Sukses

Pengembangan Vaksin HIV, Ini Update-nya!

Perkembangan vaksin HIV tergolong lebih lambat dari berbagai penyakit lainnya. Bagaimana perkembangannya kini?

HIV atau human immunodeficiency virus masih menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti saat ini.

Sebab, sejak puluhan tahun lalu ketika kasus pertama diidentifikasi pada manusia, belum juga ditemukan obat dan vaksin untuk penyakit tersebut.

Para ilmuwan sebenarnya diketahui telah banyak menguji coba kemungkinan vaksin. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada yang benar-benar efektif.

1 dari 3 halaman

Tantangan dalam Pengembangan Vaksin HIV

Pengembangan vaksin HIV tergolong sulit karena sifatnya yang berbeda dari jenis virus lainnya.

Menurut dr. Adeline Jaclyn, setidaknya ada beberapa tantangan yang membuat vaksin HIV belum ditemukan hingga sekarang, di antaranya:

  • HIV bermutasi secara cepat dan memiliki cara yang unik dalam menghindari sistem pertahanan tubuh.

Vaksin pada dasarnya menargetkan virus dalam bentuk tertentu. Apabila virus berubah, maka vaksin kemungkinan tidak akan berfungsi lagi. Dengan kondisi tersebut, sulit membuat vaksin untuk melawan HIV.

  • Belum ada kasus penderita HIV yang menunjukkan respons imun yang menghilangkan infeksi.

Vaksin biasanya dibuat untuk meniru reaksi kekebalan orang yang sudah pulih. Tetapi, hampir tidak ada orang yang sembuh setelah tertular HIV.

  • Virus HIV yang inaktif (dilemahkan atau dimatikan) tidak efektif dalam memunculkan respons imun pada uji coba.
  • Virus HIV yang hidup terlalu berbahaya untuk digunakan sebagai bahan vaksin.

Di samping itu, model infeksi HIV yang melalui kelamin atau darah juga terbilang tidak umum pada berbagai penyakit. Seringnya infeksi virus masuk ke tubuh manusia melalui sistem pernapasan.

Oleh karena itu, pengalaman peneliti pun terbatas pada saat mengembangkan vaksinnya.

Artikel Lainnya: Bisakah Penderita HIV/AIDS Sembuh?

2 dari 3 halaman

Pengembangan Vaksin HIV dalam Berbagai Tipe

Meskipun menghadapi banyak tantangan, para peneliti nyatanya tetap berusaha mencari vaksin HIV.

Dilansir Healthline, ada dua jenis utama vaksin HIV yang dikembangkan, yakni profilaksis dan terapeutik. Keduanya memiliki tujuan dan target yang berbeda.

Vaksin yang bersifat profilaksis digunakan untuk mencegah seseorang terkena penyakit HIV.  Vaksin dapat diberikan kepada orang yang tidak mengidap HIV untuk mencegah tertular virus.

Sementara, vaksin terapeutik digunakan untuk meningkatkan respons kekebalan tubuh untuk melawan penyakit yang sedang diderita seseorang. Para peneliti berharap vaksin HIV terapeutik bisa mengurangi viral load (kadar virus) seseorang.

Di samping itu, pendekatan dalam pengembangan vaksin HIV pun berbeda antar peneliti. di antaranya:

  • Vaksin peptida, menggunakan protein kecil dari HIV untuk memicu respons kekebalan.
  • Vaksin protein subunit rekombinan, menggunakan potongan protein yang lebih besar dari HIV.
  • Vaksin vektor hidup, menggunakan virus non-HIV untuk membawa gen HIV ke dalam tubuh untuk memicu tanggapan kekebalan.
  • Vaksin berbasis DNA, menggunakan DNA dari HIV untuk memicu respons kekebalan.

Artikel Lainnya: 8 Cara Mencegah Komplikasi Penyakit HIV/AIDS

Salah satu uji klinis paling sukses sampai saat ini adalah penelitian HIV militer Amerika Serikat yang dilakukan di Thailand pada 2009.

Uji coba yang dikenal dengan sebutan RV144 tersebut menggunakan kombinasi vaksin profilaksis, “prime” (vaksin ALVAC) dan “boost” (vaksin AIDSVAX B/E).

Vaksin kombinasi nyatanya aman dan sedikit efektif. Kombinasi tersebut menurunkan tingkat penularan sebesar 31 persen dibandingkan dengan suntikan plasebo.

Artikel Lainnya: Mengapa Sulit Mengembangkan Vaksin HIV/AIDS?

Di samping itu, pada uji lainnya yaitu HVTN 505 yang mempelajari pendekatan profilaksis dengan menggunakan vaksin vektor hidup, memiliki hasil yang kurang menggembirakan.

Puluhan relawan diketahui justru tertular HIV. Oleh karena itu, penelitian ini pun dihentikan.

Dokter Adeline menyebut pengembangan vaksin HIV sebenarnya tergolong lambat. Meski begitu, bukan berarti pencarian vaksin bisa berhenti begitu saja.

“Setiap kegagalan dapat digunakan sebagai pembelajaran percobaan baru,” kata dr. Adeline.

Untuk itu, pada saat vaksin dan obat belum ditemukan, penting untuk menghindari aktivitas berisiko yang bisa menyebabkan penularan HIV.

Dalam kondisi lebih parah, HIV dapat berkembang menjadi AIDS. Yang artinya, penderitanya sudah tidak mampu lagi melawan infeksi.

Itulah informasi terkini seputar pengembangan vaksin HIV. Dapatkan update kesehatan akurat lainnya hanya di Klikdokter. Anda juga bisa konsultasi ke dokter lebih praktis lewat LiveChat.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar