Sukses

Melihat Fenomena "Bang Jago" dari Kacamata Psikolog

Banyak orang yang merasa jadi bang jago. Mereka merasa paling jagoan di antara teman-teman sekitarnya. Apa kata psikolog mengenai fenomena ini? Cari tahu faktanya!

Frasa "bang jago" sedang tenar belakangan ini. Ungkapan tersebut umumnya dilontarkan untuk orang yang merasa paling jagoan atau superior di lingkungan tempatnya bergaul.

Sayangnya, orang-orang yang menganggap dirinya bang jago ternyata tidak ‘jago-jago’ amat. Dalam psikologi, hal tersebut bahkan dinilai sebagai sebuah masalah psikologis yang dikenal dengan istilah superiority complex.

1 dari 3 halaman

Penyebab Seseorang Merasa Paling Jagoan

"Superiority complex adalah ketika seorang individu merasa jauh lebih hebat atau lebih baik dari orang lain. Ia juga memandang rendah orang lain," Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog.

"Penyebab dari superiority complex itu banyak faktor. Salah satunya adalah karena sebenarnya dia memiliki kecemasan atas dirinya sendiri, yang membuatnya mengubur rasa inferiornya," tegasnya.

Jadi, orang dengan superiority complex akhirnya menutup-nutupi kekurangan dengan menunjukkan kepada semua orang seolah-olah dia adalah yang paling luar biasa. Salah satu metodenya adalah dengan merendahkan orang lain.

Artikel Lainnya: Perilaku Anak Jago Kandang, Apa Termasuk Gangguan Kepribadian?

"Selain itu, hal ini bisa juga untuk menutupi kegagalan demi kegagalan yang pernah terjadi. Orang ini (bang jago) khawatir akan dipandang negatif apabila jika orang lain tahu kegagalannya. Jadi, akarnya adalah rasa cemas," ujar Ikhsan.

"Superiority complex juga bisa dipicu oleh perasaan takut akan tidak dihargai oleh orang lain, dan adanya keinginan untuk mendominasi orang lain," sambungnya.

2 dari 3 halaman

 Akibat Terlalu Sering Merasa Paling Jagoan

 

Orang dengan superiority complex memang cenderung tidak memberikan ancaman secara fisik. Akan tetapi, kebohongan dan pernyataan yang tidak melulu tepat darinya bisa membuat orang lain kesal sehingga berdampak negatif pada hubungan sosial.

Berdasarkan Ikhsan, superiority complex juga bisa menjadi awal dari munculnya konflik dalam relasi sosial. Kondisi ini terjadi karena orang tersebut terus-menerus merendahkan orang lain dan meninggikan dirinya sendiri.

Artikel Lainnya: Ngaku Jago di Ranjang, Ini Tanda Pria Bohong soal Pengalaman Seksnya

Selain itu, orang yang terus-menerus berlagak paling jago juga cenderung punya rasa peduli yang rendah. Mereka pun tidak bisa memahami diri sendiri sepenuhnya. Cepat atau lambat, hal-hal seperti ini bisa membuat orang tersebut tidak dihormati maupun dihargai oleh orang lain dalam lingkup sosialnya.

Atas dasar itu, jika Anda menemukan seorang rekan yang terus-menerus merasa paling jagoan, sebaiknya rangkul dirinya dan ajak berobat ke psikolog. Hal ini bertujuan agar orang tersebut dapat mengetahui masalah psikologis terpendam yang dialami, sekaligus solusi paling tepat untuk mengatasinya.

Apabila Anda butuh bantuan lebih lanjut menghadapi orang yang selalu merasa paling jagoan, tak perlu ragu untuk konsultasi lebih lanjut kepada psikolog melalui LiveChat 24 jam atau dengan mengunduh aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar