Sukses

Ancaman Hantu Long COVID

Penyintas COVID mengalami keluhan kesehatan lanjutan setelah dinyatakan sembuh. Gejala yang dinamai Long COVID itu kini menjadi ancaman sekunder pandemi.

"Saya sebenarnya sudah lupa rasanya normal itu bagaimana," kata Fira, bukan nama sebenarnya, di tengah perbincangan dengan Klikdokter.com, medio November lalu.

Ia mengucapkannya dengan enteng, sembari diakhiri derai tawa. Tetapi, di baliknya Fira seperti menyembunyikan kegetiran.

Sebab, beberapa menit kemudian ia mengungkapkan kekhawatirannya. Ia berbicara dengan nada yang lebih serius ketika obrolan kami kembali menyinggung kembali perihal rasa sakit di tenggorokannya.

"Takutnya suatu saat malah menjadi penyebab penyakit lain yang berbahaya, kayak kanker," ucapnya.

Sakit di leher sudah Fira rasakan sejak delapan bulan terakhir. Akhir Maret lalu, pegawai di sebuah perusahaan telekomunikasi itu divonis positif COVID-19.

Gejala awal yang dirasakannya adalah perasaan tidak nyaman di tenggorokan. Keluhan itu kemudian disusul demam beberapa hari kemudian.

Karena termasuk kategori pasien bergejala ringan, ia hanya menjalani isolasi mandiri. Fira dinyatakan sembuh lebih dari sepekan kemudian.

Meski demikian, rasa sakit di pangkal lehernya tak kunjung hilang. Sensasinya, menurut dia, menyerupai gejala radang tenggorokan.

Rasa sakitnya bertambah hebat bila Fira harus berbicara dalam waktu yang lama. Tak cuma itu, ia juga merasa lebih mudah lelah.

"Dulu, pulang kerja saya masih bisa ngapa-ngapain. Sekarang sampai rumah rasanya mau rebahan saja," katanya.

Artikel Lainnya: Virus Corona Bisa Picu Penggumpalan Darah setelah Sembuh!

Kecemasan Fira semakin bertambah, karena tidak mengetahui kapan keluhan itu akan berakhir. Keluhan kesehatan berkepanjangan jamak dialami penyintas COVID-19 meski telah dinyatakan sembuh. 

World Health Organization (WHO) memperingatkan ancaman masalah kesehatan berkepanjangan akibat COVID-19. Sebagian pasien, kata dokumen yang dipublikasikan 8 September lalu itu, bisa mengalami keluhan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah dinyatakan sembuh.

"Beberapa pasien mengalami komplikasi medis yang bisa saja berdampak pada kesehatan selamanya," tulis laporan yang sama.

Di Inggris, keluhan semacam itu disebut "Long COVID". Sementara kalangan medis di Amerika Serikat menyebutnya dengan "Long Haulers".

Namun, pada prinsipnya kedua istilah itu merujuk kondisi kesehatan para penyintas COVID yang masih merasakan keluhan lanjutan mirip COVID. Gejalanya bisa berbeda-beda pada setiap orang.

dr. Rio Jaya Abadi, tenaga medis di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, mengalami keluhan ruam merah di bagian belakang leher hingga ke telinga. Hal itu ia alami hingga tiga pekan setelah dinyatakan sembuh dari COVID pada Oktober lalu.

"Itu sekitar 3 minggu. Ruamnya itu dibiarkan saja, sih. Karena buat saya ruamnya nggak gatal," ujar dr Rio.  

Juno Simorangkir, 36 tahun, termasuk yang mengalami gejala berat. Sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet sejak April, ia dinyatakan sembuh Mei lalu.

Tetapi kehidupan Juno tidak lantas kembali normal. Berbagai masalah kesehatan masih tetap ia rasakan.

Tubuhnya seperti tidak bertenaga, jantung berdebar-debar dan sulit bernapas. Juno juga mengalami banyak keluhan lain, seperti rambut rontok, hingga rasa sakit di sekujur tubuh.

"Rasa menusuk-nusuk di seluruh tubuh, kayak disuntik ambil darah. Bayangin rasa itu di sekujur tubuh," katanya.

Artikel Lainnya: Ini yang Terjadi saat Virus Corona Menginfeksi Mulut

1 dari 5 halaman

Puluhan Variasi Long COVID

Juli lalu, Natalie Lambert, peneliti dari Indiana University Medical School, melakukan survei pada 1.500 penyintas COVID-19 di Amerika Serikat. Hasilnya sungguh mencengangkan.

Ia mendapati 98 variasi keluhan yang dialami penderita Long COVID. Sebanyak 26,5 persen gejala di antaranya menyebabkan rasa sakit pada pasien.

Setiap pasien bisa mengalami satu keluhan atau lebih. Juno bahkan mengaku merasakan puluhan gejala sekaligus. "Aku catat yang terjadi di aku sendiri itu ada 41 keluhan," ungkapnya.

Hingga saat ini, Juno masih mengalami tinitus pada telinga sebelah kiri dan pantosmia. Tinitus adalah sensasi di telinga seperti mendengar suara berdenging. Sementara Pantosmia biasa disebut halusinasi penciuman, yakni perasaan mencium bau tertentu. 

"Aku sering mencium bau ban kebakar, randomly, tapi baunya sama. Jadi aku lagi di kosan, aku lagi di luar, baunya bau itu saja," ujar Juno. 

Sebuah studi pada pasien di Italia--yang dilansir oleh Journal American Medical Association--menunjukkan keluhan Long COVID menyebabkan 44 persen penyintas mengalami  penurunan kualitas hidup.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gejala umum yang dialami penderita Long COVID adalah mudah lelah, napas pendek, batuk, nyeri pada dada dan sendi. Gejala lain yang biasa dirasakan--meski jumlah penderitanya tidak sebanyak gejala sebelumnya--adalah kesulitan konsentrasi, nyeri otot, demam, sakit kepala dan jantung berdegup cepat.

Long COVID juga berpotensi menyebabkan komplikasi yang berdampak pada sistem organ, seperti inflamasi pada otot jantung, abnormalitas fungsi paru-paru, kerusakan ginjal akut, dll.

Artikel Lainnya: Virus Corona Bertahan Sembilan Jam di Kulit

2 dari 5 halaman

Kematian Pertama

Pada kasus tertentu, Long COVID bisa berakibat fatal. Oktober lalu, dunia mencatatkan kasus pertama kematian karena Long COVID.

Roehl Ribaya, 47 tahun, mengembuskan napas terakhir di salah satu rumah sakit di Inggris setelah dua hari koma. Ia sempat mengalami henti jantung mendadak pada 13 Oktober.

Mark Delabajan, teman dekat Ribaya, mengatakan fibrosis paru menjadi penyebab sekunder kematian rekannya. Penyakit langka itu diidap Ribaya sebagai buntut infeksi COVID yang pernah menyerangnya.

"Itu karena Long COVID. Dia tidak pernah bernapas seperti sebelumnya, bahkan dia tidak bisa menaiki tangga," kata Delajaban.

Ribaya sempat menjalani dua bulan perawatan karena infeksi COVID. 48 hari di antaranya harus ia lalui di ruang perawatan intensif dengan bantuan ventilator untuk bernapas.

Ribaya merupakan pasien COVID terakhir yang meninggalkan Rumah Sakit Blackpool Victoria, Juli lalu. Ia keluar dari rumah sakit dengan penuh gegap gempita diiringi tepuk tangan meriah tenaga kesehatan di sana.

Pada saat itu, Inggris tengah memasuki fase akhir gelombang pertama pandemi COVID. Meski kemudian dinyatakan sembuh dan pulang ke rumah, Ribaya tak pernah pulih.

"Dia tidak pernah sama seperti dulu lagi. Dia selalu merasa sesak napas," kenang Stella Ricio-Ribaya, istri Ribaya. Ribaya bahkan harus bolak-balik ke rumah sakit karena keluhan kesehatannya.

Artikel Lainnya: Anak Anda Positif Virus Corona, Ini Cara Tepat Merawatnya!

3 dari 5 halaman

Diagnosis Tak Pasti

Sayangnya, sebagian penderita COVID menghadapi problem saat mencari bantuan kesehatan. Juno Simorangkir sudah beberapa kali memeriksakan diri ke dokter.

Beberapa hasil tes justru menunjukkan kondisi tubuhnya normal. Ia tak pernah mendapat diagnosis pasti penyebab gejala yang dialaminya. 

Juno mencontohkan saat ia memeriksakan kondisi jantungnya yang berdebar-debar. Tes elektrokardiogram menunjukkan jantungnya berfungsi normal. Dokter hanya meresepkan obat untuk mengatasi debar jantung.

"Tetapi, dokter enggak tahu penyebab dari debar jantungnya, jadi yang diatasi adalah keluhan-keluhannya dulu," keluh Juno.

Beberapa dokter malah menganggap gejala yang dirasakan Juno lebih disebabkan kondisi psikis belaka atau yang biasa disebut psikosomatis. Agustus lalu, Juno menginisiasi pembentukan komunitas penyintas COVID.

Ia awalnya ingin membuat wadah komunikasi bagi para penyintas untuk saling berbagi keluhan lanjutan yang dialami. Di komunitas itulah, Juno mulai mengenal penyintas lain yang punya gejala Long COVID.

Hingga kini anggota komunitas penyintasnya sudah mencapai 210 orang. Menurut Juno, tingkat prevalensi Long COVID di antara penyintas cukup tinggi.

"Aku pernah bikin survei di grup, 80 persen menjawab mengalami Long COVID. Tetapi hanya 40 persen dari 80 persen itu melanjutkan pemeriksaan ke dokter," ungkapnya.

Kebanyakan penyintas belum mendapat kejelasan terkait gejala yang menimpa mereka. Menurut Adam Prabata, dokter kandidat Phd dari Kobe University Jepang yang menaruh perhatian pada isu COVID, hingga saat ini belum ada pemahaman memadai bagaimana mekanisme serangan Long COVID kepada para penyintas.

"Kita belum tahu apa penyebabnya apa, kenapa bisa ada yang mengalami Long COVID dan ada juga yang tidak," katanya. 

Kendala itu muncul karena COVID yang masih tergolong penyakit baru. Masih butuh banyak penelitian untuk menelaah dampaknya pada kesehatan secara menyeluruh.

Kaburnya faktor penyebab Long COVID membuat sulit menekan angka kasusnya. Bahkan, tenaga medis juga masih kesulitan mendeteksi apakah seseorang penyintas akan mengalami Long COVID atau tidak. 

Ada hipotesis, semakin berat gejala COVID yang dialami seseorang, risiko mengalami Long COVID akan lebih tinggi. Tapi, Adam menegaskan, pasien yang bergejala ringan juga tetap berisiko.

Gejala Long COVID, kata dia, menyerupai apa yang dialami pasien Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang merebak pada 2002. Virus penyebab SARS diketahui masih serumpun dengan virus Sars-Cov-2 yang menyebabkan COVID-19.

Adam mengatakan, 40 persen penyintas SARS masih mengalami gejala lanjutan hingga 3,5 tahun pascasembuh. Umumnya mereka mengalami keluhan mudah lelah.

Bila polanya sama, lanjut Adam, penderita Long COVID diprediksi akan mengalami pemulihan kesehatan secara gradual dalam jangka panjang.

Artikel Lainnya: Long COVID Juga Bisa Dialami Anak, Ini Faktanya

4 dari 5 halaman

Ancaman Serius

Adam menekankan, Long COVID bisa menjadi ancaman serius. Di beberapa negara, seperti Amerika dan Inggris, sudah mulai muncul kesadaran terhadap bahayanya. Amerika telah memiliki pusat rehabilitasi bagi penyintas COVID di Rumah Sakit Mount Sinai, New York.

Di Inggris, seperti dilansir dari BBC, pemerintah setempat tengah mempersiapkan klinik bagi penderita Long COVID yang tersebar di seluruh negeri.

Kesadaran serupa tampaknya belum muncul di pemerintah Indonesia. Adam bahkan mengatakan, belum melihat ada panduan khusus yang dikeluarkan pemerintah dalam penanganan pasien Long COVID.

"Jangan sampai akhirnya pemerintah terkesan abai dengan masalah ini. Sebab, ini masalah serius yang perlu penanganan serius juga," tegasnya.

Minimnya perhatian pemerintah terhadap penderita Long COVID dirasakan Juno Simorangkir. Ia merasa harus berjuang sendiri untuk sembuh dari Long COVID.

"Setelah seseorang dinyatakan sembuh, negatif COVID, ya sudah, bye bye. Jadi kayak ya sudah, lo sudah pulang, lo sudah bersih, sudah sembuh," katanya.

Sejak sembuh dari infeksi COVID, ia bolak-balik ke rumah sakit. Juno bahkan sempat dirawat beberapa hari karena keluhan kesehatannya. Yang bikin dirinya jengkel, ia tak pernah mendapatkan jawaban memuaskan.

"Jadi aku pulang tanpa diagnosa dan tanpa obat, jadi aku cuma bayar dokternya saja buat basa-basi," tuturnya.

Bila dihitung, ia sudah mengeluarkan lebih dari Rp 50 juta untuk biaya penanganan Long COVID. Untungnya pengobatan Juno ditanggung pihak asuransi.

Pemerintah memang hanya menanggung biaya perawatan pasien COVID. Belum ada mekanisme pembiayaan yang ditanggung pemerintah untuk penyintas COVID yang mengalami keluhan kesehatan berkepanjangan.

Klikdokter.com telah menghubungi Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, untuk mengetahui bagaimana perhatian dan strategi pemerintah menangani Long COVID. Namun, ia belum bisa menyediakan waktu khusus untuk wawancara karena alasan jadwalnya yang padat.

Tim Media Satgas COVID-19 sempat mengalihkan wawancara kepada tim pakar medis Satgas. Hingga tulisan ini ditulis, belum ada perwakilan Satgas yang bisa diwawancarai.

Apabila ada yang ingin ditanyakan perihal COVID-19, silakan berkonsultasi langsung dengan dokter. Mau lebih mudah? Konsultasi lewat fitur Live Chat di aplikasi Klikdokter.

(JKT/AMR)

0 Komentar

Belum ada komentar