Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Pasien Minta Diresepkan Antibiotik, Ini yang Akan Dokter Lakukan!

Pasien Minta Diresepkan Antibiotik, Ini yang Akan Dokter Lakukan!

Dokter akan meresepkan antibiotik jika penyakit Anda memang membutuhkan obat tersebut. Nah, kalau pasien sendiri yang “memaksa” untuk diresepkan, bagaimana, ya?

Antibiotik bukan obat yang asing lagi. Obat yang satu ini memang bisa mengobati banyak penyakit. Saking banyaknya, masyarakat awam kerap berpikir ini adalah “obat dewa”.

Tak sedikit juga yang berpikir bahwa belum afdol atau lengkap jika tak dapat antibiotik saat berobat ke dokter.

Lalu, bagaimana jadinya jika seseorang sampai memaksa dokter memberikan antibiotik? Apa bahayanya jika mengonsumsi antibiotik tanpa izin dokter?

1 dari 3 halaman

Ketidakpahaman Tentang Antibiotik Masih Terjadi

Ketika tidak diberikan antibiotik, ada juga yang secara mandiri “meminta” kepada dokternya untuk diresepkan.

Karena menurutnya, obat tersebut bisa bikin dia cepat sembuh. Padahal antibiotik sendiri bukan obat sembarangan! Hanya penyakit dengan kategori tertentu yang bisa diatasi oleh obat tersebut, yaitu infeksi bakteri.

Selain request sendiri, kadang masyarakat juga kerap memberhentikan pengonsumsian antibiotik meski belum habis diminum! Di balik kebiasaan itu, resistensi antibiotik mengintai.

Saat tubuh telanjur mengalami resistensi antibiotik, infeksi menjadi lebih susah diatasi karena bakteri sudah kebal! Akibatnya pun bisa fatal.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pernah melakukan survei kepada 10.000 responden beberapa tahun lalu. Hasilnya, 32 persen percaya bahwa minum antibiotik boleh dihentikan sendiri saat tubuh sudah lebih baik.

Sebanyak 64 persen responden juga percaya bahwa antibiotik dapat mengatasi batuk pilek karena virus flu meski nyatanya tidak.

Mereka pun pernah mendengar tentang resistensi antibiotik, tetapi tidak tahu apa yang memicunya dan apa dampaknya.

Artikel Lainnya: Perlukah Menghabiskan Antibiotik dari Resep Dokter?

2 dari 3 halaman

Dokter akan Lakukan Ini Jika Anda Meminta Antibiotik

Sementara itu, setelah dokter memeriksa kondisi fisik dan menentukan diagnosis, langkah selanjutnya yang akan dilakukan adalah meresepkan obat.

Apabila penyakit Anda disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter pasti akan melakukan penulisan resep antibiotik.

Antibiotik yang dimaksud tak melulu oral atau yang diminum.  Bisa juga berupa krim atau obat tetes jika masalahnya terletak di kulit atau mata.

Nah, kalau penyakitnya bukan karena infeksi bakteri, sudah pasti dokter tidak melakukan penulisan resep antibiotik! Untuk apa, kan, memberikan obat yang tidak tepat sasaran?

Apabila Anda tetap minta diresepkan obat tersebut, tiga hal inilah yang biasanya akan dilakukan oleh dokter:

  1. Mengedukasi Alasan Tidak Diberikannya Antibiotik

Menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, saat dinilai tidak perlu antibiotik berdasarkan penalaran klinis dari hasil anamnesis dan pemeriksaan, tentu dokter tidak akan meresepkan antibiotik meski pasien meminta dan memaksa.

“Karena, peran dokter adalah profesional medis yang memberi perawatan dan edukasi. Edukasi soal antibiotik ini wajib diberikan. Sebisa mungkin harus jelas dan lengkap agar pasien memiliki pemahaman yang baik tentang perawatan penyakitnya dan alasan kenapa kami tidak memberikan obat itu untuk penyakitnya,” jelas dr. Astrid.

Misalnya, jelaskan bahwa penyakit pasien disebabkan oleh virus dan tidak terlalu parah. Virus tidak bisa dibunuh oleh antibiotik.

Hal yang bisa dilakukan sekarang adalah meredakan gejalanya dengan beberapa obat yang diresepkan, perubahan pola hidup, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Mungkin untuk kasus ini, peran suplemen jauh lebih penting daripada antibiotik.

Artikel Lainnya: Ini Alasan Mengapa Anda Tidak Boleh Berbagi Antibiotik

  1. Memberitahu soal Efek Sampingnya Jika Dibeli dan Dikonsumsi Sendiri

Setelah ditolak secara halus, ada juga pasien yang berniat untuk tetap membeli obat tersebut di luar klinik.

Dokter Astrid kembali menerangkan, “Ada berbagai risiko jika sembarangan mengonsumsi antibiotik. Karena tiap antibiotik juga mempunyai risiko efek samping yang berbeda-beda. Ada yang sebabkan mual, ada yang sebabkan gangguan pencernaan, ada yang tidak aman untuk kehamilan, dan lain-lain.”

Sekali lagi, penggunaan antibiotik yang tidak rasional bisa sebabkan resistensi antibiotik. Jadi, hindari mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dan dosis dari dokter.

Artikel Lainnya: Kapan Konsumsi Antibiotik Benar-Benar Dibutuhkan?

  1. Tidak Menanggung Efek yang Terjadi Jika Antibiotik Dibeli Mandiri

Efek samping dari antibiotik yang tidak diresepkan oleh dokter bukanlah menjadi tanggung jawab dari dokter yang sebelumnya Anda kunjungi.

“Bila sudah diedukasi sejelas mungkin tentang diagnosis, pengobatan, dan efek sampingnya, tapi tetap saja dilakukan, hal itu sudah di luar kuasa dokter yang merawat. Masyarakat harus paham bahwa antibiotik bukan obat yang bisa dibeli bebas karena memang ada alasannya,” tegas dr. Astrid.

Penggunaannya wajib di bawah pengawasan dokter karena ada jangka waktu yang harus dipenuhi dan adanya evaluasi pengobatan.

Lagi pula, ada berbagai jenis antibiotik yang ditujukan untuk bakteri dan penyakit yang berbeda-beda. Mengira-ngira pengobatan sama saja seperti mempertaruhkan kesehatan diri Anda sendiri.

Itulah hal utama yang dilakukan dokter jika pasien meminta diresepkan antibiotik meski sebenarnya tidak butuh. 

Untuk pertanyaan lain seputar antibiotik dan pengobatan, konsultasikan hal tersebut pada dokter kami lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

[OVI/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar