera Sendi, Apakah Aman dan Efektif?

2 dari 3 halaman

Dislokasi Rahang, Perlukah Dioperasi?

Tidak perlu khawatir, tulang rahang yang bergeser bisa dikembalikan ke posisi semula. Hanya saja, kondisi ini akan menimbulkan rasa sakit serta menyulitkan Anda untuk makan dan tidur. Lantas, perlukah melakukan operasi kepada pasien yang mengalami dislokasi sendi temporomandibular?

Menurut dr. Sepriani, tidak semua kasus dislokasi sendi temporomandibular harus dioperasi. Sebab, operasi hanya akan dilakukan jika ada kondisi tertentu.

“Pembedahan dislokasi sendi temporomandibula hanya akan dilakukan jika pasien TMJ mengalami trauma akibat kecelakaan yang mengakibatkan perubahan pada struktur wajah lainnya.” jelasnya.

“Untuk mengatasi dislokasi sendi temporomandibular, lebih baik periksa langsung ke dokter. Nantinya dokter akan menentukan apakah bisa diatasi dengan obat-obatan, bebat (splints), berbagai manuver lainnya, hingga pembedahan,” lanjutnya.

Dokter yang menangani bisa mengembalikan posisi rahang secara manual dan tindakan ini disebut dengan reduksi manual. Adapun beberapa tahap-tahapnya, seperti:

  • Memasukan kedua ibu jari pada gigi geraham bagian luar
  • Setelahnya menempatkan keempat jari lainnya di rahang luar
  • Dan yang terakhir, menggenggam rahang dengan kuat, lalu menekan dan mendorong tulang rahang bawah agar kembali keposisi semula

Setelah melakukan prosedur di atas, dokter akan membalut rahang dan kepala pasien. Tujuan keduanya dibalut agar rahang tidak kembali bergeser selama beberapa waktu ke depan. Prosedur ini memang menimbulkan rasa sakit, sehingga Anda akan kesulitan untuk berbicara, tertawa, makan dan menelan.

Oleh karena itu, hindari tertawa dan membuka mulut terlalu lebar karena bisa menyebabkan dislokasi rahang dan membuat Anda kesulitan untuk beraktivitas. Cari tahu informasi kesehatan serta penanganan berbagai kondisi medis dengan membaca artikel di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar